
| Selasa, 10 Februari 2004 | Sala |
Alun-alun Kidul Tak Bisa Steril Total dari ProstitusiALUN-ALUN KIDUL-Sekalipun kini alun-alun dinyatakan tertutup bagi aktivitas dan arus lalu lintas umum, itu bukan berarti bisa benar-benar steril dari aktivitas yang pernah lama berlangsung di sana, terutama prostitusi. Sebab, tiga pintu masuk selain Kori Brajanala Kidul kerap dirusak. Atau sebagian pagar di sisi timur masih roboh dan mudah digunakan orang untuk keluar-masuk. "Sekarang mau apalagi? Semua pintu sudah ditutup. Sudah ada ketegasan Alun-alun Kidul tertutup untuk umum. Namun kalau di sana dijebol, besok di sini dijebol, mana mungkin bisa steril? Apalagi ada pagar ambruk cukup panjang di bagian timur. Sistem pengamanan apa pun sulit mengatasi itu," tutur Ebit Pramudijanto, pengawas lapangan revitalisasi keraton, mengutip keterangan Ketua Lembaga Hukum Keraton Surakarta, KP Edy Wirabhumi, kemarin. Kondisi itu, kata dia, terlepas dari kelemahan sistem keamanan. Pengawasan bersama lemah karena pengawasan dari masyarakat lingkungan lemah. Meski, sudah ada kerja sama sistem pengamanan yang melibatkan Polsek dan Koramil Pasarkliwon, pemerintahan tiga kelurahan, unsur keamanan keraton, dan lain-lain. KP Edy Wirabhumi menyatakan kekenduran salah satu komponen sistem pengawasan dan sarana fisik belum bisa diwujudkan, kawasan itu tidak bisa steril dari aktivitas prostitusi. Namun segala sarana fisik yang akan diwujudkan pada tahap III revitalisasi yang akan segera datang juga belum menjamin kawasan itu terbebas dari prostitusi, perjudian, dan sebagainya. Dilakukan Bersama "Tugas dan fungsi pengawasan itu mutlak dilakukan bersama dengan berbagai institusi aparat keamanan, keraton, dan masyarakat lingkungan. Itu baru jitu. Selain itu harus ada penegakan hukum lebih tegas terhadap setiap pelanggaran," ujar menantu Sri Susuhunan Paku Buwono XII itu. Suami GRAy Koes Moertiyah itu menuturkan Pasar Gading yang menjadi satu dengan subterminal di dekat gapura atau di luar pagar selatan alun-alun menjadi tempat pelarian para bekas penghuni liar yang dulu melakukan aktivitas prostitusi dan perjudian. Karena itu, kalaupun alun-alun selesai direvitalisasi seperti desain yang diharapkan, aktivitas penyakit masyarakat itu sewaktu-waktu tetap mengancam. Agar lebih steril sesuai dengan harapan, lanjut kandidat doktor bidang hukum di Undip Semarang itu, kawasan Pasar Gading juga harus direvitalisasi sesuai dengan fungsi dan makna filosofis alun-alun kelak. Berkait dengan itu, pekerjaan fisik renovasi akan berlangsung pada giliran berikut setelah seluruh tahap selesai. "Dana tahap III revitalisasi yang kami ajukan kelihatannya bisa turun sekitar Rp 6 miliar. Selain untuk Alun-alun Kidul juga untuk meneruskan kawasan lain seperti Alun-alun Lor dan Pendapa Magangan," kata Koordinator Tim Teknis Revitalisasi Keraton itu. (won-42s) |