logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 15 Februari 2004  
Line

Zidane Pun Meminta Totti

Oleh: Amir Machmud NS

ZINEDINE Yazid Zidane telah menjadi seorang maharaja, tetapi toh ia tetap merasa harus memperkuat kerajaannya. Bagi Zidane, dengan para punggawa berkualitas ''dewa'', predikat Los Galacticos untuk Real Madrid akan bertambah sempurna jika seorang lagi ''pangeran'' didatangkan. Permintaan yang tidak tanggung-tanggung, karena sang pangeran itu adalah Francesco Totti.

Padahal seperti Zizou, Totti juga telah membentuk citra kemaharajaan sendiri bersama AS Roma. Sama seperti David Beckham yang bahkan ''menaklukkan'' negeri-negeri Asia Timur, juga Ronaldo Luiz Nazario yang menguasai galaksi Barcelona, lalu Inter Milan. Dan, itulah yang terjadi: Madrid menjadi sebuah galaksi bertabur raja. Dari Luis Figo, Raul Gonzales, hingga Cambiasso.

Obsesi Zidane mengumpulkan para raja dalam sebuah ''federasi bernama Real Madrid'' ini bisa jadi adalah awal dari sebuah provokasi untuk menggoda ''iman'' Totti. Mirip dengan ketika Roberto Carlos merengek kepada Presiden Florentino Sanz untuk mendatangkan Ronaldo. Juga bagaimana Carlos memainkan peran serupa untuk menjaring Beckham dari Manchester United.

Wacana penggiringan Totti ke Madrid sudah lama bergulir, namun yang lebih bergema justru manajemen El Real kesengsem kepada Thiery Henry dan Ruud van Nistelrooy. Ketika Zidane menggambarkan perspeksi seorang Totti yang hebat bergabung ke Madrid, apakah ini sinyal yang mewartakan awal dari sebuah operasi pemboyongan?

Operasi ala Madrid inilah yang dikritik keras oleh pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Intinya, kalau mereka memang mengingini Henry, mengapa pertama-tama menghubungi media, dan bukan sebagai bisnis klub ke klub? Ya, dari kepentingan internal klub, proses semacam ini memang berpotensi mengganggu konsentrasi pemain.

* * *

MEMANG menarik membayangkan bagaimana konstruksi tim Real Madrid jika semua bakat sempurna berhasil dikumpulkan. Tetapi yang lebih menarik justru mengamati pengaruh para pemain dalam menggoda manajemen dan menggoyang "iman" pemain lain untuk bergabung.

Dalam kasus transfer Ronaldo, kepentingan mempertajam lini depan bersimbiosis dengan kebutuhan publisitas Madrid sebagai kolektor puncak-puncak bakat. Sudah ada Raul dan Fernando Morientes, tetapi dengan mendatangkan The Phenomenon, citra klub jelas bertambah mengkilap. Dari sisi proses, peran Roberto Carlos tak bisa dianggap kecil. Dialah yang beberapa kali mengawali proses transfer Ronaldo melalui statemen-statemen provokatifnya, dan itu tentu merupakan bagian grand strategy pemboyongan yang dirancang manajemen Madrid.

Diyakini, pada Piala Dunia 2002 proses itu sudah bergerak lewat pembicaraan intensif antara Carlos dan Ronaldo. Langkah bisnis lewat agen dan manajemen Madrid dan Inter Milan bisa jadi tinggal formalitas. Padahal yang mencuat ketika itu, seakan-akan Carloslah yang membujuk-bujuk Ronaldo untuk berganti baju Madrid.

Proses yang hampir sama menyentuh kepindahan Beckham, walaupun latar belakang konfliktif lebih mengemuka. Boyongan itu didahului telenovela perseteruan antara Beckham dengan Alex Ferguson, yang secara cerdik bahkan ''dimanfaatkan'' Joan Laporta untuk meraih kursi kepresidenan Barcelona, seakan-akan terjadi pertarungan segitiga: MU - Madrid - Barca.

Roberto Carlos kembali menjadi bagian dari operasi bisnis Real Madrid. Bersama Direktur Olah Raga Real Madrid Jorge Valdano, beberapa kali Carlos meluncurkan perspeksi kehebatan skematis permainan tim jika Beckham bergabung. Padahal skenario pengembangan kerajaan bisnislah yang sebenarnya terjadi. Madrid ingin mengekspansi pasar MU di Asia Timur, karena di kawasan itulah figur Beckham dengan segala pernik merchandise-nya laris manis.

Kendati akhirnya Beckham menjadi bagian penting kebutuhan teknis tim Madrid sekarang, semua tahu yang jauh lebih penting adalah target bisnis global Florentino Perez, seperti yang dilakukan MU terhadap Dong Fengzhou, Reggina dengan Nakamura, Sampdoria lewat Yanagisawa, Everton yang mengambil Li Tie, Manchester City dengan Sun Jihai, dan seterusnya.

Lewat suara Zidane, ''operasi intelijen'' terhadap Francesco Totti kini dapat diduga sedang digalang oleh ''tim Valdano''. Apalagi AS Roma sedang dililit persoalan keuangan. Dengan terang-terangan membandingkan ''Totti lebih penting dari Henry'', tidakkah itu isyarat Los Galacticos betul-betul meminati Il Principe?

Bedanya, Totti bisa dipastikan bakal memberi pengaruh besar bagi permainan Madrid. Dengan Zidane, Beckham, dan Figo saja El Real sudah menjadi tim super, apalagi ditambah Totti yang kini diakui sebagai ''raja'' di Italia. Madrid seakan-akan berniat menyedot seluruh yang terbaik di muka bumi.

Pamor bisnis dan teknis Madrid bakal terdongkrak hebat. Seperti Zidane, Totti adalah pemain yang komplet, dengan leadership yang menonjol. Kapasitas teknisnya didukung visi kuat. Dia juga ahli mengalgojo bola-bola mati. Totti mampu menghukum gawang lawan dengan presisi tendangan yang tidak terduga, melalui eksplosivitas gerakan-gerakan sihir luar biasa.

Kalau Zidane sampai ''merengek'' meminta Totti didatangkan ke Santiago Barnebau, apakah memang peran vital sang Pangeran Roma sudah diskenariokan? Barang tentu ini hanya pengandaian. Operasi tampaknya baru dimulai, dan Zidane sedang memainkan peran sebagai ''duta'' klubnya.

Kuncinya: apakah dedikasi Totti terhadap AS Roma sulit tergoyahkan oleh impian bermain dalam galaksi sehebat Madrid? Atau diam-diam malah sudah ada ''komunikasi'' antara Zidane dengan Totti?

- Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka (77)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA