logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 12 Februari 2004 Berita Utama  
Line

HUT Ke-54 Suara Merdeka

Besar karena Kepercayaan Publik

PEMRED BARU : Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso, didampingi istri, Ny Sarsa Winiarsih menyerahkan potongan tumpeng kepada Pemimpin Redaksi yang baru, Sasongko Tedjo SE MM, pada ulang tahun ke-54 harian ini di kantor Redaksi Jl Kaligawe KM 5 Semarang kemarin. Sasongko menggantikan Drs Sutrisna yang memasuki masa pensiun. (43)

SEMARANG-Harian Umum Suara Merdeka Rabu (11/2) genap berusia 54 tahun. Ratusan karyawan menghadiri syukuran yang berlangsung sederhana namun khidmat di ruang pertemuan lantai III Kantor Redaksi Suara Merdeka Jalan Kaligawe KM 5 Semarang.

Pemimpin Umum Ir H Budi Santoso dalam sambutannya menyatakan, peringatan ulang tahun kali ini ditandai dengan regenerasi di bidang redaksi. Drs H Sutrisna tahun ini secara resmi pensiun dari pemimpin redaksi dan diganti kan H Sasongko Tedjo SE MM yang sebelumnya menjabat wakil pemimpin redaksi. ''Regenerasi ini merupakan proses alamiah. Setelah bertugas selama 39 tahun, Pak Trisna kini memasuki masa pensiun. Meski sudah tidak sebagai pemimpin redaksi, tenaga dan pemikirannya masih dibutuhkan Suara Merdeka,'' tutur dia.

Mengutip pesan almarhum H Hetami, pendiri Suara Merdeka, Budi Santoso mengingatkan, orang dan pengasuh koran boleh tua dan akan mati. Namun korannya harus tetap muda dan tidak boleh mati. ''Itu yang harus dipegang terus. Dan harus dijabarkan dalam berbagai kebijakan,'' kata dia.

Karena itu, saat Suara Merdeka memasuki usia ke-54, lanjutnya, semua karyawan harus memahami dan memiliki empat prinsip, agar koran ini tetap eksis dan diakui masyarakat. Keempat prinsip itu, yakni loyal, cerdas, cepat, dan akurat.

Loyal dalam arti loyalitas kepada perusahaan dan profesi. ''Loyalitas pada perusahaan harus dilakukan dengan menjalankan sistem perusahaan secara baik. Kalau itu dilakukan berarti mampu memberikan kontribusi kepada perusahaan,'' ujarnya.

Sedangkan loyalitas kepada profesi, kata dia, sebagai wartawan khususnya harus bekerja profesional sesuai dengan kode etik jurnalistik dan peraturan.

Bagaimana dengan prinsip cerdas dan cepat? Menurut dia, seorang pekerja di dunia pers harus cepat melihat dan menangkap kesempatan. Apakah itu peluang dalam meraih pasar ataupun mendapatkan berita. ''Untuk melakukannya, harus cerdas dan cepat bertindak agar tidak kalah dari pesaing lain. Kalau cerdas, tapi tidak cepat ya ketinggalan,'' ujarnya.

Yang menentukan, lanjutnya, prinsip akurat. Bagaimanapun, keakuratan ini harus mampu menjadi tolok ukur kualitas Suara Merdeka. ''Mengurangi kesalahan sedikit mungkin harus sudah menjadi budaya, sehingga tidak ada lagi ralat berita dan tidak ada pula permintaan maaf,'' ungkapnya.

Keempat prinsip itu kemudian ditulis oleh Budi Santoso di atas sebuah kanvas: ''Loyal, Cerdas, Cepat, Akurat''. Kata-kata tersebut kemudian menjadi ''pepeling'' bagi semua karyawan ketika melakukan tugas.

Dalam acara puncak peringatan ulang tahun itu, Budi Santoso juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh rakyat Jawa Tengah atas kepercayaannya kepada Suara Merdeka. ''Koran ini menjadi besar karena kepercayaan masyarakat Jateng yang begitu besar pula.''

Dalam acara perayaan itu juga diserahkan beasiswa bagi putra-putri karyawan dan agen Suara Merdeka yang berprestasi di sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Diserahkan pula penghargaan kepada 5 wartawan berprestasi, yakni Setiawan Hendra Kelana, Arie Widiarto, Setyo Sri Mardiko (ketiganya dari Biro Kota), Setyo Wiyono dan Bambang Purnomo (Biro Solo).

Di akhir acara, Ny Sarsa Budi Santoso memotong tumpeng nasi kuning. Potongan nasi kuning itu kemudian diberikan kepada Budi Santoso yang selanjutnya diberikan kepada Pemimpin Redaksi yang baru Sasongko Tedjo. Diserahkan pula cendera mata kepada Sutrisna yang akan memasuki masa pensiun setelah 39 tahun mengabdi dan ikut membesarkan Suara Merdeka.

Sementara itu, Sutrisna dalam sambutannya menceritakan bagaimana perjalanan Suara Merdeka selama 54 tahun ini. Dimulai era menempati kantor di emperan bangunan di Jalan Merak pada tahun 1965 dengan 12 wartawan sampai sekarang yang telah mengalami kemajuan. Lalu, bagaimana kesan bekerja bersama almarhum H Hetami? ''Beliau sebagai ayah sekaligus guru,'' tuturnya. (G17-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA