
| Selasa, 10 Februari 2004 | Olahraga |
Tak Ada Lagi Kebanggaan Jadi Pemain NasionalJAKARTA-Saat ini tidak ada lagi kebanggaan menjadi pemain nasional. Erosi motivasi dan minimnya semangat juang serta tidak ada rasa tanggung jawab dari pemain, menjadi warna dominan dalam tim nasional. Itu semua menjadi penyebab kemerosotan prestasi yang dialami Indonesia dewasa ini. Demikian salah satu butir kesimpulan dari diskusi bertema ''Kebanggaan dan Profesionalisme Pemain Tim Nasional'' yang diselenggarakan oleh Koordinatoriat Wartawan Sepak Bola bekerja sama dengan Bidang Tim Nasional (BTN) PSSI di Hotel Santika Jakarta, baru-baru ini. Enam pembicara terlibat dalam diskusi itu. Sesi pertama menghadirkan manajer timnas Andi Darussalam Tabusala, mantan pelatih timnas Rachmad Darmawan, serta Nuralim, pemain teras Persita Tangerang yang selama 12 tahun membela tim Merah Putih. Pada sesi kedua tampil Ketua BTN Muhammad Zein, Manajer Tim PKT Bontang Arif Budi Santoso, serta Djunaidy Abdillah, yang jadi langganan timnas pada periode 1970-an. Andi Darussalam Tabusala menyatakan, kemerosotan prestasi sebenarnya tak semata-mata harus dipertautkan dengan hilangnya semangat kebangsaan atau kebanggaan karena menjadi pemain pilihan. Pertamina Ketika memberikan sambutan pada diskusi ini, Ketua Umum Nurdin Halid menuturkan PSSI berhasil menggaet Pertamina sebagai sponsor utama pergelaran kompetisi Divisi I, yang akan diputar mulai 15 Februari mendatang. ''Kabar baik ini baru saya peroleh sekitar sepuluh menit lalu dari saudara Agusman Effendi, ketua bidang usaha dan dana PSSI,'' kata Nurdin Halid. Pada kesempatan itu, dia tidak secara detil menyebut nilai kontrak sponsorship Pertamina tersebut. Dia hanya mengutarakan kegembiraannya bahwa akhirnya kompetisi Divisi I memperoleh sponsor. ''Sejak awal bahkan kita berharap, kalau bisa kompetisi divisi II pun bisa dapat sponsor,'' jelas Nurdin. Menurut Agusman Effendi, nilai kontrak tersebut sebenarnya masih jauh dari harapan. Dia tidak mau menyebutkan besar nilai kontrak. Agusman hanya tertawa ketika disodorkan angka lima atau enam miliar. ''Pokoknya jauh di bawah Bank Mandiri,'' kata Wakil Ketua Komisi VII DPR ini. Dia mengisyaratkan, karena masih minimnya nilai kontrak, kini sedang diupayakan kemungkinan memperoleh sponsor kedua. Agusman cukup optimistis pihaknya akan berhasil mencari penyandang dana tambahan.Salah satu kiatnya, dengan kemungkinan memisahkan jadwal pertandingan kompetisi Divisi I dengan Divisi Utama, khususnya untuk kepentingan promosi dan publikasi. ''Kalau pertandingan kompetisi Divisi I dilangsungkan bersamaan dengan Divisi Utama, kalau kompetisi Divisi I kalah pamor, sehingga publikasi atau promosinya akan kurang,'' jelasnya.(D3-22) |