logo SUARA MERDEKA
Line
 Berita Utama Minggu, 15 Februari 2004  
Line

Basis Massa NU dan PDI-P Sama

MALANG-Kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke Pesantren Al Hikam menimbulkan silang pendapat soal kepentingan silaturahmi antara Presiden dan kalangan kiai. Ada yang memprediksi itu sebagai satu langkah awal ikatan antara PDI-P dan NU. Apalagi Megawati diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Terlepas dari kenyataan bahwa Hasyim adalah pengasuh pesantren itu.

Sebenarnya acara itu kunjungan rutin Presiden ke berbagai pesantren. Namun ada beberapa yang menarik. Pertama, kata Ketua Umum PBNU, dalam pertemuan dengan ulama Presiden mengajak untuk menyukseskan pemilu.

"Alasannya, kalau pemilu tidak sukses akan membawa bangsa ini ke posisi lebih berat daripada sekarang. Dan mengenai hal itu sudah ada kesepakatan antara Presiden dan alim ulama," kata dia, seusai kunjungan Megawati ke pesantrennya.

Kedua, NU dan PDI-P mempunyai basis massa yang sama. Yakni, masyarakat kecil, lemah, belum terdidik, dan sumber daya sangat terbatas. Karena itu harus ada kegiatan bersama untuk menyapa rakyat kecil.

"Selama ini rakyat kecil hanya menjadi alat dukungan, bukan sasaran pembinaan. NU bersedia menjadi alat penyapaan rakyat kecil," ujar Hasyim.

Karena NU dan PDI-P berbasis massa akar rumput, kata dia, hendaknya ada program yang benar-benar menyentuh kepentingan rakyat di bawah.

"Betapa kita melihat ada banjir, tidak ada yang meninjau. Ada kebakaran, tidak ada yang menyapa. Ada tanah longsor, satu pun dari pembesar tidak ada yang menengok, apalagi memberi sesuatu. Kalaupun ada mungkin dari pemerintah daerah karena melihat sendiri."

Dia menyatakan karena masalah bencana alam dan bencana manusia selalu bergulir, persoalan itu harus diprogramkan. Ketiga, NU bukanlah organisasi yang akan membicarakan partai satu per satu karena partai sudah diurus oleh pengurusnya.

Namun NU akan melihat kepentingan masyarakat secara utuh berdasar wawasan keagamaan yang dipersatukan dengan wawasan kebangsaan. Dengan harapan, pemerintah segera mengambil langkah-langkah penting.

Apakah pertemuan itu merupakan koalisi awal antara kaum nasionalis dan agama? Hasyim menjawab, nuansa politis yang dimaksud adalah pemilu harus sukses. Kalau ada kekhawatiran pemilu tidak sukses, tidak usah dipikirkan tetapi bisa langsung diambil tindakan agar sukses. Itu yang berkait dengan pemilu.

"Namun jangan artikan bahwa NU menyokong pencoblosan PDI-P atau sebaliknya," ujar dia.

Tentang hubungan nasional dan religius, kata dia, masih berupa wacana. Lamaran bersifat konkret berupa pemberian jabatan dan sebagainya tidak ada. Yang ada adalah kesepahaman bersama bahwa tanpa pilar agama yang nasionalis dan nasionalis yang mengerti agama, kekuatan itu lumpuh bersama-sama.

Harapan terakhir adalah kepada partai-partai. Bagaimana partai makin sehat dan berkualitas karena reformasi berhasil atau tidak tergantung pada partai.

Partai sudah mengambil alih kekuasan yang berasal dari militer birokrasi dengan kaki Golkar. Sekarang bergeser dari kaki demokratis birokrasi ke demokrasi kerakyatan. Titik simpulnya ada pada partai-parrtai. Maka kekuasan tumbuh dari partai.

Dalam pertemuan itu mereka tidak membahas soal calon presiden dan wakil presiden. Jadi hubungan nasionalis agama yang dikonotasikan PDI-P dan NU di tingkat koalisi kemasyarakatan, bukan bagi-bagi jabatan. Jadi tidak ada tawaran untuk menjadi wakil presiden atau yang lain. (Jo-78g)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA