
| Kamis, 12 Februari 2004 | Sala |
Panen Jagung Bisi II Hasilkan 8 Ton/hektareBOYOLALI - Panen jagung jenis bisi II, yang ditanam atas kerja sama petani Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo dengan PT Palur Raya, Karanganyar, cukup menggembirakan. Setiap hektare bisa menghasilan 8 ton pipil kering. Sedangkan tanaman jagung jenis lain rata-rata hanya menghasilkan 4 ton pipil kering/haktare. Kepala Pemasaran Pupuk Cair PT Palur Raya Ir Nur Widayat, kemarin mengatakan, penanaman jagung di Desa Gedangan dilakukan dengan pola kemitraan. Meliputi permodalan, teknis budidaya, dan pemasaran. Modal yang diberikan, lanjut Nur Widayat, berupa pinjaman benih jagung dan pupuk organik. Sedangkan pupuk yang dipinjamkan dua pilihan, yakni pupuk cair pendowo dan pupuk kompos. Sedangkan teknis budidaya yang diberikan berupa penyuluhan atau bimbingan. ''Melalui pemasaran kami berharap mitra kerja mendapatkan hasil produksi dan kualitas panen yang optimal, sehingga menghasilkan harga jual yang tinggi,'' kata dia yang didampingi akuntan PT Palur Raya Jimy Harmoko MM. Sedangkan di bidang pemasaran pihaknya bersedia menampung seluruh hasil panen dari mitra kerja, dengan harga yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, mitra kerja berada dalam posisi yang aman, sehingga membangkitkan gairah bertani. Pilot Proyek Luas lahan yang ditanami jagung 2,5 haktere, sekaligus dijadikan pilot proyek. Penanaman jagung dilakukan di dataran tinggi atau alam pegunungan. Ternyata hasil panen cukup bagus. ''Ini berarti mengalahkan panen jagung di dataran rendah,'' katanya. Menurut Nur Widayat, jagung bisi II dikonsumsikan untuk makanan ternak dengan umur 110 hari. Karena hasilnya memuaskan akan ditanam lagi dengan jenis jagung P3 atau P4 yang rasanya manis. Umur kedua jenis jagung itu relatif lebih muda, dan bisa dikonsumsi untuk makanan kecil. Kaur Pembangunan Desa Gedangan, Maryono mengatakan, pola kemitraan sangat menguntungkan, karena biaya tanam lebih murah. Selain itu pemasaran tidak ada masalah, karena sudah ada yang membeli. Begitu pula pupuk sudah dipinjami. Kendala yang dihadapi petani adalah serangan kera. ''Karena itu kami menganjurkan panen lebih awal, agar tidak dimangsa kera,'' katanya. (shj-49) |