logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Puluhan Tukang Becak Unjuk Rasa

  • Memprotes Bus Lewat Pelabuhan

SEMARANG UTARA - Puluhan tukang becak menggelar aksi unjuk rasa di sekitar lampu bangjo pertigaan Jl Yos Sudarso-Jl Usman Janatin, dekat Pos 1 Pelabuhan Tanjung Emas, Senin (9/2).

Mereka meminta agar bus-bus antarkota dalam provinsi (AKDP) jurusan Limpung, Sukorejo dan Boja (Kendal) tidak diperbolehkan memasuki Jl Usman Janatin dan Jl Mpu Tantular.

Masuknya bus-bus itu ke Jl Usman Janatin dan Mpu Tantular membuat pendapatan mereka menurun. Banyak calon penumpang yang kini lebih memilih menumpang bus untuk ke Pasar Johar atau Jl Tawang. Aksi dimulai sekitar pukul 08.30 dan diikuti puluhan tukang becak dari kawasan lain, seperti Kebonharjo, Kalibaru dan Tikung Baru.

Sejumlah becak diparkir melintang menutupi ujung Jl Usman Janatin. Bus-bus AKDP dari Kendal dihalau agar melewati Jembatan Arteri Yos Sudarso terus ke timur sampai Jl Raya Kaligawe. Sekitar setengah jam kemudian, sejumlah aparat Polsek Semarang Utara dan Polres Semarang Timur datang ke lokasi. Waka Polsek Semarang Utara Iptu Suwarno HS langsung turun ke jalan memberikan pengarahan kepada para tukang becak.

Para tukang becak itu akhirnya bersedia menepikan becaknya. Namun mereka meminta aparat kepolisian menghalau bus-bus AKDP itu agar tidak melintasi Jl Usman Janatin. Setelah diberi pengarahan mereka akhirnya bersedia membubarkan diri.

Kesulitan Makan

Tukang Becak asal Desa Serangan, Bonang, Demak, Singgang (45) mengatakan aksi demo terpaksa dilakukan karena sudah beberapa bulan ini penghasilannya menurun akibat bus-bus AKDP dari Kendal memasuki Jl Usman Janatin. Kondisi itu menyebabkan dia hanya mendapat uang Rp 5.000 per hari.

''Sampai-sampai kami kesulitan makan. Setiap hari mendapat Rp 5.000 saja sulit. Uang SPP anak saya yang sekolah di SMK sudah tiga bulan belum terbayar.''

Seno (32), tukang becak asal Purnosari, Kemijen, Gayamsari menambahkan, dulu dia bisa mendapat Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per hari. ''Sekarang ini mendapatkan Rp 3.000-Rp 5.000 saja berat sekali. Padahal, anak istri saya harus makan. Kalau penumpang diambil bus semua, anak-stri saya diberi makan apa nanti,'' keluhnya.

Waka Polsek Iptu Suwarno HS yang juga mantan Lurah Bandarharjo itu meminta para tukang becak tidak berbuat anarkis. ''Perbuatan anarkis hanya akan merugikan semua pihak. Karena itu saya minta semua bersabar karena persoalan itu masih harus dibahas dengan Dinas Perhubungan,'' katanya. (G5-63)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA