logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Surat Pembaca  
Line

Orang Miskin Sulit Mencari Keadilan

Menjadi orang kecil dan miskin memang sangat menyakitkan. Dalam kehidupan orang kecil sering dipandang sebelah mata dan dibeda-bedakan dalam pergaulan dan perlakuan di masyarakat. Seperti yang saya alami ketika mencari keadilan di Poltabes Semarang.

Saya menghadapi masalah penipuan yang dilakukan seorang teman dan perkaranya saya serahkan Poltabes Semarang. setelah upaya damai buntu. Tanggal 13 Desember 2001 saya melaporkan perkara ini dan didaftar no Pol 1788 / K / XII / 2001 (fotokopi terlampir).

Sampai saya menulis di Surat Pembaca ini, peristiwanya telah berjalan lebih dari dua tahun namun tak kunjung ada hasilnya. Padahal saya telah bolak-balik dari Jepara ke Poltabes Semarang tidak kurang dari sembilan kali dan telepon berkali-kali, serta seorang notaris telah dimintai kesaksiannya.

Yang mengherankan, ketika saya menghadap ke petugas, di wajahnya tidak menunjukkan ada beban moral. Apakah saya harus membuka dialog tawar menawar perkara. Apakah semboyan polisi "Kami siap melayani Anda" dan "Melindungi, mengayomi, melayani masyarakat" , hanya slogan belaka.

Saya mengetuk hati nurani Bapak Kapolda Jateng, mohon perkara saya bisa ditindaklanjuti dengan seadil-adilnya karena saya tidak percaya lagi kepada petugas di Poltabes. Saya juga tidak berharap laporan ini mendapatkan pelayanan istimewa dari Bapak Kapolda.

Suwarto
Pulodarat Rt 13/Rw 2 Pecangaan, Jepara

***

Matahari Java Mal Menyebalkan

Kejadian menyebalkan saya alami saat berbelanja di Supermarket Matahari Java Supermal Semarang 16 Januari 2004 sekitar pukul 17.20 WIB. Saya membeli jeruk pakistan dan labelnya ternyata tertera jeruk lokam Mandarin dengan harga Rp 8.900/kg. Saat saya tanyakan kok harganya segitu, dengan ketus karyawati yang menimbang bilang, nanti akan didiskon di kasir.

Saya kembali bertanya kenapa di label tertera jeruk lokam sedang saya mengambil jeruk pakistan, dia dengan kasar mengambil bungkusan jeruk tersebut dan memeriksa isinya. Kemudian memanggil seorang karyawati yang berseragam hijau biru (supervisor?) dan mengatakan terdapat jenis jeruk yang berbeda di dalam bungkusan tersebut.

Setelah itu dia membuka pengikat plastik dengan gunting tanpa menghiraukan saya, seakan-akan saya bersalah sengaja mengambil jeruk lokam yang dicampur jeruk pakistan. Saya merasa amat tersinggung dengan perlakuan itu. Mungkin dia berusaha mencari kesalahan saya karena telanjur malu salah menempelkan label.

Namun setelah si supervisor bilang itu memang jeruk pakistan, dengan muka merah dia bergumam menyalahkan rekannya yang lain. Dia menyerahkan kembali bungkusan jeruk itu disertai label yang semestinya, tanpa permohonan maaf.

Sangat disayangkan bila diaa benar-benar lulus sebagai karyawati tetap Matahari. Berbeda dengan petugas kasir yang ramah dan sabar. Ingat, pembeli adalah raja dan persaingan semakin ketat.

Murni Marlina SH
Puri Cendana Blok G 11/9 Tambun, Jakarta

***

Stasiun Tegal

PT Kereta Api (Persero) Daop IV Semarang mengucapkan terima kasih atas saran Sdri Wibi Elistyorini di surat pembaca 2 Februari 2004.

Fungsi stasiun memang perlu pengembangan termasuk stasiun Tegal. Kami juga sependapat dengan Sdri untuk membuka simpul-simpul bisnis di stasiun dalam upaya peningkatan pelayanan terhadap penumpang. Outlet/ Counter yang ada dalam stasiun bisa memudahkan penumpang dalam memenuhi kebutuhan dan menghemat waktu. Untuk itu kami membuka kesempatan kerja sama kepada para investor yang berminat namun harus tetap disesuaikan dengan RUTR Daerah.

Kahumas PT KA Daop IV Semarang
Suprapto

***

Seandainya Korupsi...

Masyarakat kini gelisah dengan nasib bangsa di era reformasi yang sudah berjalan hampir 5 tahun.Bukan perbaikan yang didapat tetapi kemerosotan moral yang melanda para aparatur negara mulai eksekutif, legislatif, aparat penegak hukum yang bobrok mentalnya dengan ditandai merajalelanya korupsi di semua instansi.

Depag saja sesuai penemuan BPKP menjadi juara terbaik dalam mengorupsi uang negara. Padahal tempat berkumpulnya orang-orang yang semestinya mengerti hal-hal yang baik dan dilarang agama. Kebocoran APBN bisa mencapai 30%, artinya kalau APBN 2003 Rp 350 triliun, berarti uang negara yang menguap sekitar Rp 105 triliun.

Bentuk penyimpangan biasanya berupa mark up proyek, pemotongan komisi, penerimaan pajak yang tidak diserahkan 100% untuk negara, sikap aparat dan anggota DPR/DPRD yang suka ngelencer ke luar negeri tanpa tujuan jelas. Ini masih ditambah para istri yang suka ikut-ikutan, suka ganti mobil dinas.

Semuanya menggambarkan gaya aparat dan pimpinan yang boros tanpa mau melihat kondisi negara yang lagi prihatin. Sampai seorang Nurcholish Madjid pernah bilang bangsa kita adalah bangsa yang dilaknat karena penyelenggara negaranya banyak yang korup.

Saya prihatin nasib bangsa ini dan sering berandai-andai sbb:

- Seandainya para pimpinan pusat/daerah termasuk anggota Dewan punya iktikat baik untuk memikirkan bangsa keluar dari krisis dengan tidak berperilaku boros, tidak memperkaya diri dan keluarga atau kroninya.

- Seandainya kebocoran APBN bisa ditekan hanya maksimum 5% oleh pimpinan dan jajarannya mulai presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, pimpinan BUMN.

- Seandainya para wakil rakyat mau bersikap sederhana dalam gaya hidup, tidak minta ngelencer ke luar negeri, tidak minta proyek ke ekskutif, tidak minta dana purnabakti, tidak minta mobil dinas yang mahal.

- Seandainya para calon pegawai negeri dan ABRI tidak dipungut biaya puluhan juta rupiah yang berarti akan mewariskan sikap korup bila kelak mereka menjadi pimpinan.

- Maka dalam 15 tahun ke depan akan terkumpul dana 15X105 triliun atau kira Rp 1.575 triliun, karena APBN setiap tahun bertambah.

- Seandainya uang tersebut dipakai membangun jalan tol, mengirim dosen, guru, murid teladan ke luar negeri untuk belajar, membangun rumah rakyat kecil, membangun sarana umum, sekolah, kampus, puskesmas, rumah sakit, memperbaiki jalan yang rusak,, wah kayak apa ya wajah negeri ini 15 tahun ke depan.... makmur dan punya aparat negara yang tidak korup.

-Yah namanya juga bermimpi dan berandai-andai, mudah-mudahan jadi kenyataan

Suhartono
Perum Bank Niaga C 12A Ngalian, Semarang

***

Surat untuk Pak Bei

Halo Pak Bei, setelah membaca pengalaman Pak Bei melancong ke negeri jiran, saya sangat tertarik sepertinya saya ikut juga melancong. Saya bayangkan Pak Bei yang lucu dan lugu itu pasti lingak linguk di Singapura dan Malaysia jika sendirian. Untung ada temannya yang bernama Mr Wo, jadi Pak Bei bisa ''ketolong'' ya ?

Saya mohon agar pengalaman Pak Bei itu bisa diceritakan secara berurutan di komik pak Bei di edisi Minggu, pasti banyak yang suka karena lucu dan menarik.

Ruchayati Soepangat
Jl Arya Mukti Barat II/ 489Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA