
| Kamis, 12 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Bocah SD Diculik, Diajak Ngamen ke SoloSEMARANG- Seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas II SD diculik pengamen bernama Eko Hartono (17), warga Balong, Sragen, saat bermain di depan Pasar Swalayan Sri Ratu Peterongan. Lima hari setelah penculikan itu, tersangka ditangkap polisi ketika sedang mengajak korban mengamen di Terminal Tirtonadi, Solo, Rabu (11/2). Tersangka Eko Hartono selama di Semarang tinggal di sebuah rumah singgah di Jalan Unta. Adapun korban adalah Wahyu Mohtarom (8), tinggal di Jalan Lamper Mijen Utara, Peterongan. Eko tak hanya sekali ini menculik anak kecil. Sebelumnya, dia mengaku pernah menculik tiga bocah di Desa Batu, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak pada Juni 2003 silam. Diduga, mereka hendak dijual ke jaringan perdagangan anak. Dua dari mereka, Joko Susilo (10) dan Saiful Bahri (10), dipulangkan. Adapun seorang lainnya, Yudistira (10), ditemukan di Terminal Terboyo. Berdasarkan catatan Suara Merdeka, Eko juga pernah ditangkap aparat Polres Sragen dalam kasus serupa pada pertengahan Agustus 2003. Saat itu, bersama seorang pelaku lainnya bernama Sutarto (19), Eko menculik Yado Sahrindi Nudin (9) siswa kelas III SD Kemiri Muka 2 Depok. Selama diculik, Yado dipaksa mengamen di jalan raya dan stasiun kereta api. Hingga kemarin petang, penyidik Unit Bunuh Culik Polwiltabes Semarang masih memintai keterangan tersangka. Pemeriksaan itu akan terus dikembangkan terutama untuk menyelidiki kemungkinan apakah pemuda yang hanya lulus SD itu terlibat sindikat perdagangan anak, atau ada motif lain di balik tindakannya yang sangat meresahkan orang tua korban tersebut. ''Memang ada dugaan ke arah itu, karena tersangka mengaku sebelum ini juga pernah menculik anak lain. Benar tidaknya dugaan tersebut masih kami selidiki,'' jelas Kasat Reskrim Polwiltabes Komisaris Wagisan. Diajak Mengamen Hanya, pemeriksaan tersangka menemui sedikit kendala. Karena Eko memperlihatkan gejala kelainan jiwa. Itu terlihat dari gerak-gerik dan perkataannya yang terkadang tidak nyambung saat ditanya. Dia bahkan mengaku pernah dirawat di RSJ di Solo. Sejauh ini, Eko mengaku membawa pergi Wahyu karena dia ingin mengajaknya mengamen bersama. ''Kalau ada teman, ngamennya lebih enak,'' ujar Eko yang sudah mengenal Wahyu sejak dua bulan silam karena mereka sama-sama mengamen. Eko mengajak pergi Wahyu pada Jumat (6/2) petang. Saat itu, mereka sedang mangkal dalam jarak yang terlalu jauh di sekitar Sri Ratu. Wahyu mengaku mau ikut karena Eko mengatakan hanya akan mengajaknya ke depan arena biliar Metro yang berjarak sekitar 300 meter.
Ternyata, bocah itu diajak naik bus jurusan Semarang-Solo. Selama lima hari dia ikut Eko mengamen di bus-bus jurusan Solo-Sragen. Bila malam, Wahyu tidur di rumah Eko. Beberapa kali dia meminta diantar pulang, tapi Eko menolaknya. ''Aku kangen Bapak,'' ucap Wahyu yang masih tampak ketakutan ketika ditanya di ruang penyidik. Meski selama diculik dia diperlakukan cukup baik, bocah itu terlihat trauma hingga enggan menjawab pertanyaan wartawan secara detail. Penculikan itu baru dilaporkan ibu korban, Rukini (40), ke Polwiltabes pada Senin (9/2). Hari itu pula Kanit Bunuh Culik AKP Sunaryono dan anggotanya memulai penyelidikan. Setelah mengantongi keterangan sejumlah saksi, Rabu (11/2) beberapa personal tim reserse kriminal bergerak menuju ke kota-kota di sepanjang jalur Semarang-Solo. Sampai di Bawen, salah seorang tim bertemu dengan Yudi (12), kakak Wahyu yang juga pengamen, sementara tim lainnya meluncur ke Sragen dan Sukoharjo. Yudi kemudian diajak mencari adiknya ke Solo. Polisi kemudian menemukan tersangka saat sedang mangkal di Terminal Tirtonadi. Dia diringkus tanpa perlawanan. (G3-84j) |