logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Olahraga  
Line

"Kematian Petinju karena Kurang Disiplin"

JAKARTA - Tokoh tinju profesional Indonesia menyesalkan banyaknya kematian petinju di atas ring. Dalam peristiwa itu kesalahan ditudingkan pada pelatih dan manajer. Tokoh tinju seperti Elyas Pical, Nico Thomas, Sutan Rambing, dan Boy Bolang membahas masalah itu pada acara diskusi pengamanan dan keselamatan petinju dalam pertandingan tinju profesional di Jakarta, Senin. Diskusi itu diselenggarakan oleh Ippepin dan MOI. Mereka menyatakan, kematian adalah kelalaian berkelanjutan karena pengutamaan bisnis daripada keselamatan petinju.

"Sebagian besar petinju yang naik ring tinju profesional belum profesional. karena itu wajar banyak yang mati," kata Boy Bolang yang pernah menjadi promotor tinju.

Boy juga menuding pihak promotor, Hery Aseng Sugiarto dan televisi RCTI turut atas terjadinya musibah. Sebab mereka mengetahui petinju mana yang layak dipertandingkan dan yang tidak. Mereka seharusnya tidak sekadar mengejar target pertandingan.

Elyas Pical melihat kematian petinju selama ini karena kekurangdisiplinan pada petinju itu sendiri. "Sewaktu saya juara dunia, disiplin saya tegakkan. Bahkan disiplin saya seperti presiden," kata Elyas Pical dengan terbata-bata.

Bahkan Nico Thomas yang juga mantan juara dunia menyatakan banyak petinju naik ring tidak melalui prosedur yang jelas. Contohnya, ada petinju yang belum pernah bertanding secara profesional sudah main dengan enam ronde. Seharusnya mereka bertanding empat ronde dulu.

"Selama ini penanggung jawab pertandingan tinju sangat ngawur, bahkan berkesan amburadul," ujar dia. (ant-57i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA