logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Kesalahan dalam Berhaji (1)

Mengusap Hajar Aswad Demi Berkah

SEORANG calon haji dari Turki tampak asyik mencongkel tanah bebatuan. Dia kemudian memasukkan sebongkah batu ke dalam botol plastik yang dibawanya. Sementara itu tak jauh darinya ada tanda peringatan: ''Dilarang mengambil tanah atau bebatuan di Jabal Uhud''. Tanda ini punya tujuan jelas. Jamaah diminta untuk tidak tergelincir kepada tindakan syirik.

Di Bukit Uhud juga terdapat lokasi makam Syaidina Hamzah. Di depan pagar juga diperingatkan, jamaah hendaknya tidak berdoa meminta sesuatu kepada penghuni kubur.

Hal-hal semacam ini memang berkaitan dengan niat di dalam hati seseorang. Mungkin masih banyak yang tak bisa membedakan antara hal-hal yang seharusnya boleh dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan. Terutama di daerah-daerah yang memang masih kental memiliki kepercayaan-kepercayaan yang tak sesuai dengan ajaran Islam.

Karena itu, calon haji dari Indonesia sepertinya perlu selalu mengingat hal-hal yang berkaitan dengan niat di dalam hati. Janganlah niat ini didasarkan pada selain Allah. Perlu selalu ingat bahwa hanya Allah yang akan memberi, Allah yang akan melindungi, dan Allah yang menghukum kita.

Selalu ingat pula bahwa ketika menunaikan ibadah haji, jamaah sedang dalam perjalanan yang penuh berkah, yang berlandaskan pada tauhid dan ikhlas kepada Allah. Demi memenuhi panggilan-Nya, menaati perintah-Nya, mengharapkan pahala dari-Nya, serta menaati perintah Rasul-Nya, Muhammad SAW.

Kemudian dalam beribadah haji juga perlu diketahui mana yang harus didahulukan, dan mana yang bisa dilakukan belakangan atau malah ditinggalkan saja. Jangan sampai jamaah memberikan prioritas kepada hal-hal yang sunah, tetapi justru melupakan hal-hal yang bersifat wajib.

Beberapa Kesalahan

Sering dalam berhaji, karena ingin bersungguh-sungguh melaksanakan amalan, jamaah justru terjebak dalam beberapa kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini bisa dihindari manakala jamaah selalu mengingat mana yang wajib dan mana yang sunah, dan mana yang harus ditinggalkan.

Berikut beberapa kesalahan itu seperti tertulis dalam buku panduan haji yang dicetak oleh panitia di Arab Saudi.

Pertama, melampaui miqat yang dilaluinya tanpa berihram. Padahal, Rasulullah SAW mengharuskan setiap jamaah haji berihram dari miqat yang dilaluinya. Maka menjadi kewajiban bagi jamaah yang melanggar untuk kembali ke miqat yang dilaluinya dan berihram di sana jika memungkinkan. Jika tidak di Makkah, dia harus membayar dam menyembelih seekor kambing.

Kedua, sering pula jamaah memulai tawaf tidak dari Hajar Aswad. Padahal, yang wajib adalah dari Hajar Aswad. Atau tawaf melalui Hijir Kakbah, yang berarti dia tidak mengelilingi seluruh Kakbah. Maka tawafnya dianggap tidak sah.

Kemudian berdesak-desakan dalam mencium Hajar Aswad, bahkan sampai saling mencaci-maki. Ini sebenarnya tidak boleh dilakukan karena menyakiti hati sesama. Padahal, menyakiti orang lain hukumnya wajib ditinggalkan. Sementara mencium Hajar Aswad hukumnya sunah.

Saya sering ngeri melihat bagaimana persaingan ingin mencium Hajar Aswad, terkadang tidak lagi mengenal belas kasihan kepada wanita dan orang tua.

Orang-orang Turki atau Afrika yang berbadan besar bisa menyikut ibu-ibu atau orang tua jamaah negara lain atau jamaah Indonesia. Guna menurutkan keinginan pribadi sendiri, mereka tak segan melukai orang lain.

Sebenarnya meninggalkan mencium Hajar Aswad tidak akan merusak tawaf, dan tetap dianggap sah. Saat tawaf dari jauh cukup memberi isyarat sambil bertakbir saat sejajar Hajar Aswad.

Kemudian tidak diperkenankan mengusap-usap Hajar Aswad untuk meminta berkah dari batu itu. Menurut Nabi, cukuplah mencium dan mengusapnya karena niat ibadah kepada Allah SWT.

Sering pula ada jamaah yang mengusap seluruh sudut Kakbah. Rasulullah tak pernah melakukan hal itu. Beliau hanya mencium dan mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja. (33t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA