
| Jumat, 13 Februari 2004 | Ekonomi |
Pemerintah Dinilai Lambat Membeli Gabah Petani
SEMARANG - Pemerintah dinilai lambat untuk mulai membeli gabah petani di beberapa daerah yang sudah mulai panen raya. Padahal, kebutuhan petani sudah meningkat sehingga mereka terpaksa menjual gabah dengan harga sangat rendah. ''Kejadian seperti ini dari tahun ke tahun terus berulang dan pemerintah tidak belajar dari pengalaman. Celakanya, setelah harga gabah jatuh, baru pemerintah mulai membeli dari petani,'' tutur Dosen Pertanian UKSW Salatiga Dr Sony Heru Priyanto kepada Suara Merdeka, kemarin. Menurut pedapatnya, keterlambatan pembelian gabah pada saat panen akhirnya tidak dapat dinikmati oleh petani. Sebab, petani sudah menjual kepada pihak lain sehingga pihak lain tersebut yang akhirnya dapat menikmati pembelian beras dari pemerintah dengan harga dasar yang telah ditentukan. Berdasarkan data-data yang dimiliki, beberapa daerah khususnya di Jateng banyak yang sudah mulai panen. Sejumlah petani seperti di Kab Grobogan terpaksa menjual gabah keringnya dengan harga Rp 800/kg, sementara itu perkiraan harga dasar gabah sekitar Rp 1.700/kg. ''Kondisi ini benar-benar tragis bagi para petani di daerah, sementara kebutuhan hidup mereka juga semakin mendesak,'' ujar dia. Sony mengungkapkan, tidak dibelinya gabah milik petani oleh pemerintah dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki modal besar untuk membeli gabah dari petani dengan harga yang sangat murah. Harapannya, mereka dapat menjual dengan harga yang lebih tinggi pada kurun waktu sesudahnya. (H2-82n) |