logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Cokelat, Kado Wajib Valentine

Bagi Reninta (16), Valentine's Day tahun ini menjadi momen yang mendebarkan. Pasalnya, siswi SMUN 1 Semarang ini tengah menunggu ''tembakan'' dari seseorang yang sangat dia cintai. Layaknya reality show di salah satu stasiun televisi swasta, dia berandai-andai Sang Arjuna bakal ''meminangnya'' tepat pada malam valentine hari Sabtu (14/2) nanti.

''Rencananya aku mau nge-date bareng dia di Astro Cafe, sekalian nonton Tofu,'' katanya. Untuk itu gadis hitam manis ini telah memersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan malam valentine tersebut. Dari baju, make up, sepatu, dan tentu saja kado. Meski mengaku belum beli, tapi Reninta ingin memberi cokelat untuk gacoannya.

Ya, valentine adalah ''hari raya'' bagi kebanyakan remaja usia ABG. Sehingga hari yang diperingati untuk mengenang perlawanan St Valentine terhadap Rezim anti-Cinta tersebut wajib dirayakan. Tommy (16) bahkan mengaku telah merayakan valentine sejak duduk di bangku SD. Saat itu dia merayakannya bersama keluarga. Jalan-jalan nonton dan main game di mal. Karena sekarang sudah punya pacar, Tommy pun akan jalan bersama pujaan hatinya itu.

Tapi cowok berkacamata ini tidak akan berduaan saja dengan Sang Pacar. Rencananya dia mengajak sobat-sobatnya maupun teman pacarnya bersama datang ke Ventura.

Malam valentine juga ditunggu Irine (16), teman sekelas Reninta. Gadis berkulit kuning langsat ini hari Sabtu malam juga akan merayakan momen romantis bersama pacarnya.

Dini (15) siswi kelas I SMU 1 akan merayakan valentine bersama teman satu gank-nya. Sebab saat ini dia mengaku jomblo alias sedang tidak punya pacar. Tahun lalu saat masih punya pacar, Dini merayakan hari kasih sayang tersebut bersama cowok-nya. Bersama Ayu dan Deshy, teman sekelasnya yang juga jomblo, dia berencana menghabiskan malam valentine di sebuah hotel berbintang di kawasan Simpanglima. Kebetulan acara tersebut digelar khusus untuk remaja yang belum mempunyai pasangan. ''Saya berharap di sana nanti bisa dapet gacoan,'' tuturnya manja.

Spirit Valentine

Namun tidak semua remaja yang Suara Merdeka temui berpendapat sama. Menurut Agung (15) pemaknaan valentine tidak sekadar cinta-cintaan dengan pacar. Lebih dari itu, kasih sayang bagi perjaka yang masih menimba ilmu di SMU 1 ini melihatnya dalam bingkai yang lebih luas. Valentine tidak harus dirayakan, tapi lebih kepada spirit yang terkandung di dalamnya. ''St Valentine rela melepaskan nyawanya atas nama cinta. Itu yang penting,'' katanya. Sama dengan Agung, Putri (17) juga tak ingin merayakan valentine secara berlebihan. Sebab menurutnya tradisi tersebut bukan berasal dari budaya Indonesia. Siswi SMU 5 ini hanya kumpul-kumpul bareng teman-temannya. ''Paling cuman ngobrol dan tukeran cokelat saja''. Nah lo, cokelat lagi kan? (Rukardi-84)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA