logo SUARA MERDEKA
Line
 Bincang Bincang Minggu, 15 Februari 2004  
Line

Pejuang Kesetaraan Gender

SEMBILAN BELAS tahun menjalani profesi sebagai wartawan di media massa terkemuka meninggalkan bekas yang sangat sulit dilepaskan oleh Debra Yatim. Debra yang mantan wartawati Media Indonesia dan The Jakarta Post kadang-kadang masih sering membawa alat-alat penting yang menyertai wartawan bertugas di setiap kesempatan. ''Sampai -sampai saya selalu membawa note book, pulpen, dan tape recorder saat pergi ke resepi pernikahan, misalnya. Di sela-sela acara itu ya saya keluarkan note book lalu tangan saya menulis ini dan itu,'' kata wanita keturunan Aceh kelahiran Jakarta 6 November 1954 tersebut.

Hal itu, lanjut Debra, berlangung sampai tujuh tahun. Setelah tujuh tahun tak jadi wartawan barulah dia bi-sa meninggalkan kebiasan ''baik'' itu.

Saat ditanya kapan dan mengapa Debra meninggalkan profesi sebagai wartawan, ibu Diatra Zulaika tersebut mengatakan, dia berhenti pada 1992 karena berbeda pendapat dengan atasan. Dia enggan mengatakan alasannya. ''Waktu itu saya satu-satunya perempuan redaktur di media tempat saya bekerja,'' katanya.

Menurut pendapat dia, dalam dunia pers, wartawati berada dalam posisi minoritas. Karena itu dia harus aktif memperjuangkan hak-haknya. Misalnya hak untuk mendapatkan lingkungan kerja yang sehat. Dia memberi contoh, dari 86 orang yang berada di suatu lokasi kerja -dalam hal ini kantor surat kabar- hanya ada lima wartawati. Ternyata sebagian besar wartawan adalah perokok. Karena itu, harus dipikirkan bagaimana cara lima perempuan ini tidak kehilngan udara segar.

''Maka perempuan harus berani menyuarakan haknya. Kalau tidak pastilah wanita akan diposisikan sebagai pihak yang dikalahkan,'' kata pemilik kantor konsultan hubungan masyarakat KOMSENI yang berspesialisasi dalam kampanye publik dan pemasaran sosial untuk kebudayaan, gender, lingkungan dan demokrasi itu.

Begitu juga, misalnya, saat wartawati hamil, dia juga harus diperhatikan. ''Dan komputer kan mengeluarkan radiasi. Padahal perempuan membutuhkan tempat menyusui. Itu semua harulah diperjuangkan. Keindahan dan kesetaraan itu tidak akan datang dengan sendirinya di budaya kita yang patriarkis ini. Alhamdulillah semua permintaan saya saat bekerja yang seperti itu tadi, akhirnya dikabulkan,'' katanya.

Mengapa bergerak di LSM? Debra mengatakan, semua itu diawali dari pekerjaan dia sebagai wartawan. ''Saya sering mendapat tugas membuat tulian human interest. Itu membuat saya terlibat dengan kehidupan kaum marginal.''

Awal terlibat dalam gerakan indah di dunia LSM adalah saat dirinya membantu 10.000 jiwa warga Kampung Sawa yang tanahnya akan digusur untuk kepentingan pembangunan jalan tol Merak.

Lalu bersama aktivis wanita lain mendirikan Yayasan Kalyanamitra, sebuah pusat infromasi dan komunikasi untuk prempuan yang hingga kini masih eksis sebagai pembela utama kaum perempuan.

Selain sebagai aktivis LSM, mantan wartawati, Debra juga dikenal sebagai penulis fiksi andal. ''Saya pernah mendapat penghargaan dari Kompas untuk salah satu cerpen saya. Aduh judulnya lupa. Kalau tak salah Si

Patokan.''

Bekerja sama dengan lebih dari 50 organisasi Debra juga terlibat dalam kampanye perdamaian untuk perempuan Aceh. Selain itu dia juga aktif dalam kampanye untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan di media. Ini dilakukan bersama Project Office UNIFEM/UNFPA.

Debra juga pendiri, pengarah Yayasan Tifa. Yayasan ini dalah lembaga yang bertujuan memperkuat warga Indoensia. ''Ini sebagai jalan menuju demokrasi. Ketika Indonesia menghadapi banyak tantangan, demokrasinya harus kuat,'' jelas dia. (Hartono Harimurti-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA