| INDEKS BERITA HARI INI | Jumat, 13 Februari 2004 |
|
BPPN Tak Bertanggung Jawab atas Tuntutan Pasca-Surat Lunas
JAKARTA - BPPN tidak akan bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi setelah keluarnya Surat Keterangan Lunas kepada para pemegang saham bank bermasalah. Dalam perjanjian penyelesaian akhir atau closing agreement, debitor menjadi penjamin ganti rugi (indemnity) apabila ada tuntutan. |
51%Saham Bank BNI Lebih Baik Dibeli Bank Mandiri
JAKARTA - Rencana Bank Mandiri untuk membeli saham Bank BNI merupakan langkah tepat. Bukan hanya saham itu kembali dikuasai BUMN, namun beban pemerintah juga bisa berkurang sekaligus menerima dana segar untuk menambal defisit APBN 2004. |
|
|
Sebenarnya Masyarakat Punya Daya Beli
BANYAK kalangan memperkirakan bisnis elektronik tahun ini akan seret. Penyebabnya, masyarakat menahan diri sehubungan dengan serangkaian kegiatan pemilihan umum yang akan berlangsung hampir sepanjang tahun. |
60% Nasabah AJB Ambil Dana Pendidikan
PURWOKERTO- Pimpinan Cabang Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumi Putera Purwokerto Djauhari mengatakan, saat ini banyak orang tua ingin anaknya menyelesaikan pendidikan S1. "Itu menguntungkan bagi dunia asuransi," ujarnya. |
|
|
Nilai Penjualan Unilever Capai Rp 8,1 Triliun
JAKARTA- Nilai penjualan PT Unilever Indonesia tahun 2003 mencapai Rp 8,1 triliun naik dibanding tahun lalu Rp 7,2 triliun, atau naik 16%, akibat tingginya permintaan konsumen terhadap produk perusahaan itu. |
Bisnis Jasa Konstruksi Jateng 2004 Lesu
SEMARANG- Bisnis jasa konstruksi di Jateng selama tahun 2004 diprediksi bakal mengalami kelesuan. Sebab, alokasi proyek pemerintah di sektor konstruksi dari APBN atau APBD tahun 2004 yang dianggarkan telah diturunkan. |
|
|
Bapepam Terima Revisi Laporan Keuangan Telkom
JAKARTA - Bapepam telah menerima berkas laporan keuangan PT Telkom Tbk yang telah direvisi untuk periode 2002 dan akan melakukan penelaahan. Demikian dikatakan Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam, Noor Rachman, di Jakarta, kemarin. |
Kondisi Makroekonomi Awal Tahun 2004 Stabil
PERKEMBANGAN makroekonomi pada Januari lalu secara umum sejalan dengan perkiraan pada awal tahun. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh perkembangan inflasi yang tercatat masih rendah, nilai tukar rupiah yang relatif bergerak stabil, dan suku bunga yang cenderung menurun. |
|
|
Diparta Akan Kembangkan One Day Tour di Dati II
SEMARANG- Kepala Dinas Pariwisata Jateng Drs Agus Suryono MM mengatakan untuk mengembangkan industri pariwisata di Jateng, pihaknya akan melakukan langkah pendekatan secara persuasif kepada para stakeholder di setiap Daerah Tingkat II. |
Pemilu, Bisnis Ritel Tetap Cerah
SEMARANG - Meski banyak memperkirakan usaha ritel bisa terganggu oleh pelaksanaan Pemilu 2004, pelaku usaha sektor ini tetap optimistis bahwa ritel tetap prospektif pada tahun ini. |
|
|
Sukses Berwirausaha dengan Motto 10 K
SEMARANG - Menggeluti bidang wirausaha harus lebih mengutamakan ide, pencetusan, dan pikiran. Namun jika ingin cepat sukses, harus berupaya menerapkan moto 10 K, yaitu kerja keras, kesungguhan, kemandirian, kecepatan, ketelitian, kesederhanaan, keberanian, keahlian, kejujuran, dan kerendahan hati. |
Bisnis Restoran di Purwokerto Sudah Jenuh
PURWOKERTO - Menjamurnya rumah makan di Kota Purwokerto beberapa waktu terakhir membuat bisnis ini jenuh. Jumlah rumah makan yang ada sudah terlalu banyak sehingga persaingan menjadi semakin ketat. |
|
|
Klewer Sepi, Pedagang Kios Jadi ''Kelilingan"
KEGIATAN perekonomian di Pasar Klewer selama dua bulan terakhir ini sepi. Para pedagang mengaku, sepinya pasar kali ini benar-benar menurunkan omzet penjualan. ''Ya, meskipun tak ada pembeli ya, ditunggu. Habis bagaimana, sudah pekerjaannya. Nanti kalau kami tidak buka toko bisa dikira tutup terus oleh pelanggan,'' kata salah seorang pemilik kios. Pedagang lainnya mengaku, sepinya pasar kali ini paling parah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. |
Pemerintah Dinilai Lambat Membeli Gabah Petani
SEMARANG - Pemerintah dinilai lambat untuk mulai membeli gabah petani di beberapa daerah yang sudah mulai panen raya. Padahal, kebutuhan petani sudah meningkat sehingga mereka terpaksa menjual gabah dengan harga sangat rendah. ''Kejadian seperti ini dari tahun ke tahun terus berulang dan pemerintah tidak belajar dari pengalaman. Celakanya, setelah harga gabah jatuh, baru pemerintah mulai membeli dari petani,'' tutur Dosen Pertanian UKSW Salatiga Dr Sony Heru Priyanto kepada Suara Merdeka, kemarin. |
|