logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Memoderatori Masyarakat Jawa Tengah

ADA yang lain pada syukuran peringatan HUT Ke-54 Suara Merdeka, Rabu (11/2), di aula lantai III kantor Jalan Raya Kaligawe Km 5 Semarang. Yakni pengumuman pergantian jabatan pemimpin redaksi (pemred) kepada hadirin oleh Pemimpin Umum Ir H Budi Santoso.

Proses alami itu memunculkan H Sasongko Tedjo SE MM sebagai pengganti Drs H Sutrisna yang telah memasuki masa pensiun. Nantinya, Sutrisna masih tetap dibutuhkan Suara Merdeka dalam sebuah bidang tugas baru, yakni lembaga ombudsman.

Sebelumnya, Sasongko menjabat wakil pemimpin redaksi (wapemred). Karier lulusan Fakultas Ekonomi (FE) Undip ini di Suara Merdeka dimulai Agustus 1984 sebagai wartawan ekonomi, lalu asisten Desk Ekonomi, dan kemudian kepala desk tersebut.

Pernah juga lulusan Magister Manajemen Undip 1996 ini menjadi anggota Desk Nasional, kepala Desk Nasional, hingga menjabat sebagai wapemred pada 1989.

Spesialisasi di bidang ekonomi juga yang membuat dirinya patut duduk dalam sejumlah jabatan lain. Sampai saat ini, penulis buku Penampilan Ekonomi Indonesia itu masih menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Cabang Semarang dan anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang.

Kesibukan lain, menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jateng, juga Wakil Ketua PD PMI Jateng, dan Wakil Ketua DPP Ikatan Alumni (IKA) Undip.

Bakat dari Ayahnya

Bakat jurnalistik yang ada pada diri Sasongko ternyata mengalir dari ayahnya, Tedjo, mantan wartawan Suara Merdeka. Dari lima anak, hanya dirinyalah yang mewarisi bakat ayahnya itu.

Sejak SLTP, bakat itu sudah terlihat pada pria kelahiran Semarang, 23 Februari 1960 itu. Di SMP negeri 2 Semarang, dia menjadi Pemred Et Vita, media yang diterbitkan sekolah tersebut. Di SMA 1 menjadi Pemred Majalah Ekspresi. Dan di FE Undip, dia menjadi Pemred Edents.

Dalam memimpin redaksi Suara Merdeka ke depan, menurut Sasongko, tepat kiranya mencermati pesan yang disampaikan secara lisan atau tertulis oleh Pemimpin Umum Suara Merdeka Budi Santoso. Yakni loyal, cerdas, cepat, dan akurat.

Ketua PWI Cabang Jateng itu lantas menghubungkan dengan sebuah fenomena yang terungkap dalam Konvensi Nasional Media Massa di Jakarta, 9-10 Februari lalu. Yakni telah terjadinya distorsi pada idealisme dan profesionalisme wartawan. ''Sekarang jumlahnya (wartawan-Red) banyak, tapi tidak seperti dahulu. Banyak yang mengalami distorsi pada kedua hal itu,'' ujar dia, Rabu (11/2).

Jika masalah distorsi pada idealisme, etika, dan profesionalisme tidak diperhatikan, dikhawatirkan akan menurunkan kepercayaan masyarakat. ''Itu tantangan bagi kami. Akan tetapi kami yakin bisa (menghilangkan distorsi tersebut-Red).''

Seorang jurnalis, ujar Sasongko, seharusnya memegang teguh idealisme dalam arti benar-benar komit pada persoalan bangsa sesuai dengan peran dan posisi pers. Sementara itu, profesionalisme menyangkut etika jurnalistik bahwa pers harus mampu mengikuti dengan cepat perkembangan di masyarakat. ''Yang dibutuhkan adalah news-feature. Itu yang perlu ditambah.''

Kompetisi antarmedia saat ini menjadi tantangan untuk meningkatkan SDM wartawan. Pria yang cukup laris menjadi moderator dalam berbagai seminar ini akan terus menjaga posisi koran yang didirikan H Hetami tersebut sebagai perekat komunitas masyarakat Jawa Tengah. ''Jadi, memoderatori masyarakat Jawa Tengah seperti yang dicanangkan Pemimpin Umum,'' tandasnya.

Untuk itu, kesibukan lain sebagai moderator dalam berbagai seminar itu menjadi semakin lekat dengan posisi Suara Merdeka sebagai moderatornya masyarakat Jawa Tengah.

Sebagai koran yang harus tetap muda, dia optimistis, dengan kekuatan lebih dari 80% kaum muda, ke depan Suara Merdeka akan lebih baik. Tantangan ke depan yang semakin berat akan bisa diatasi dengan kerja keras. (Setiawan Hendra Kelana-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA