logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Dokter dan Obat-obatan Dikirim ke Nabire

SURABAYA- Langkah proaktif terus dilakukan Armatim TNI-AL atas terjadinya bencana gempa bumi di Kabupaten Nabire, Papua. Rabu (11/2), Asisten Operasi (Asops) Armatim Kolonel Laut Marsetio memberangkatkan bantuan kesehatan ke Nabire. Bantuan itu terdiri atas tim dokter dan obat-obatan.

Pemberangkatan tim dokter dan obat-obatan ke Nabire dilakukan dari Lanudal Juanda Surabaya. Tim kesehatan yang dikirim ke sana terdiri atas para dokter RSUP Soetomo Surabaya, RSAL Ramelan Surabaya, Dinas Kesehatan Armatim, dan para dokter muda dari Universitas Hang Tuah Surabaya. Tim kesehatan ini dipimpin Mayor (K) dr Nalendra dari RSAL Ramelan. ''Kami terus memberikan bantuan untuk korban gempa bumi di Nabire Papua,'' kata Marsetio kepada wartawan, kemarin.

Jumlah obat-obatan yang dikirim 22 kilogram, seperti infus set, antibiotika, suplemen, anestesi, berbagai jenis peralatan bedah mayor, dan peralatan bedah tulang/ortopedi. Bantuan dari TNI-AL dan Pemprov Jatim itu diterbangkan dengan pesawat Cassa U-623 milik TNI-AL. ''Rencananya, Kamis (12/2) kami juga memberangkatkan dua kapal ke Nabire untuk kepentingan sama,'' ujarnya.

Kedua kapal TNI-AL dari jajaran Armatim yang rencananya diberangkatkan hari ini adalah KRI Tjiptadi dan KRI Sangkurilang. Sebelumnya, Armatim TNI-AL mengirimkan dua kapal perang ke Nabire. Tujuannya untuk memberikan bantuan kepada warga setempat baik pengobatan maupun evakuasi korban. Selain mengirim dua kapal perang, TNI-AL juga memberangkatkan satu pesawat terbang jenis Cassa dan satu pesawat helikopter.

Kedua kapal perang yang dikirimkan ke Nabire tahap pertama adalah KRI Nuku dan KRI Teluk Sampit. KRI Teluk Sampit adalah jenis kapal landing ship tank (LST). KRI ini bisa difungsikan sebagai rumah sakit terapung.

"KRI Nuku, Minggu (8/2) sore telah tiba di Nabire, dan KRI Teluk Sampit dalam perjalanan," jelas Panglima Armada Kawasan Timur Laksamana Muda Sosialisman didampingi Asisten Operasi Kolonel Laut Marsetio kepada wartawan di Surabaya.

Mengenai pengiriman helikopter dan pesawat terbang bertujuan mempermudah memberikan bantuan dan evakuasi korban yang membutuhkan perawatan khusus. Pesawat TNI-AL itu nanti mendarat di bandar udara lain di Papua. Sebab, bandar udara Nabire tak bisa difungsikan karena rusak akibat gempa bumi. Pengiriman dua kapal perang, satu pesawat terbang, dan satu pesawat helikopter dinilai sangat mendesak. Sebab, gempa bumi yang mengguncang Nabire dan daerah lain di Papua mengakibatkan kerusakan parah pada rumah penduduk, fasilitas umum, puluhan warga meninggal, dan ratusan warga lain luka-luka. "Pesawat kita akan memanfaatkan bandar udara lain di Papua," imbuhnya.(G14-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA