
| Kamis, 12 Februari 2004 | Internasional |
Perebutan Bocah Yatim Piatu Berakhir DramatisTAIPEI - Seorang bocah laki-laki yatim piatu Tionghoa - yang diperebutkan dua keluarga yang ingin mengadopsinya - akhirnya Rabu kemarin harus meninggalkan sanak familinya di Taiwan. Bocah montok tersebut akan ikut neneknya di Brasil, dan dengan demikian bakal menutup sengketa hukum tiga tahun dua pihak yang berebut untuk mengasuh dirinya. Iruan Ergui Wu (8) dikelilingi sejumlah polisi, sanak keluarganya yang terus menangis, penduduk desa, dan para wartawan, ketika akan memasuki kawasan Bandara Kaohsiung, kemarin. Dari kota di Taiwan bagian selatan itu, dia akan terbang dengan pesawat selama 40 jam ke Sao Paulo di Brasil, via Hong Kong dan Johannesburg (Afrika Selatan). Mengenakan jaket warna kuning cerah dan memegang erat tangan paman dan bibinya yang selama ini merawatnya di Kaohsiung, bocah itu tampak lebih santai daripada dua hari lalu. Pada waktu itu, dia diambil paksa oleh petugas pengadilan dari rumah paman dan bibinya di sebuah desa nelayan di Kaohsiung. ''Saya katakan padanya: kami minta maaf karena gagal mempertahankan kamu dan terpaksa melepasmu. Jangan salahkan paman dan bibi. Salahkanlah pemerintah,'' kata Wu Huo-yan, sang paman, kepada para wartawan setelah pesawat yang membawa Iruan lepas landas. ''Semoga hidupnya bahagia di Brasil,'' tambahnya, sambil berurai air mata. Warga Beri Dukungan Tahun lalu, pengadilan Taiwan memutuskan bocah yatim piatu itu harus diserahkan (untuk dibesarkan) kepada neneknya dari pihak ibu di Brasil, Rosa Leocadia Da Silva Ergui. Ayah Iruan adalah seorang kapten kapal penangkap ikan Taiwan yang kecantol pada seorang wanita Brasil dan menikahi wanita itu (ibu Iruan) di Brasil. Keduanya telah meninggal dunia. Sekalipun pengadilan telah mengeluarkan keputusannya, Wu Huo-yan (yang mengasuh kemenakannya itu sejak bapak Iruan meninggal pada 2001), menolak menyerahkan bocah itu dengan alasan kemenakannya ingin tetap di Taiwan. Polisi pun datang untuk mengambil paksa bocah yatim piatu itu dari rumah Wu pada Senin malam lalu. Puluhan penduduk desa yang bersimpati, coba menghalangi polisi dan bentrok fisik pun tak terelakkan. Kemarin, banyak penduduk desa datang ke Bandara Kaohsiung untuk menunjukkan dukungan. Mereka meneriakkan kata-kata yang bernada membesarkan hati sang bocah. ''Kami berharap dia dapat pulang mengunjungi kami setiap tahun, pada hari-hari libur,'' kata Lee Su-hua, sang bibik yang menyertai Iruan ke Brasil bersama sejumlah wakil nenek bocah itu yang datang menjemput. Perebutan anak itu di pengadilan dimulai, setelah bapak Iruan meninggal dunia tidak lama setelah dia dan anaknya itu pulang ke Taiwan pada 2001. Sang ibu meninggal di Brasil beberapa tahun kemudian.(rtr-ed-30) |