logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Ekonomi  
Line

Bisnis Restoran di Purwokerto Sudah Jenuh

  • Persaingan Semakin Ketat

PURWOKERTO - Menjamurnya rumah makan di Kota Purwokerto beberapa waktu terakhir membuat bisnis ini jenuh. Jumlah rumah makan yang ada sudah terlalu banyak sehingga persaingan menjadi semakin ketat.

Ketua Bidang Restoran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Afif Muhadjir, kemarin mengaku tidak bisa membatasi jumlah rumah makan atau restoran.

''Banyaknya rumah makan yang hampir ada di setiap sudut kota membuat bisnis ini ke depan tak lagi menjanjikan,'' kata dia.

Jumlah rumah makan yang tersebar di Kota Purwokerto dan sekitarnya, saat ini ada sekitar 150 buah, baik rumah makan besar maupun kecil. ''Kalau tidak pandai-pandai mengatur strategi, tidak menutup kemungkinan akan banyak rumah makan yang gulung tikar,'' tutur Afif yang juga Manajer Pondok Lesehan Kabayan Purwokerto.

Secara terpisah manajer HRD Pringsewu Restaurant Group (PSG) Purwokerto Ir Bambang Riyadi mengakui, di Kota Purwokerto saat ini bermunculan rumah makan atau restoran-restoran baru yang bisa membuat persaingan dalam bisnis ini semakin ketat.

Menjadi Tantangan

Bagi PSG, munculnya restoran baru justru menjadi tantangan untuk berpacu agar bisa survive di tengah ketatnya persaingan dalam bisnis restoran.

''Persaingan memang akan semakin ketat, tetapi PSG tidak perlu khawatir karena pasar masih ada. Manajemen PSG tidak takut oleh munculnya rumah makan baru di Purwokerto karena manajemen selalu berusaha meningkatkan pelayanan dan menciptakan produk baru agar tetap bisa menarik konsumen,'' tuturnya.

Dia mengatakan, ketatnya persaingan bisnis rumah makan ini menjadikan PSG tidak bisa menunggu datangnya bola. Kalau hanya menunggu, jelas akan mati. Yang akan tetap bertahan adalah mereka yang paling baik dalam memberikan pelayanan kepada konsumen.

Di samping itu, PSG yang kini mengelola 7 rumah makan taman dan dua rumah makan khusus mi pasar baru yang tersebar di beberapa kota di Jateng tersebut memiliki strategi khusus untuk bisa bertahan. Yakni dengan membidik segmen tertentu sesuai dengan kondisi. ''PSG optimistis akan tetap bertahan meski di Purwokerto dan sekitarnya bermunculan rumah makan baru,'' tuturnya.

Sebagai pengelola rumah makan, PSG sangat diuntungkan oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan hari libur bisa berurutan karena hal itu sangat berpengaruh terhadap bisnis rumah makan. Pada saat hari libur yang digeser hingga liburnya panjang, rumah makan menjadi ramai. ''Kalau hari liburnya lebih panjang, konsumen yang datang ke rumah makan akan bertambah ramai,'' tuturnya. (G23-82n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA