logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Sala  
Line

Sedekah Bumi Nusantara (1)

''Wani Ngakon Bupati Nyanyi Arep Mbayar Pira?''

PEMKAB Wonogiri, Minggu malam (8/2) lalu menggelar puncak ritual sedekah bumi nusantara, yang dimeriahkan pentas spektakuler kolaborasi sapta budaya.

Yakni memadukan pergelaran wayang kulit dengan enam jenis seni budaya dalam satu panggung.

Pentas wayang kulit semalam suntuk tiga kelir dengan delapan dalang (dalang tiban Bupati H Begug Poernomosidi SH, Ketua Komisi IV DPR-RI Drs H Sumaryoto, Ki Widodo Wilis SSn, Mulyadi PB, Ragil Pudjono, Eko Sunarsono SSn, Anjat Sutrisno, dan Ki Suyati) itu berlangsung di Alun-alun Kabupaten Wonogiri.

Apalagi pergelaran itu dikemas dalam bentuk kolaborasi dengan seni tari, wayang wong, jathilan reog, dangdut, campursari, dan lawak.

Untuk menggoyang pengunjung ditampilkan bintang tamu Uut ''ngecor'' Permatasari. Dengan iringan orkes melayu Santika, Uut mendendangkan dua lagu yakni ''Putri Panggung'' dan ''Mandul''.

Gaya goyangnya yang meliuk-liuk itu seolah menyihir massa larut dalam irama dangdut.

Selanjutnya untuk memberikan kesegaran panggung dan mengocok perut pengunjung disajikan adegan Limbuk-Cangik, oleh pelawak kondang Topan, Supali, dan Ucek serta waranggana Jeanete asal Belanda.

Hj Waljinah pun tak mau ketinggalan ikut meramaikan acara itu dengan mendendangkan lagu legendaris "Walangkekek".

Bahkan Bupati Karanganyar, Hj Rina Iriani SR SPd MHum didaulat menyanyi ke atas panggung.

''Aku iki lak diplekotho Mas Begug, eh Mbak Cangik wani ngakon Bupati nyanyi, iki mengko aku arep dibayar pira?'' ujar Rina sebelum menyanyikan tembang ''Cucak Rawa'' yang syairnya digubah ''Tabah''.

Pamor Baru

Hadir pula Ketua Perhimpunan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Dra Gj Budiwiryanti Sukamdani CHA, yang diminta naik ke panggung. Sebelumnya, digelar panembrama (paduan suara) 150 waranggana dari grup Paguyuban Seniwati Penyanyi Wonogiri (Paspeni).

Mereka menyanyikan aneka tembang Jawa juga lagu-lagu pop dan mars nasional seperti ''Halo-halo Bandung'', ''Pancasila'', ''Maju Tak Gentar''.

Dalam pentas tersebut tiga dalang menyuguhkan percakapan (antawecana) sahut-menyahut. Di sisi lain, lewat kendali dalang, sajian kolaborasi itu dapat memberikan pamor baru bagi pergelaran wayang kulit.

Sebab tidak saja menyuguhkan lawak dan penyanyi dangdut, campursari, keroncong, dan penyanyi ''tiban'', tetapi juga menampilkan tarian prajurit Prawiro Watang dan prajurit Baudi lengkap dengan aksesori seperti gada, tombak, panah, dan pedagang serta aba-aba lewat peluit.

Selain itu diperagakan tari Jathilan Reog beraksesori jaran kepang. Semua itu untuk menggantikan adegan pemberangkatan prajurit wayang tatkala maju perang.

Lebih unik lagi, tarian prajurit itu ditampilkan dengan menyelipkan gerak-gerak jenaka, sehingga enak ditonton dan menghibur.(Bambang Pur-14s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA