
| Jumat, 13 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Pantai Pemalang Berbenah DiriPINGGIRAN pantai antara Tanjungsari dan Widuri kini menjadi tempat bersantai baru bagi masyarakat Kabupaten Pemalang. Ketika matahari mulai beranjak ke peraduan dan cuaca meredup, lokasi antara kedua desa itu ramai dipadati orang hingga suasana gelap. Fenomena seperti itu sebenarnya tidak aneh lagi. Dari dulu hingga sekarang pantai memang biasa digunakan orang untuk melepas lelah dan kejenuhan. Namun, yang menarik, tempat itu dulu berupa semak belukar. Selain kotor oleh sampah pantai yang terbawa ombak, pantai itu juga menjadi tempat membuang hajat penduduk. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, suasananya dulu mirip WC panjang. Kaki susah melangkah karena banyak kotoran manusia. Belum lagi bau yang menyengat dari sebuah perusahaan pembuatan ikan kering. ''Wah dulu, pantai ini benar-benar sebuah tempat yang kotor. Saya yang penduduk sini belum pernah jalan-jalan ke tempat itu,'' ujar Imam, warga Tanjungsari. Namun, lokasi yang kotor itu kini berubah menjadi tempat yang enak untuk bersantai. Perubahan itu terjadi sejak pinggiran pantai antara Widuri dan Tanjungsari dibangun jalan beraspal. Jalan itu menjadi jalur kendaraan bermotor yang menyambungkan kedua desa tersebut. Jalan yang membentang di pinggir pantai adalah hal baru sepanjang sejarah di Kabupaten Pemalang. Mungkin karena hal itu, jalan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terbukti setiap sore kawasan itu ramai oleh hilir mudik mobil dan sepeda motor. Di antara mereka tidak sedikit yang kemudian berhenti dan bersantai melihat ombak bergulung-gulung. Warung Ikan Bakar Dampak lain adanya jalan itu adalah warung-warung ikan bakar di sana kini lebih mendapat perhatian. Artinya, jika posisinya dulu nelingsep dan membelakangi pantai, kini wajah warung-warung itu lebih terlihat. Jalan tersebut juga menghidupkan suasana makam keramat Mbah Samsudin yang berada di dekat pantai. Bisa jadi nanti peziarah akan bertambah karena jalan yang menuju ke makam sudah lebih baik. Apalagi di areal makam juga dibuatkan tempat parkir cukup luas. Kepala Bappeda Drs Santosa mengatakan, konsep awal pembangunan jalan itu adalah untuk mendukung perkembangan pariwisata bahari. Sebab, di sana terdapat objek wisata Pantai Widuri yang selama ini dikelola Dinas Pariwisata. Dia menambahkan, jalan akan memudahkan pengunjung menuju objek wisata. Selain itu, berdampak pula pada penciptaan kawasan wisata secara luas. Buktinya, kini dengan adanya jalan itu masyarakat yang berkunjung ke pantai semakin senang. Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Drs M Setyaboedhy. Dia menyebutkan, dengan adanya jalan itu masyarakat akan lebih hemat mengeluarkan biaya menuju ke Pantai Widuri. Sebab, setelah turun dari kendaraan umum, mereka bisa langsung berada di pinggir pantai. Selama ini, masyarakat luar kota yang menggunakan kendaraan umum menuju Pantai Widuri cukup kesulitan. Sebab, pemberhentian angkutan umum jauh dari objek wisata itu. Berdasarkan data di Bappeda, pembangunan jalan pinggir pantai Widuri-Tanjungsari tahap pertama menghabiskan biaya Rp 500 juta. Pada tahun anggaran 2004 sedang diusulkan kepada DPRD tambahan dana Rp 900 juta. Menurut rencana, tambahan dana sebesar itu untuk penyempurnaan jalan yang sama Rp 500 juta. Sementera itu, sisanya Rp 400 juta untuk menyambung jalan tersebut hingga TPI Tanjungsari. Dengan demikian, selain menumbuhkan pariwisata juga berdampak pada peningkatan kegiatan perekonomian, terutama di bidang perikanan. (Saiful Bachri-81e) |