logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Dampak Banjir Bandang Kali Kuto (2-Habis)

Melawan Ganasnya Ombak selama 7 Jam

BANJIR bandang Kali Kuto tidak hanya menimbulkan kerugian materi relatif besar bagi puluhan nelayan di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kendal. Meski telah berlalu, hingga kemarin beberapa dari mereka mengaku masih trauma .

Ingatan saat terhanyut dan terseret derasnya arus sungai, bersama perahu miliknya masih melekat di pikiran mereka. Saat itu, yang terbayang di benak mereka selain berjuang menyelamatkan jiwa, juga harus berpikir dan berupaya menyelamatkan perahu, harta berharga yang selama ini menjadi sarana mencari penghidupan.

"Arus Kali Kuto, saat banjir bandang sangat deras. Saya berada di atas perahu, sebelumnya berniat menyelamatkan barang-barang berharga, seperti lampu minyak dan mesin disel. Hanya, upaya itu terlambat karena baru saja memindahkan lampu petromaks ke atas gardu yang berada di samping perahu, banjir besar mendadak muncul," kata Karimanto (41), kemarin.

Nelayan asal Dukuh Kumpulsari RT 4 RW 4, Desa Gempolsewu tersebut menambahkan arus deras banjir bandang dalam waktu sekejap menyeret perahu miliknya ke arah muara. "Bersamaan putusnya tali tambatan, dua perahu milik saya yang saling bergandengan, serta dua perahu kecil milik nelayan lain langsung terseret arus . Putusnya tali tambatan semata-mata bukan karena tak kuat menahan beban empat perahu, namun lebih diakibatkan karena tertimpa puluhan perahu lainnya dari arah hilir yang terseret arus lebih dulu."

Sebenarnya, di perahunya ada empat orang, termasuk Karimanto. Tiga lainnya adalah nahkoda dan anaknya, serta awak perahu. Namun ketiga orang tersebut berhasil menyelamatkan diri.

Mengapung di Laut

"Tinggal saya seorang diri yang berada di atas perahu yang melaju amat cepat. Dalam waktu singkat, perahu yang saya tumpangi, dengan gandengan tiga perahu lain tiba di muara sungai. Perahu yang saya tumpangi terbalik dan pecah. Ini memaksa saya berpindah ke perahu yang satu lagi. Namun perahu itu juga terbalik, sedangkan dua perahu kecil lainnya terseret arus," tutur suami Ny Suniti itu.

Ayah dua anak itu berhasil merengkuh pelampung dari ban. "Delapan kali saya terlepas dari ban pelampung. Saya pasrah. "

Kali pertama, terseret arus pukul 19.00, dan baru mencapai daratan di Dukuh Sigegang, Desa Sendang Sikucing pukul 02.30 dinihari. Selama tujuh jam lebih saya mengapung di laut. Jarak antara lokasi hanyut dan Dukuh Sigegang sekitar tujuh kilometer."

Meski berhasil menyelamatkan diri, namun dua perahu miliknya hilang. (Setyo Sri Mardiko-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA