logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Berita Utama  
Line

"Terlalu Percaya Diri Bisa Ancam Pemilu"

JAKARTA - Optimisme Presiden Megawati Soekarnoputri bahwa pemilu akan berjalan aman kembali mendapat 'sentilan' dari Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas). Lembaga yang pernah mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai adanya ancaman terhadap pemilu, yang kemudian diperkuat dengan pernyataan sejumlah petinggi TNI, mengingatkan bahwa sikap terlalu percaya diri justru bisa mendatangkan ancaman bagi keamanan pemilu itu sendiri.

Kepada wartawan usai Pembukaan Penyegaran Wawasan Kebangsaan dan Kewaspadaan Nasional yang dibuka Presiden di Istana Negara, Rabu (11/2), Ketua Lemhannas Ermaya Suradinata mengatakan, kolaborasi nasional diperlukan agar bangsa yang sedang dilanda konflik dan krisis ini bisa melakukan perdamaian untuk keberhasilan Pemilu 2004.

''Tidak ada jalan lain. Tidak mungkin pemilu sukses tanpa memperhatikan titik kerawanan yang akan mengadang keberhasilan pemilu itu. Jadi, orang yang tidak peduli terhadap bagaimana kerawanan, dan bahkan tidak mau tahu, terlalu confidence bahwa pemilu berhasil, menurut saya justru di situ letak kelemahan kita,'' katanya.

Ermaya berpendapat, agar pemilu berhasil seluruh komponen bangsa ini harus peduli mengenai apa yang harus dilakukan, sehingga titik-titik rawan yang dikhawatirkan bisa mengganggu pelaksanaan pemilu itu tidak terjadi.

Seperti diberitakan, ketika menerima peserta Konvensi Nasional Media Massa di tempat yang sama sehari sebelumnya Mega menyampingkan kekhawatiran beberapa pihak akan adanya gangguan pada pelaksanaan pemilu. Kepada tokoh negara lain, Ketua Umum PDI-P itu malah menjamin pemilu akan berjalan aman.

''Dijamin? Saya jamin. Anda kok berani menjamin? Rakyat yang menjamin. Karena pemilu bukan dilaksanakan oleh saya,'' kata Mega.

Tidak seperti pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, dalam sambutannya saat membuka Penyegaran Wawasan Kebangsaan dan Kewaspadaan Nasional kemarin Mega sama sekali tidak menyinggung tentang Pemilu 2004. Dia lebih banyak mengupas tentang arti penting penanaman semangat kebangsaan.

Dikatakannya, semangat keindonesiaan tidak tumbuh sepontan dan mendadak. Dia harus dipupuk melalui rangkaian renungan, perundingan, perdebatan, bahkan juga pertentangan dan konflik dari setiap komponen bangsa. Setiap kesempatan dikristalisasikan dan dikonsolidasikan dalam kehidupan kebangsaan, sedangkan setiap masalah yang belum dapat disepakati direnungkan dan dirundingkan lagi sampai tercipta kesepakatan baru.

''Pengalaman kita menunjukkan bahwa setiap jalan pintas yang diambil untuk meretas proses demokrasi memang memakan waktu dan biaya, baik pada tataran suprastruktur maupun infrastruktur politik ternyata malah meminta korban dan biaya yang jauh lebih besar,'' tandasnya.

Jalan pintas pada tataran suprastuktur yang dimaksudnya bisa berbentuk sentralisme, diktatorisme atau otoriterisme, baik dalam keadaan damai maupun darurat. Sedangkan pada tataran infrastuktur politik bisa berbentuk huru-hara, aksi kekerasan massa, revolusi, bahkan anarki yang tidak bisa dikendalikan.

''Tidak jarang kita malah mendengar, jalan pintas seperti ini malah diklaim sebagai reformasi, atau bahkan sebagai demokrasi. Klaim seperti itu keliru, bahkan sangatlah keliru,'' tandas Mega.

Menurut dia, dalam dunia beradab, demokrasi pada bangsa yang berukuran besar dan berbudaya majemuk tidak lagi, tidak boleh dan tidak bisa diwujudkan melalui huru-hara, aksi kekerasan massa, revolusi atau anarki. Demokrasi selain merupakan format pemerintahan juga merupakan proses negosiasi panjang melalui lembaga-lembaga yang selanjutnya merupakan bagian dari sistem nasional yang dibangun, didukung, dan dikendalikan bersama-sama.(A20-78t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA