logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Olahraga  
Line

Mahesa Jenar Perlu Diruwat

SETIA- memprediksi hasil pertandingan yang dilakukan PSIS Semarang di Kompetisi Liga Bank Mandiri, Bos Edi mengakui sebenarnya sulit menerawang kekuatan tim Mahesa Jenar ketika akan menghadapi lawan-lawannya. Sebab, hingga saat ini pancaran magis tim asuhan Cornelis Soetadi itu selalu tak tertangkap secara jelas.

''Ini menandakan PSIS sebenarnya baru terbelenggu oleh sengkala, sehingga benar-benar labil,'' ujar duda bertubuh tambun itu.

Dijelaskannya pula, kalau tidak sedang terkena sengkala, bisa jadi pada waktu pembentukan tim dulu, syarat magisnya terlalu diabaikan, misalnya kurang bancakan. ''Sebagai orang Jawa, mau berangkat bekerja ataupun bermain saja perlu baca mantra, apalagi ini ibarat menghadapi perang,'' tandas paranormal ini.

Ketika diingatkan, syarat seperti itu jelas tidak rasional, ahli supranatural yang beberapa kali berpacaran dengan penyanyi dangdut ini menyatakan terserah.

''Sulit saya menjelaskan secara rasional, karena namanya saja dunia supranatural, sesulit kita menganalisis bagaimana tendangan penalti seorang pemain kaliber dunia bisa melenceng jauh dari mulut gawang,'' kata pemilik dua studio radio terkemuka di kota Pati yang kekayaannya membuat dia bagai ''raja kecil'' di kota pensiunan itu.

1 Sura

Secara kualitas tim dan pemain, sebenarnya pasukan Mahesa Jenar cukup bisa diandalkan, tetapi terlihat nyata bahwa ibarat pendekar atau jago gelut, kesebelasan Semarang ini masih kelihatan lawaran atau tanpa piandel/senjata andalan. Artinya, masih diperlukan polesan-polesan nonteknis agar dari bleger-nya saja sudah bisa membuat grogi lawan sebelum bertanding.

Untuk mengatasi kekurangan seperti yang diutarakan tadi, kini PSIS perlu diruwat mumpung ada waktu cukup sebelum melanjutkan laga mereka pada lanjutan Kompetisi Liga Bank Mandiri. Bukannya menakut-nakuti, PSIS bakal memainkan pertandingan lanjutan di kandang sendiri melawan tim ''gendheng'' Persita Tangerang pada 22 Februari mendatang.

Hari itu tepat jatuh pada Minggu Wage, 1 Sura, yang merupakan Tahun Baru Jawa 1937.

''Ini bukan main-main, hajat besar yang menyerap ribuan orang, terkait dengan luapan emosi, tanpa dilambari dengan syarat-syarat magis, bisa dibayangkan,'' gerutunya.(Djito Patiatmodjo-22t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA