logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Dua Rumah di Atas Tanggul Dibongkar

  • Terancam Gerusan Air Kali Gung

SLAWI - Ancaman longsor tanggul Kali Gung terhadap12 rumah warga Desa Kajen, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, belum diperhatikan secara serius oleh Pemkab Tegal.

Sebagai contoh, hingga kemarin, dari 12 rumah itu baru dua pemilik rumah yang mendapat perhatian, yakni Suid (63) dan Kasmuri (60), warga RT 3 RW 7.

Mereka masing-masing mendapat bantuan dari Bupati Tegal Drs H Soediharto Rp 500.000. Bupati juga memberikan bantuan beras 20 kg, mi instan satu dus, satu liter minyak goreng, kecap, kerupuk bawang, sarden, kornet, dan susu.

Bantuan diserahkan oleh Riyanto BSc, Kepala Subbagian Bantuan Sosial dan Tenaga Kerja, Bagian Sosial Pemkab Tegal, Rabu (11/2) lalu. Pemberian bantuan itu berkaitan dengan respons warga yang beramai-ramai membongkar dua rumah tersebut, Kamis (29/1) lalu.

Warga terpaksa membongkar rumah itu lantaran gerusan air makin mendekati rumah hingga berjarak dua meter dari bibir sungai. Semula rumah itu dari tanggul berjarak sekitar 6 meter. ''Namun hantaman arus deras dari wilayah atas, sejak Minggu (25/1) lalu, membuat tanggul penahan arus ambrol dan ruas tanggul terus tergerus air. Demi keselamatan, warga berinisiatif membongkar dua rumah ini dan memindahkannya agak jauh dari bibir tanggul,'' tutur B Kardianto, pejabat sementara Kades Kajen.

Perhatian Sama

Secara terpisah, Ketua BPD Kajen, Sohibi berharap Pemkab memberikan perhatian serius terhadap 10 rumah warga lain yang terancam longsoran tanggul Kali Gung. Perhatian itu antara lain berupa lokasi baru untuk memindah rumah dan biaya pemindahan. Sebab, saat dilakukan pemindahan rumah, warga juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Kepala DPU Ir Sarsito mengatakan, untuk mengatasi longsor yang makin parah saat musim hujan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Selain memperkuat tanggul dengan pasir atau beronjongan kawat, juga mengalihkan arus air.

Biaya pengalihan arus air untuk sementara setelah dikalkulasi Rp 700 juta. Anggaran sebesar itu sudah diusulkan dalam RAPBD 2004. Pihaknya berharap sekali anggaran proyek pengalihan arus cair mendahului pembahasan atau penetapan.

Pasalnya, proyek tersebut mendesak diwujudkan, mengingat tanah yang tergerus arus dari hari ke hari bertambah dan mengancam permukiman di dekat tanggul sungai.

Dia juga mengatakan, di tengah sungai ada gundukan tanah yang membuat arus sungai terbelah. Karena itu, salah satu aliran sungai harus diuruk sehingga arus air tidak terpecah. Jika dana proyek segera turun dan proyek segera dikerjakan, permukiman akan terselamatkan.

''Sepuluh rumah lain tidak perlu dipindah. Untuk sementara memang baru dua rumah warga yang terpaksa dibongkar untuk dipindahkan jauh dari lokasi. Tindakan ini saya nilai tepat untuk menghindari timbulnya korban jiwa,'' tutur Sarsito.(D12-17c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA