
| Jumat, 13 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Wahyu Muhtarom Kini Tidak Takut LagiKEGEMBIRAAN dan rasa haru bercampur satu di benak pasangan Mustari (70) dan Rukini (45), saat mereka bertemu kembali dengan anak kesayangannya, Wahyu Muhtarom (8) yang hilang diculik lima hari oleh seorang pengamen bernama Eko Hartono (17). Perjumpaan mereka di Polwiltabes, Kamis (12/2), dipenuhi cucuran air mata. Selama beberapa menit, Rukini dan Wahyu berpelukan sambil bertangisan, sementara Mustari berkali-kali mengusap sudut matanya yang berair. Sejumlah polisi dan orang-orang yang hendak besuk tahanan terdiam dan ikut larut melihat pemandangan mengharukan itu. Setelah kembali ke rumahnya yang amat sederhana di Kelurahan Lamper Tengah, trauma Wahyu berangsur-angsur hilang. Bila sehari sebelumnya dia masih takut berbicara kepada polisi dan wartawan, kemarin bocah yang masih duduk di bangku SD kelas II itu sudah terlihat lebih berani menceritakan pengalamannya selama dibawa lari Eko Hartono, pengamen asal Sragen. ''Wahyu kini tak takut lagi berhadapan dengan orang-orang yang belum dia kenal baik,'' ujar Mustari. Sebagian besar cerita yang dituturkannya masih sama seperti ketika dia baru saja ditemukan polisi, Rabu (11/2). Dia diajak pergi tersangka saat hendak menyusul bapaknya yang saat itu bekerja sebagai tukang cat di sebuah toko di Jalan Pandanaran. Ketika sampai di depan swalayan Sri Ratu Peterongan, Wahyu diajak menemani Eko ke depan arena biliar Metro, tapi ternyata pengamen berambut disemir pirang itu mengajaknya naik bus hingga sampai ke Solo. Selama dibawa lari, Wahyu diperlakukan cukup baik. Dia diberi makan dua kali sehari, namun bila malam terpaksa tidur seadanya di emperan terminal atau stasiun kereta api. ''Aku ya tau ditukakke kaos, soale aku ra nggawa klambi ngga ganti (Saya juga dibelikan kaus, soalnya saya tidak bawa pakaian ganti),'' ucap Wahyu polos. Hampir Pingsan Saat ditemui di rumahnya, dia baru saja pulang dari pasar mengantar ibunya berbelanja kebutuhan dapur. Saat mengobrol, dia mengungkapkan keinginannya untuk segera masuk sekolah, bertemu dan bercanda lagi dengan teman-temannya. Keluarga Mustari-Rukini beserta lima anaknya tinggal di rumah papan yang amat sederhana berukuran 4x4 meter di bantaran Sungai Banjirkanal Timur, persisnya di Jalan Lamper Mijen Utara, Kelurahan Lamper Tengah. Nyaris tak ada perabotan berharga di rumah itu. Wahyu adalah anak nomor empat. Hanya dia dan adiknya, Siti Zulaekha (5), yang masih sekolah, sementara tiga kakaknya tak sampai lulus SD karena orang tua mereka tak punya cukup uang untuk menyekolahkan.
Apalagi Mustari hanya buruh yang bekerja serabutan, sementara istrinya tak punya pekerjaan tetap. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tiga kakak Wahyu terpaksa mengamen. Kehidupan keluarga itu kian susah setelah Mustari terserang penyakit jantung dan sesak napas ditambah lagi pendengarannya sudah jauh berkurang. Lantas bagaimana nasib si penculik, Eko Hartono, di tahanan? Pemuda itu dipastikan dijerat Pasal 328 KUHP tentang penculikan. Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara. Sejauh ini, dugaan tersangka bermaksud memperjualbelikan bocah yang diculiknya memang belum ditemukan. Penculikan itu bermotif ekonomi. Pengakuan Eko masih sama, yakni mengajak Wahyu mengamen bersama agar orang-orang menaruh iba dan mau memberikan uang, sehingga hasil mengamennya lebih banyak. (P Heru Subono-84j) |