logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Internasional  
Line

Israel Disarankan Boikot Sidang Den Haag

JERUSALEM - Tim penasihat hukum Pemerintah Israel kemarin merekomendasikan agar PM Ariel Sharon memboikot sidang Mahkamah Internasional, bulan ini.

Mahkamah di Den Haag tersebut akan memeriksa kasus pagar pengaman yang dibangun negara Yahudi itu di Tepi Barat (wilayah Palestina), kata suatu sumber pemerintah.

Sumber tersebut mengatakan, rekomendasi itu memperbesar kemungkinan para anggota kabinet - yang bersidang Jumat ini - secara resmi menentang partisipasi Israel dalam sidang yang dimulai 23 Februari.

Mahkamah Internasional, yang juga dikenal sebagai Pengadilan Dunia, menggelar sidang itu sebagai tanggapan atas permintaan Majelis Umum (MU) PBB.

MU memohon mahkamah agar memberikan pendapat tidak mengikat, tentang apakah Israel wajib secara hukum untuk meruntuhkan pagar tersebut.

Palestina keberatan pada jalur pembangunan pagar tersebut, yang jauh menjorok ke wilayah Tepi Barat. Palestina menyebut proyek itu sebagai ''upaya untuk merampas wilayah'' yang akan mereka dirikan sebagai negara.

Pemerintah Israel mengatakan, pagar tersebut bertujuan mencegah para militan Palestina melakukan aksi bom jibaku.

Hamas Bersumpah

Sementara itu, kelompok militan Hamas kemarin bersumpah akan melancarkan serangan bom jibaku besar-besaran terhadap warga Israel di mana saja, untuk membalas kematian 15 warga Palestina dalam serangan militer negara Yahudi tersebut di Jalur Gaza, Rabu.

Serangan itu mengacaukan upaya-upaya untuk mengatur KTT Israel-Palestina yang diharapkan membangkitkan kembali rencana damai yang didukung AS. Bentrokan terjadi, setelah ada tanda-tanda ketidaksukaan militer Israel pada rencana PM Sharon memindahkan para pemukim Yahudi dari Gaza.

Polisi Israel meningkatkan kehadiran mereka di berbagai kota dan menambah blokade-blokade jalanan di rute-rute dari daerah Palestina. Hal itu dilakukan, sebagai bentuk kesiagaan atas kemungkinan serangan bom jibaku, setelah penyerbuan ke Kota Gaza.

Dua pekan lalu, seorang pelaku bom jibaku Palestina menewaskan 10 warga Israel yang menumpang bus di Jerusalem. Aksi itu disebut-sebut sebagai serangan balasan atas kematian delapan warga Palestina, sehari sebelum tentara menyerbu Gaza.

Brigade Izz el-Deen al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, menyerukan sel-selnya di seluruh kota dan kamp pengungsi di Gaza dan Tepi Barat untuk melakukan ''perjuangan mati syahid secara besar-besaran'' melawan Israel, di kedua daerah tersebut dan wilayah Israel.

Ramallah Diserbu

Para militan berusaha menghancurkan Israel, walaupun Otoritas Palestina mendukung konsep hidup berdampingan secara damai di Tepi Barat dan Gaza, dua wilayah yang diduduki Israel dalam Perang Timur Tengah 1967.

Konsep hidup berdampingan tersebut diserukan oleh ''peta jalan'' damai yang didukung Amerika.

Namun, tanpa mengindahkan ancaman para militan Palestina, pasukan Israel menyerbu sebuah desa di Tepi Barat, dekat Ramallah, Kamis kemarin. Tentara menembak hingga tewas seorang anggota Hamas yang buron.

Menurut jubir AD Israel, pria Palestina tersebut ditembak ketika mencoba melarikan diri sewaktu mau ditangkap. Para saksi mata mengatakan, anggota Hamas tersebut tidak bersenjata ketika ditembak oleh tentara.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA