
| Jumat, 13 Februari 2004 | Ekonomi |
Diparta Akan Kembangkan One Day Tour di Dati IISEMARANG- Kepala Dinas Pariwisata Jateng Drs Agus Suryono MM mengatakan untuk mengembangkan industri pariwisata di Jateng, pihaknya akan melakukan langkah pendekatan secara persuasif kepada para stakeholder di setiap Daerah Tingkat II. Menurutnya, potensi pariwisata yang dimiliki Jateng sangat beragam dan memiliki keunikan, serta daya tarik yang memikat. Namun kurang dioptimalkan. ''Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan segera adalah membuat satu paket (one day tour) dari berbagai Dati II,'' kata Agus. Komitmen itu dirasakan sangat mendesak dilakukan setelah dia mengikuti event internasional ''ASEAN Tourism Forum (ATF) 2004, di Vientiane, Laos, pekan lalu. Delegasi Jawa Tengah terdiri atas delapan orang, berasal dari Dinas Pariwisata (2), Bappeda (1), Setda Biro Perekonomian (1), BIKK Jateng (1), PHRI (1), Asita (1) dan pers (1). Setelah mengikuti ATF tersebut, dia dapat membandingkan kurangnya kemampuan kita dalam mengemas aset pariwisata Jateng yang potensial. Dalam event internasional itu banyak diperkenalkan produk-produk pariwisata heritage (peninggalan budaya) seperti Kawasan Kota Lama di Semarang, Sam Po Kong, dan wisata ziarah (Pilgrimage Tourism). Selama ini, para wisatawan asing hanya mengenal wisata ke Candi Borobudur, Prambanan, dan Keraton Solo. ''Padahal, aset pariwisata kita banyak yang bisa dikembangkan lagi,'' katanya sambil mengatakan akan mengemas paket wisata ziarah Semarang-Pati-Lasem lebih serius. Selain itu aset Bleduk Kuwu di Purwodadi juga akan diperbaiki infrastrukturnya, seperti jalan raya, tempat bermalam, dan berbagai sarana pelengkap lainnya. ''Intinya, kami akan membuat para wisatawan lebih nyaman sehingga dapat lebih lama tinggal di Jateng,'' katanya optimistis. Dunia industri pariwisata diyakininya memegang peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menambah pendapatan bagi semua pelaku pariwisata, dan pemerintah. Sementara itu Ketua PHRI Jateng, H Imam Kamal mengharapkan antara swasta dan pemerintah daerah segera berbenah diri melihat kekurangan dunia pariwisata Jateng. ''Kita itu ibarat gajah tidur, punya potensi besar namun tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada,'' kritiknya. Dia juga mengimbau agar dalam setiap event internasional Jateng lebih percaya diri untuk mempromosikan kepada buyers dari berbagai negara. ''Bagaimanapun kita harus berani promosi dengan mengemas produk lebih menarik dan patut dilirik,'' tegasnya. (F1-82) |