
| Selasa, 10 Februari 2004 | Tajuk Rencana |
Ulurkan Tangan bagi yang Menderita- Gempa besar di Nabire sudah berselang tiga hari. Namun hingga kemarin, getaran-getaran susulan masih terus terjadi. Ada yang melaporkan getaran itu terjadi susul-menyusul rata-rata setiap dua jam. Meskipun getaran itu makin lemah, tetap menyebabkan rasa waswas penduduk kota di pantai utara Papua itu. Pada Minggu, terjadi getaran terasa agak keras mencapai angka 5,3 skala Richter. Telah jauh menurun dibandingkan dengan getaran pada puncak malapetaka Jumat yang 6,9 skala Richter. Gempa itulah yang meluluhlantakkan berbagai bangunan besar dan merenggut korban jiwa relatif banyak. - Betapa besar kerusakan tampak dari akibat yang kini dirasakan masyarakat. Kota Nabire lumpuh total. Sekolah terpaksa ditutup karena bangunannya selain ada yang ambruk seluruhnya, ada juga yang rusak berat sehingga berbahaya untuk menampung anak didik. Betapa dahsyat gempa pada Jumat lalu, bisa kita saksikan pula dari gambar-gambar bangunan yang roboh. Misalnya masjid besar Nabire, gereja, perkantoran pemerintah, dan rumah-rumah penduduk. Yang harus segera dipikirkan adalah bantuan bagi penduduk. Menko Kesra Yusuf Kalla sudah menyerahkan bantuan sementara Rp 1 miliar. Namun itu jauh dari cukup. Yang dirawat di rumah sakit dan yang tinggal di tenda-tenda masih butuh uluran tangan.
- Bahwa Sekjen PBB Kofi Annan menyerukan bantuan internasional bagi Nabire, itu menunjukkan betapa besar bencana alam tersebut. Pejabat itu bahkan menawarkan diri untuk mengoordinasi dunia internasional yang akan memberi bantuan. Uluran tangan Kofi Annan sangat simpatik, meskipun pemerintah dan masyarakat kita juga selalu siap untuk membantu mereka yang sedang menderita. Salah satu masalah barangkali adalah letak daerah bencana itu yang sulit dijangkau. Sangat jauh jaraknya dari ibu kota Papua, Jayapura, lebih dari 500 km ke barat. Nabire hanya bisa cepat dijangkau lewat udara dengan pesawat kecil. Hal itulah yang harus diatasi ketika hendak memberi bantuan.
- Belakangan ini kita dihadapkan kepada kenyataan betapa banyak bencana alam menimpa berbagai daerah di Tanah Air. Diawali dengan bencana banjir bandang campur lumpur di Sumatera Utara yang merenggut korban jiwa puluhan orang. Banjir di Palembang dan Jambi yang berlangsung berhari-hari, tanah longsor di Purworejo yang menyebabkan 13 warga terkubur hidup-hidup, banjir besar yang menghancurkan jembatan dan jalan serta menenggemkan rumah penduduk, antara lain di Grobogan, Demak, Kendal, Pekalongan, dan Banyumas. Musibah menimpa nelayan di Kota Semarang dan Tegal yang juga merenggut korban. Banjir campur lumpur melanda Pasuruan, Batu, dan Mojokerto di Jatim.
- Orang bisa menghubungkan musibah yang bertubi-tubi itu dengan cuaca. Musim hujan yang turun belakangan ini sangat lebat disertai angin puyuh. Itulah yang menjadi pangkal penyebab bencana itu. Juga berkaitan dengan sikap masyarakat kita terhadap lingkungan beberapa tahun ini. Hutan-hutan produksi maupun hutan lindung banyak yang digunduli dengan semena-mena. Lihatlah hutan-hutan di Blora, Jepara, Pekalongan, Pemalang, Wonosobo, Banyumas, Kebumen, Purworejo, dan banyak daerah lainnya. Ibaratnya, kini kita sedang dipaksa menelan buah pahit perilaku terhadap lingkungan yang keliru besar.
- Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi menyebut bencana alam bertubi-tubi itu sebagai peringatan dari Allah. Masyarakat tak henti-hentinya berbenturan, merusak diri tanpa kesadaran diri sendiri. Semogalah, peringatan itu akan mengingatkan kita semua dalam berperilaku baik terhadap sesama maupun kepada lingkungan. Terutama para pemimpin di berbagai tataran yang memiliki kewenangan dan kemampuan menentukan jalannya kehidupan bangsa. Semoga bencana alam yang dahsyat itu menggugah nurani mereka tentang nasib bangsa, termasuk mereka yang menderita akibat bencana itu. Bukan cuma sibuk mengurusi kursi menjelang pemilu.
|