logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Benarkah Terjadi Desakralisasi Timnas PSSI?

- Dilema antara kepentingan nasional dan kepentingan klub kerap menghasilkan vonis mematikan bagi pemain sepak bola. Suatu ketika, dia bisa berada dalam kebimbangan yang sama-sama memberatkan: memenuhi tugas membela tim nasional ataukah memberati kepentingan klub yang juga sangat membutuhkan kehadiran dirinya? Ketika tugas nasional dan kebutuhan klub berada dalam impitan waktu yang sama, dia tentu tidak mungkin memilih kedua-duanya. Salah satu harus diutamakan, dan itu berarti salah satu mesti dikorbankan. Memenuhi panggilan tim nasional merupakan dambaan sebagai muara puncak dari perjalanan cita-cita seorang pemain. Sebaliknya, klub menjadi tempat bernaung yang memberikan kehidupan dalam arti yang sebenar-benarnya.

- Namun hanya dengan alasan-alasan dilematis itukah seorang pemain memilih mengabaikan panggilan timnas? Tidak adakah pertimbangan lain, baik karena faktor-faktor internal pemain maupun eksternal? Diskusi bertema "Kebanggaan dan Profesionalisme Pemain Tim Nasional" baru-baru ini digelar di Jakarta. Salah satu yang disorot, mengapa pemain kita sekarang kurang memiliki kebanggaan sebagai pemain nasional? Hal ini dikaitkan sebagai salah satu penyebab kemerosotan mutu timnas. Kecenderungan semacam ini tentu tidak terjadi secara serta merta. Pada era 1990-an, gejala serupa telah sering disebut. Namun tentu tidak semudah itu membuat vonis, karena bagaimanapun baru menjadi gejala yang diendus dan tidak dapat digeneralisasi.

- Perkembangan profesionalisme sepak bola kita lewat representasi Kompetisi Liga Indonesia, suka atau tidak suka, memunculkan segi-segi positif dan pengaruh yang bersifat bias. Salah satu yang dirasakan, pertandingan terjadwal secara ketat sehingga pemain dituntut menjaga kebugaran fisik dan mentalnya. Di samping itu, apresiasi terhadap kontraprestasi makin menguat. Tak sedikit pemain -yang memang hidup dari sepak bola- mengukur apa yang didapat secara materi harus sebanding dengan kontribusinya. Apalagi klub-klub menjanjikan bonus pada hasil-hasil seri atau kemenangan dalam setiap pertandingan. Bagaimanapun, kondisi ini tentu mendorong dedikasi pemain kepada klub, plus menghitung apa yang didapat dari setiap pertandingan.

- Dinamika global sepak bola Eropa lewat akses media juga memberikan pengaruh. Di pentas dunia banyak pemain yang -karena pertimbangan-pertimbangan tertentu- menolak panggilan timnas. Misalnya memilih kepentingan klub, risiko cedera, dan ketidakcocokan dengan pelatih. Kita tidak berani menyimpulkan apakah dinamika ini juga memengaruhi apresiasi para pemain kita terhadap tim Merah-Putih. Yang jelas, "kesakralan" timnas memang tidak seperti pada dekade 1970-an, ketika seolah-olah tidak sembarang pemain bisa dipanggil dan terseleksi. Nama-nama pemain top tertancap sebagai pilar yang betul-betul dikenal publik sebagai bintang timnas. Sekarang, seringnya pergantian materi pemain menyebabkan publik seperti kurang mengenal.

- Gejala "desakralisasi" pemain nasional ini dirasakan oleh pelatih Ivan Venkov Kolev yang sedang mempersiapkan tim untuk Pra-Piala Dunia. Dia dipusingkan oleh ketidakhadiran Eduard Ivakdalam yang mengaku cedera dan memilih mundur. Padahal, Edu adalah pilar utama lini tengah yang telah membuktikan peran dalam tim Pra-Piala Asia tahun lalu. Ada alasan psikologis yang tentu membutuhkan pendekatan khusus, karena pemain asal Persipura Jayapura ini beberapa kali "menolak" memenuhi panggilan PSSI, dan baru bersedia bergabung pada 2003. Desakralisasi juga ditengarai terjadi ketika PSSI U-23 tampil di SEA Games Vietnam. Selain alasan teknis, ada faktor-faktor nonteknis yang banyak dikeluhkan, misalnya kelemahan dalam fighting spirit.

- Persoalan fighting spirit ini pernah menjadi masalah utama tim Pra-Piala Dunia 1993 yang diasuh Ivan Toplak. Apakah ini bagian cermin ketiadaan kebanggaan menjadi pemain nasional? Zaman memang bergerak sesuai dengan dinamikanya. Pemain pro yang menggantungkan hidup dari sepak bola, lalu globalisasi sepak bola memberikan pengaruh yang tidak kecil. Kita tidak boleh serta-merta memvonis telah terjadi erosi nasionalisme. Kalaupun muncul analisis bahwa tidak ada kebanggaan menjadi pemain nasional, tentulah dibutuhkan terapi-terapi untuk mempertinggi daya tarik timnas. Evaluasi komprehensif untuk mencari akar persoalan perlu digelar. Kita tetap meyakini, setiap pemain tetap terobsesi menjadikan tugas negara sebagai muara kariernya.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA