logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Olahraga  
Line

Semarang Berlian, Sinarnya Masih Redup

CUKUP indah kedengarannya nama itu. Nama tersebut muncul saat tim bola voli Tunas Berlian diundang dalam kejuaraan Pra-Proliga 2004 di Bandung, 5-8 Februari lalu.

Tapi akan lebih indah lagi, kalau nama ini tidak sekadar beredar dalam orbit yang sempit: sebatas meramaikan kejuaraan semacam itu. Dan bilapun berbicara, tidak di level Semarang seperti yang tercantum dalam riwayat hidup klub tersebut. Berlian dari Semarang itu memang sinarnya masih redup. Perlu diasah lagi agar sinarnya lebih kemilau dan memancar ke seluruh penjuru Nusantara.

Hanya persoalannya memang tidak mudah. Yang jelas, Semarang Berlian itu adalah format peserta Proliga 2004 yang harus mencantumkan nama kota. "Terus terang Mas, kalau melihat materi saat ini, cukup berat harus bersaing di Proliga. Bilapun ada yang pantas, jumlahnya tak banyak," kata setter andal Yuso Yogyakarta, Sodikin.

Sodikin turut memperkuat Semarang Berlian. Bergabungnya dia ke tim, mengingat sebagian besar pemainnya merupakan anggota Pelatda Bola Voli PON/XVI Jateng. "Saya ingin membangun kekompakan," katanya.

Beberapa rekannya yang dirasa cukup pantas bermain di Proliga adalah M Ghufron, bekas spiker Jakarta Sananta, dan kapten Machmudi. Selebihnya, muda-muda dan minim pengalaman.

Meski begitu, ada talenta menjanjikan seperti spiker Wahyu Prabowo, anggota timnas pelajar untuk Kejuaraan Asia di Hong Kong 2003.

Dengan komposisi senior-yunior, hasil yang diperoleh Semarang Berlian yang bernama lain Tunas Berlian tidaklah mengecewakan. Dua kali kalah dari dua tim kuat Bandung Telkomsel dan Jakarta Monas, serta sekali menang atas tim BTPN yang tahun depan berniat ikut Proliga.

Pujian pun datang dari gembong dunia bola voli Jabar, Dadi Saridji. "Penampilan mereka lebih bagus dari Jakarta Sananta (klub Proliga yang kini sudah bubar)," kata petinggi klub Bandung Tectona (kini Telkomsel) itu.

"Kami ini bukan klub bermodal kuat, Mas. Diambil Setwan DPRD Jateng saja, kami sudah bersyukur. Paling langkah kita mempromosikan pemain-pemain untuk dilirik klub Proliga," kata pelatih Semarang Berlian, Ali Yabudhi.

Langkah itu satu paket dengan proses pematangan, mengingat sebagian besar adalah materi Pelatda PON Jateng seperti halnya Pelatda PON Jabar, yang bedanya terkumpul dalam satu wadah Bandung Telkomsel.

Perbedaan lainnya, Jabar jelas lebih fokus dalam membangun kerja sama tim. Mengapa Jateng tidak mengambil langkah serupa. Dananya bisa diambil dari dana uji coba, pasti ada alokasinya dari KONI plus donatur lainnya.

Namun beda lagi kalau alasannya cabang ini tidak berpotensi meraih medali. Harapan lain, apakah insan bola voli di Jateng tidak memiliki cita-cita membidani kelahiran tim Proliga dari daerahnya?

Anggap saja kehadirannya untuk meramaikan atmosfer pembinaan di Jateng agar lebih semarak dan bergairah. Persoalannya kan mau tidak untuk menggali potensi yang ada?

Karena kabarnya ada instansi di Jateng yang mau mengambil alih kelangsungan hidup klub Bandung Tectona di Proliga 2004, sebelum diambil Telkomsel, saat mereka sedang kolaps ditinggalkan penyandang dana sebelumnya, yakni Perhutani. Lha piye tho? (Setiady Dwie-57t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA