| Berita Utama | Minggu, 15 Februari 2004 |
Perjuangan Mencari Istri Gadis YamanTakut "Barang" Tak Sesuai, Bikin Perjanjian
KALAU ingin mencari istri, harus gadis Yaman. Itulah mungkin yang menjadi obsesi Al Mahdi Akbar (24). Mahdi adalah salah satu tenaga musiman (temus) pada musim haji 2004 ini. Dia lulusan S1 di Al Ahqaff University Yaman pada Fakultas Syariah. Kini dia akan mengambil studi lanjutan di universitas yang sama. Mungkin yang menarik darinya bukan sekadar niatnya untuk terus belajar, namun juga tekadnya untuk bisa menyunting gadis Yaman. Dia harus melewati banyak kesulitan dan persoalan untuk mewujudkan keinginannya. Sebelum belajar ke Yaman, sebenarnya dia pernah nyantri selama dua tahun di Madinah. Di sini dia punya teman baik bernama Adnan Balfaqih, pria asli Yaman. Saat di Madinah inilah sudah timbul niat hati ingin kawin dengan orang Arab. Namun, Mahdi terbentur persoalan berat, yakni mahar yang besar, 200.000 riyal (1 riyal = Rp 2.300). Yang tak mungkin lagi, ada peraturan wanita Arab tak boleh menikah dengan pria bukan Arab. Temannya tadi kemudian bertanya, mengapa Mahdi tidak mencari gadis Yaman saja. ''Wajah gadis Yaman nggak kalah cantik lho,'' kata Adnan. Mahdi menjawab, ''Insya Allah jika ditakdirkan ke Yaman akan melaksanakan niat itu.'' Pada akhir pendidikan santri, mereka berpisah. Adnan ke Yaman, Mahdi pulang ke Indonesia. Dia menyimpan baik-baik alamat dan nomor telepon temannya itu. Mahdi melanjutkan sekolah aliyah tiga tahun di Al Hikmah, Lampung. Di lingkungan keluarga, obsesinya ingin meminang gadis Yaman sudah jadi perbincangan. Pada Oktober 1999, impian ingin ke negara tersebut menjadi kenyataan. Ponpes Darul Lughoh Wadaqwah Bangil, Pasuruan, mengirimnya untuk mengambil S1 di Al Ahqaff University, Yaman.
Begitu tiba di Yaman dia menelepon dan main ke rumah Adnan, sambil menagih janji untuk dicarikan kenalan gadis Yaman. ''Lho kamu beneran to, mau kawin sama gadis Yaman? Saya pikir dulu itu main-main. Mau cari sekarang?'' kata Adnan. ''Jangan sekarang, nanti saja pada akhir semester,'' jawab Mahdi. Tidak Sembarangan Ketika saatnya mencari, bukan main kesulitan yang dihadapinya. Ada beberapa kendala, yakni tidak bisa sembarangan meminang gadis di negara-negara Timur Tengah. Selain itu, orang tua di sana juga takut kalau-kalau anaknya dibawa ke Indonesia. ''Yang paling merepotkan buat saya, tak boleh melihat fotonya. Ini kan kayak beli kucing dalam karung,'' ujar Mahdi. Adnan mencarikan jodoh Mahdi ke sejumlah keluarga. Pinangan dilayangkan sampai tujuh kali ke tujuh keluarga. Ada yang tegas-tegas menolak, namun ada juga yang memperbolehkannya datang ke rumah. Namun, ya itu tadi, tidak boleh melihat si gadis, bahkan sekadar fotonya. Namun, setiap kegagalan itu justru oleh Mahdi selalu disyukuri. ''Berarti Allah memang belum memberikan gadis-gadis yang saya pinang itu sebagai jodoh saya,'' tuturnya. Akhirnya dia dikenalkan oleh Adnan pada seorang syeikh yang bisa membantu mencarikan istri gadis cantik dari Yaman. Rupanya sebelum mulai mencari, si syeikh ini mencari informasi tentang Mahdi dari beberapa syeikh yang mengenalnya. Setelah yakin anak yang akan dibantunya bertabiat baik, syeikh ini menghubungi beberapa keluarga yang punya anak gadis. Dia akhirnya mendapatkannya pada keluarga Attamimi, yang merupakan kabillah terbesar di Yaman Selatan. Mahdi kemudian dimintai foto dan fotokopi paspor. ''Tak disangka-sangka, beberapa hari kemudian calon mertua saya itu datang ke asrama kampus,'' kata Mahdi. Dia juga cukup terkejut ketika mengetahui usia camernya masih muda, baru 39 tahun. Mahdi kemudian diajak ke rumah nenek si gadis. Ketika si nenek keluar ruang tamu, dia berujar, ''Ini to yang mau kawin sama cucuku.'' Mahdi terkejut, karena kalimat itu diucapkan dalam bahasa Indonesia. Rupanya waktu kecil sang nenek pernah tinggal di Pontianak. Dia kemudian berpesan kepada Mahdi supaya sayang pada cucunya. ''Anak ini masih umur 15 tahun. Jadi, jangan kamu kasari ya,'' katanya. Si nenek kemudian menetapkan mahar pada Mahdi 400.000 riyal (tahun 2003 setara dengan 2.200 dolar AS),melalui syeikh yang mengantar. Mahdi menawar dan akhirnya disepakati mahar 250.000 riyal. Dia kemudian ngutang ke teman-temannya dan terkumpul 40.000 riyal yang dipakainya untuk mengikat calon istrinya. Keinginannya untuk melihat foto calon mempelai tak dikabulkan oleh camernya. Takut "barang" tak sesuai dengan keinginan, Mahdi lalu meminta camer untuk menandatangani surat perjanjian. Syarat Perjanjian Syarat-syarat dalam perjanjian itu Mahdi yang membuatnya. Pertama, si gadis harus putih. Kedua, umur harus dibuktikan memang 15 tahun. Ketiga, badan sedang atau tidak gemuk. Ketika membaca syarat ketiga ini, si calon mertua tertawa geli. ''Mahdi, Mahdi, baru kali ini saya melihat orang mau kawin pakai surat semacam ini,'' ucapnya. Keempat, si gadis tidak cacat. Kini, giliran keluarga gadis itu, yang mendengar pembacaan surat, ikut tertawa. Untung bagi Mahdi, dia memperoleh mertua yang cukup moderat. Ketika tahu mahar yang diberikan sedikit, para tetangga si gadis sebenarnya protes, tetapi calon ayah mertuanya itu membela Mahdi. Mahdi mengontak orang tuanya bahwa dia akan menikah. Bapaknya setuju, ibunya agak keberatan karena rumah besannya jauh. Tetapi akhirnya mereka setuju untuk berkunjung. Maka, tanggal 7 Mei 2003 Mahdimelangsungkan pernikahan dan pesta rebana dilaksanakan semalam suntuk di rumah paman si gadis. Besoknya, Mahdi diantar ayah mertuanya ke kamar si gadis. ''Sekarang waktunya Mahdi,'' kata si mertua. Dia agak deg-degan juga. Namun, ketika akhirnya memandang Mimi, istrinya itu, hatinya menjadi lega. ''Ternyata syarat yang saya minta masuk semua,'' tuturnya sambil terkekeh. Terus bagaimana malam pertamanya? ''Ha ha ha, Mas ini yang ditanya kok itu. Saya dan istri saya sama-sama bingung. Nggak pernah ketemu, nggak pernah kenal. Jadi, kami sama-sama canggung.'' ''Malam pertama saya tidak dapat apa-apa. Semalaman kami hanya ngobrol sampai pagi untuk saling mengenal,'' tuturnya. Kayak apa sih wajah istrimu? ''Wah, maaf saya tak bisa memberikan fotonya kepada Mas.''(Bagas Pratomo, dari Madinah-74k) | |||||