logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Kita Disuguhi Drama Manusia

- Tak pelak lagi, tahap demi tahap kasus Akbar Tandjung telah menjadi drama yang disajikan oleh media massa. Dari babak awal dicuatkannya skandal Bulog II hingga pembacaan putusan hakim agung Kamis kemarin, tercipta kisah yang penuh lika-liku, intrik, dan adu pernyataan. Semua menuju klimaks. Sebagaimana lazimnya, kasus-kasus besar yang menyangkut seorang tokoh juga memuat unsur-unsur magnetis. Dari nama tokoh yang tersangkut kasus korupsi tersebut, situasi psikologis keluarga, kesibukan orang-orang terdekat, kondisi di partai yang dipimpinnya, keterkaitan politik yang bercabang-cabang dengan parpol lain, dan berbagai kemungkinan antara kalau dia betul-betul dihukum atau akhirnya bebas. Ini memang kasus yang sarat drama dan implikasi.

- Unsur-unsur magnetis itulah yang dibidik media massa lewat berbagai angle pemberitaan. Kendati banyak kritik pers kita masih suka terpancang pada adagium bad news is good news, harus diakui sebagian besar pekerja pers kita tetap memiliki komitmen untuk menyajikan berita-berita dengan pesan yang lebih bermakna. Meminjam ungkapan sosiolog asal Kanada, Marshal McLuhan, the medium is the message, pemberitaan di seputar kasus Akbar Tandjung ini pun dapat dipotret dari sisi kandungan ''pesan''-nya. Media massa menampilkan pendapat-pendapat dengan variasi motivasi. Kalaupun ekspose drama itu bisa menyulitkan Mahkamah Agung, bukankah sejak awal kasus ini memuat dua implikasi politik yang sama-sama kuat mem-pressure?

- Memang terlalu dini menilai sejauh mana sikap media dalam menyajikan berita-berita di seputar kasus ini. Yang sangat terasa adalah upaya-upaya memberikan porsi cukup besar berupa apresiasi dan dukungan terhadap penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Tentu tanpa kehilangan kontrol keseimbangan dalam proporsi, memberikan tempat proporsional bagi yang pro dan yang kontra. Manusiawikah semua itu bagi si subjek dan si objek? Pertanyaan ini hanya terjawab oleh mekanisme proporsi, yakni lebih tidak manusiawi andaikata di tengah-tengah opini publik yang sedemikian rupa mewarnai wacana media, pers tidak mencoba untuk mengakomodasi apa yang sedang dirasakan, dihayati, dan yang ingin dinyatakan oleh Akbar Tandjung, keluarga, dan simpatisannya.

- Media cetak yang memiliki keterbatasan dalam liputan secara real time pun menyuguhkan berbagai kondisi psikologis dari semua yang terkait dengan kasus ini. Apalagi televisi. Kita menyaksikan yel-yel massa, antara yang meminta penolakan kasasi dan yang mendukung Akbar. Juga ditampilkan Akbar bersama keluarga dan simpatisannya dalam nuansa penuh ketegangan mengikuti berita televisi. Pada saat yang sama, layar televisi menyajikan dua peristiwa: pembacaan putusan kasasi dan situasi di kediaman Akbar. Media seperti menembus semua sekat, menampilkan drama dari detik ke detik, menit ke menit, yang tentu berpuncak pada ekspresi Akbar Tandjung dan keluarganya begitu mendengar langsung keputusan yang diikuti melalui siaran televisi.

- Klimaks Buloggate II ini hanya menjadi satu di antara banyak peristiwa yang oleh media dikemas menjadi drama manusia. Lompatan kemajuan teknologi informasi mampu mengelola peristiwa-peristiwa di berbagai bidang kehidupan mirip telenovela. Di sinilah pesan seperti yang digambarkan McLuhan itu bisa dikelola. Muatan pesan dengan dramatisasi suatu peristiwa, pada hakikatnya juga bergantung pada sejauh mana media membingkai penyajiannya. Frame ini akan menuntun pembaca, pendengar, atau pemirsa untuk menuju ke suatu arah (bentuk). Apakah kita akan berpihak kepada yang nyata-nyata dianggap bersalah? Apakah akan memihak pada kebenaran dan suara publik? Pilihan ini sudah barang tentu melibatkan keputusan-keputusan etis dan visi yang kuat.

- Pesan lain yang tak kalah penting dari dramatisasi peristiwa ini adalah, pejabat publik tidak lagi bisa bermain-main dengan keinginan dan keputusan-keputusan yang mengabaikan nilai etis, moral, dan hukum. Walaupun tidak seharusnya keberpihakan kepada nurani hanya karena didorong ketakutan kepada pengawasan publik melalui sorotan media, namun sinilah justru pers berpeluang mengoptimalkan peranan. Namun, dari perspektif pemberitaan, tetap saja dibutuhkan kearifan. Mem-blow up drama manusia harus tetap memaksimalkan upaya untuk memanusiakan subjek-subjek dan objek beritanya. Yakni dengan keberimbangan, proporsi, dan visi penyampaian pesan. Jika mampu menyentuh aras kearifan, barulah dramatisasi itu punya makna.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA