logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Ekonomi  
Line

Sebenarnya Masyarakat Punya Daya Beli

BANYAK kalangan memperkirakan bisnis elektronik tahun ini akan seret. Penyebabnya, masyarakat menahan diri sehubungan dengan serangkaian kegiatan pemilihan umum yang akan berlangsung hampir sepanjang tahun.

Keadaan itu diperparah oleh daya beli yang masih lemah.

Bagaimana situasi sebenarnya, berikut wawancara dengan Gouw Andy Siswanto, Managing Director Global Elektronik.

Bagaimana bisnis elektronik saat ini?

Perkembangan bisnis elektronik sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga. Sejak kurs rupiah terhadap dolar AS stabil pada kisaran Rp 8.000/dolar AS para produsen elektronik cenderung menurunkan harga jual. Momen itulah yang ditunggu oleh konsumen. Harga yang saat ini berlaku adalah terendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Apakah itu berdampak pada penjualan?

Tentu, tetapi peningkatannya tidak drastis. Kami memperkirakan akan berlangsung bertahap bergantung pada kondisi ekonomi. Hal itulah yang kadang-kadang membuat pelaku bisnis elektronik agak deg-degan.

Bagaimana tidak, misalnya diperkirakan penjualan bagus tetapi ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan. Masalahnya, kalau sudah telanjur menyetok dan tidak terpasarkan, sedangkan harga terus turun maka menimbulkan kerugian.

Sebenarnya margin yang diperoleh dari penjualan elektronik sangat kecil, yakni antara Rp 5.000 dan Rp 10.000/unit.

Tak mengherankan jika pengusaha mengejar kuantitas penjualan untuk menutup biaya operasional, antara lain membayar gaji karyawan dan biaya-biaya lain.

Meski demikian dalam beberapa bulan ini daya beli masyarakat Jateng khususnya Semarang sudah lebih baik dari tahun lalu. Itu terlihat pada kuantitas penjualan masing-masing vendor.

Apa yang bisa mendukung penjualan?

Bagaimana pun stabilitas ekonomi dan moneter yang didukung oleh keamanan yang kondusif tetap menjadi faktor utama. Jika itu tercipta maka pendapatan masyarakat meningkat dan berdampak pada peningkatan konsumsi, termasuk barang elektronik. Contohnya, dua tahun terakhir daya beli turun, khususnya pada produk yang dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah yang memang paling terpengaruh oleh krisis. Namun, untuk kalangan menengah ke atas, misalnya home theatre justru naik.

Bagaimana strategi Global Elektronik dalam merebut pasar elektronik?

Kami mulai bisnis ritel elekronik lewat membangun brand. Kami punya keyakinan calon pelanggan manawar bukan karena tidak punya uang, tetapi merupakan cermin ketidakpercayaan mereka yang memiliki persepsi harga yang ditawar itu tidak wajar.

Karena itu, brand menjadi sangat penting untuk meyakinkan konsumen bahwa harga yang ditawarkan adalah wajar sesuai dengan kualitas produk.

Apalagi pelanggan Semarang rata-rata sangat teliti soal harga. Di Global Elektronik harga yang dipajang adalah harga langsung dari pabrik dan resmi.

Semua item barang harganya sudah tertempel, konsumen langsung bisa menentukan dan memilih yang diingini. Satu lagi, penataan barang dan kenyamanan dalam berbelanja. Itu memengaruhi minat konsumen. Hal-hal seperti itulah yang kami perhatikan.

Seberapa sebenarnya besar daya beli masyarakat?

Banyak yang menyatakan prospek ekonomi sekarang berat, tetapi ramalan itu belum tentu menggambarkan daya beli masyarakat. Contohnya, Toyota Avanza saat pameran di Mal Ciputra bisa laku di atas 600 unit.

Kesimpulannya, sesungguhnya ekonomi masyarakat kuat dan mereka punya kemampuan beli yang tidak pernah terprediksi oleh ekonom dan para pakar.

Karena itu, kami menawarkan barang-barang yang berkelas baik harga maupun kualitasnya, sebab daya beli atas barang-barang berkelas itu justru kuat.

Kalau ada pendapat bahwa pasar akan goyah oleh produk-produk yang harganya murah maka itu pemikiran yang salah.

Apa kiat yang diperlukan dalam bisnis ritel elektronik?

Sebetulnya dalam bisnis ritel elektronik masih banyak potensi yang dapat digali. Global Elektronik selama setahun ini sebenarnya belum apa-apa.

Ibaratnya kami akan ke Jakarta sekarang baru sampai Kendal. Jadi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Salah satu yang kami lakukan adalah membuat database palanggan dan meningkatkan dedikasi karyawan. Kemudian juga akan membangun beberapa counter di show room dengan merek-merek terbaik.

Bagaimana perkembangan teknologi elektronik?

Perkembangan dunia elektronika demikian cepat, inovatif, dan cenderung menggunakan teknologi digital.

Salah satunya televisi dengan bodi yang makin kecil tetapi layar monitor besar dan kecepatan memorinya lebih tinggi sebagaimana televisi plasma.

Masyarakat Singapura dan Hong Kong sudah terbiasa dengan televisi plasma. Indonesia mungkin dalam waktu dekat televisi semacam itu akan lebih memasyarakat dengan harga lebih terjangkau.

Trend produk tahun 2004 adalah home theatre, karena produsen dari Jepang dan Korea pada akhir tahun lalu telah berlomba-lomba meluncurkan produk itu.

Bagaimana respons konsumen terhadap Hometech 2004?

Melalui event itu pengunjung mal terutama pada akhir pekan meningkat 150% dari 5.000 menjadi 15.000 orang dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Itu tentu suatu momen cukup bagus untuk menggairahkan ekonomi Kota Semarang, karena peningkatan omzet penjualan tidak hanya terjadi di Hometech 2004 tetapi juga di seluruh toko-toko di Mal Ciputra.

Kegiatan yang menyerap sekitar 160 tenaga kerja itu juga mencatat sukses. Setiap peserta berhasil mencapai target penjualan. (Arie Widiarto-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA