| Berita Utama | Minggu, 15 Februari 2004 |
Mega Bertemu Hasyim Muzadi
MALANG- Presiden Megawati Soekarnoputri, kemarin siang (14/2), untuk kali keempat datang ke kediaman KH Hasyim Muzadi. Dia datang ke sana baik semasa menjadi Ketua Umum PDI-P, wakil presiden, dan saat menjabat presiden saat ini. Mega datang mengenakan busana muslimah ungu muda dan kerudung putih. Begitu turun dari mobil bernomor Indonesia-1 tepat di dekat rumah Hasyim, dia disambut tuan rumah yang didampingi Achmad Bakdja, KH Su'aidi (pengasuh Pesantren Ketapang Kepanjen) dan Rozi Munir. Di dalam rumah sudah menunggu sekitar 40 kiai sepuh. Setelah pertemuan tertutup sekitar 25 menit, Megawati melanjutkan pertemuan empat mata di tempat yang sama dengan Hasyim Muzadi. Pertemuan ini, hampir 30 menit. Sementara itu dalam acara silaturahmi dengan alim ulama se-Jatim di Ponpes Al Hikam Malang (diasuh KH Hasyim Muzadi), Presiden Megawati menyatakan hingga menjelang dilaksanakannya pesta demokrasi atau Pemilu 2004, masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penyelenggaraannya, namun setahap demi setahap sudah dilakukan perbaikan.
"Sekarang memang masih banyak yang menilai bahkan meributkan masalah-masalah teknis pelaksanaannya, namun sebenarnya itu bukan substansinya. Kita sudah mulai melakukan perbaikan yang diperdebatkan itu seperti pembuatan Tempat Pemungutan Suara (TPS)," katanya. Dikatakan, bagaimana pun Pemilu 2004 harus tetap dilaksanakan, bukan karena ingin memenangkannya, tetapi pelaksanaan pemilu adalah mandat dan amanat UU yang harus dilaksanakan oleh kepala negara. Kalau ditata dengan baik dan dilakukan dengan baik pula, katanya, pasti tidak akan repot. "Dulu pada tahun 1955 yang kondisinya seperti itu bahkan tahun 1997 dan 1999 ketika negara sedang dilanda krisis, ternyata pemilu bisa dilaksanakan, tetapi kenapa sekarang diributkan. Saya pikir kondisi sekarang lebih baik, maka penyelenggaraan tahun ini juga harus lebih baik dan pasti terlaksana," katanya.
Akan tetapi, lanjutnya, akibat dari adanya amandemen UU 1945, maka Pemilu 2004 ada dua tahapan dalam pemilihan presiden, baru pemilihan legislatif. Namun, bagaimanapun juga Pemilu 2004 tak bisa ditunda, karena nanti akan membuat kegoncangan dan pemilu lima tahunan sesudahnya itu juga akan terganggu. "Kuncinya adalah kepercayaan, tidak perlu diributkan, sebab kalau terus-menerus goyang, kapal bangsa kita akan terus oleng dan guncang tidak ada tenangnya. Oleh karena itu kita harus bersatu dan saling percaya agar pemilu mendatang bisa terlaksana dan tidak ada ganjalan apa pun," ujarnya. Megawati juga mengatakan, jika disatupadukan semangat dan kristalisasi pikiran yang ada seperti pada waktu pembuatan konstitusi yang dilakukan bapak bangsa, harus ada landasan agar bangsa dan negara ini bisa jalan dan terbentuk. Presiden, yang berpidato tanpa teks, menilai kekurangan bangsa ini adalah tidak mampu merekatkan diri satu dengan yang lain serta tidak mampu menggalang persatuan dan kesatuan. "Inilah yang melatarbelakangi mengapa ide Ketua Umum PBNU untuk mengadakan konferensi dengan mendatangkan tokoh-tokoh Islam sedunia langsung saya dukung," kata Mega, yang menekankan betapa penting kesolidan dan kekompakan. Pertemuan Presiden Megawati di Pesantren Al Hikam Malang dengan kalangan alim ulama se-Jawa Timur cukup menarik. Bahkan KH Hasyim Muzadi menyebutkan itu cermin Indonesia mini karena dihadiri sekjen empat partai besar di Tanah Air. Apalagi dalam rombongan Presiden ada Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah, dan Menteri Agama.(Jo-78g) |