logo SUARA MERDEKA
Line
 Berita Utama Minggu, 15 Februari 2004  
Line

Sultan Takkan Kampanye untuk Partai Golkar

YOGYAKARTA - Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X Sabtu kemarin menyatakan tak akan berkampanye untuk Partai Golkar pada Pemilu 2004 ini. Pernyataannya itu disampaikan setelah dia menyatakan mundur dari konvensi calon presiden dari Partai Golkar.

''Konsekuensi mundur dari konvensi, saya juga tidak akan berkampanye. Saya akan berdiri di semua golongan,'' kata Sri Sultan menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela mengikuti Dialog Nasional Jatidiri Bangsa, di Yogyakarta, Sabtu (14/2) kemarin.

Namun sebagai Gubernur DIY, dia tetap akan melakukan kewajiban sebagai orang nomor satu di daerah itu, agar pemilu mendatang berjalan lancar dan aman.

Pihaknya berharap semua partai peserta pemilu tidak melakukan pemaksaan terhadap masyarakat untuk memilih satu partai tertentu.

Sultan mundur dari konvensi sebagai bentuk kekecewaannya atas terkabulkannya kasasi Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Golkar, oleh Mahkamah Agung (MA) dalam perkara dana nonbujeter Bulog.

Ketika ditanya mengenai alasan lebih jauh atas pernyataan mundurnya sebagai peserta konvensi, Sultan tidak mau menjelaskan. ''Nanti kalau saya jelaskan secara teperinci, banyak orang sakit. Untuk itu, silakan tafsirkan sendiri-sendiri saja,'' ujar Sultan.

Reformasi

Di hadapan peserta dialog, Sultan mengatakan, reformasi yang diperjuangkan selama ini ternyata telah dikhianati. Menurut orang nomor satu di Keraton Ngayogyakarta itu, reformasi telah dikhianati oleh mereka yang enggan memaknai perubahan, selain giliran untuk berkuasa dan memperkaya diri.

Reformasi telah tercerabut dari akar hakikinya, yaitu komitmen terhadap perubahan dan perbaikan, digantikan oleh ketidakpastian yang sengaja diciptakan oleh mereka yang mendapat keuntungan dari ketidakpastian itu.

Pada bagian lain dia mengemukakan, bangsa ini sedang berada di simpang sejarah dengan segala kegamangan menghadapi ketidakpastian. Ada begitu banyak ketidakpastian hukum, meski hukum itu telah ditaruh di meja Mahkamah Agung dan ditangani para hakim agung.

Ada ketidakpastian di jalan raya, tempat orang boleh main serobot, boleh main klakson kapan saja, dan boleh berhenti di mana saja. Jadi, ketidakpastian itu bisa melanda mulai dari tingkat wacana, sampai ke tingkat paling fisik, paling nyata.

Tak Pengaruhi

Pengunduran diri Sri Sultan Hamengku Bowono X dari konvensi Partai Golkar tidak memengaruhi kandidat lain. Aburizal Bakrie dan Surya Paloh menyatakan tetap maju berkompetisi dengan calon lain.

Mereka pun mengaku tak pernah mendapat tekanan dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung.

''Saya akan tetap maju dan optimistis konvensi berjalan secara adil," kata Ical, panggilan Aburizal, di Festival Rasuna, Kuningan Jakarta, Sabtu kemarin.

Pengusaha yang juga Ketua Kadin itu malah yakin konvensi akan berlangsung secara sehat. Kendati, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung diputus bebas karena kasasinya diterima Mahkamah Agung (MA).

Dia menyayangkan pengunduran diri Sri Sultan dari konvensi. '' Sayang sekali Sultan mundur. Namun itu hak beliau,'' ujar dia.

Dia mengakui pengunduran diri Sultan pasti mengurangi bobot konvensi. Karena, tujuh calon presiden berkurang dan kini tinggal enam.

Keenam calon yang tersisa dan masih berniat ikut konvensi adalah Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Surya Paloh, dan Wiranto.

Menanggapi soal keputusan MA atas kasasi Akbar dalam kasus korupsi dana nonbujeter Bulog, Ical menyatakan keputusan itu harus dihormati semua pihak. Sebab, keputusan telah diambil oleh lembaga hukum tertinggi di Indonesia. (sgt,di-29k,g)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA