
| Kamis, 12 Februari 2004 | Berita Utama |
Menjaga Kelanggengan "Buah Labu"
GRUP band asal Hamburg, Jerman, Hallowen benar-benar masih mampu menunjukkan "taring"-nya. Tetap setia mengusung aliran musik speed metal, grup band yang terbentuk pada 1984 dan telah lima kali mengalami pergantian personel itu, semalam menggeber tembang-tembang yang pernah menjadi hits mereka di Pantai Festival, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Lagu seperti "Eagle Fly Free", "Dr Steins", "I Want Out", "Future World", "Keeper of The Seven Keys", dan tembang kalem "Windmill" yang akrab di telinga pencintanya, tak ayal mendapat sambutan sangat meriah dari penonton yang memadati arena konser akbar tersebut. Karena itu, menjadi tidak berlebihan, ketika sekitar 4.000 penonton yang membayar tiket seharga Rp 100.000 (VIP) dan Rp 50.000 (festival) larut oleh hentakan-hentakan nada yang mendorong mereka untuk ikut me-medley-kan lagu-lagu tersebut. Simaklah ketika tembang ''I Want Out'' digulirkan; grup band yang digawangi oleh Sascha Gerstner dan Michael Weikath (gitar), Markus Grosskopf (bas), Andi Deris (vocal), serta Stefan Schwarzmann (drum) itu, tanpa perlu repot-repot, berhasil mengomando penonton untuk melatunkan tembang yang dicomot dari album Keeper of The Seven Keys Part 2. Dengan lafal dan tone yang mendekati benar, para penonton menendangkan bagian chorus; //I want out / to live my life alone/ I want out/ leave me be/ I want out/ to do things on my own/ I want out/ to live my life and to be free//. Hal yang sama terjadi juga pada tembang ''Future World''; lagi-lagi penonton yang menyemut di arena itu bermedley pada bagian chorus: //Cause we all live in Future World/ A world that's full of love/ Our future live will be glorious/ Come with me Future World/ You say you'd like to stay/ But this is not your time/ Go back, find your own way to Future World/ Life can be for living/ Just try and never give in/ Tell everyone the way of Future World//. Jaga Kelanggengan Ya, Halloween yang diidentikan dengan perlambang buah labu (pumpkin), dan kali terakhir menelurkan album Rabbit Don't Come Easy (2003) itu tampaknya masih mempunyai stamina untuk menjaga kelanggengannya di blantika musik cadas dunia. ''Hey, what's up...Kami memang dikepung berbagai musik cepat (speed) dan keras (heavy) anyar yang dimainkan oleh anak-anak muda, dan dengan semangat bermain yang lebih fresh tentu saja,'' kata Andy Deris. ''Tapi, itu justru membuat kami menjaga dan terus mengolah kemampuan bermain musik cepat ini,'' imbuhnya saat chek sound sore hari, sebelum konser. Memang, Halloween yang kali pertama terbentuk dari gabungan band Second Hell dan Iron Fist itu -meski dikepung oleh berbagai nama anyar grup speed dan heavy metal- tampaknya masih mendapat tempat di hati para pencintanya. ''Industri musik boleh melahirkan nama-nama baru dalam kancah musik speed metal. Tapi nama Halloween masih menancap kuat dalam benak kami,'' tutur Garda (30), yang bersama lima karibnya dari Bogor nglurug ke tempat konser tersebut. Konser Halloween di Jakarta yang diselenggarakan oleh Garuda Dua Entertainment dan Log Zhelebour Production itu, dibuka dengan penampilan grup band Sucker Head dan Relp. Bahkan vokalis Boomerang, Roy Jeconiah, menyempatkan diri untuk berduet bareng Sucker Head melantunkan tembang milik duo kribo (Ucok Harahap dan Achmad Albar) berjudul "Neraka Jahanam". Ya, Halloween yang tampil atraktif dan komunikatif di atas panggung mulai pukul 21.00 WIB itu masih tampak bugar dan membius dengan pesona speed metal-nya. Corak vokal Andy Deris yang melengking-lengking, menawarkan sebuah hiburan tersendiri bagi penikmat musik super cepat yang datang dari berbagai wilayah kawasan Jabotabek itu.(Benny Benke-41) | |||||