logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Dam Parit Alternatif Mengatasi Banjir

UPAYA mengatasi banjir di musim hujan dan kelangkaan air di waktu kemarau, tidak akan berhasil jika hanya menggunakan pendekatan klasik, parsial, dan seremonial.

''Untuk itu, diperlukan model, contoh, prototipe dan teladan bagi masyarakat,'' kata Kepala Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Jateng, Ir Bowo Susetyadi kepada Suara Merdeka, baru-baru ini.

Dam parit, alternatif teknologi konservasi air yang dapat mengatasi banjir, kekeringan, dan ketersediaan air untuk usaha pertanian. Fungsinya menampung air di daerah aliran sungai (DAS) yang rapat dengan jaringan hidrologi.

Selain itu, untuk menurunkan kecepatan aliran permukaan, laju erosi dan sedimentasi. Tidak kalah pentingnya, juga untuk meningkatkan cadangan air tanah pada musim hujan, sehingga memberi ketersediaan air di musim kemarau.

Manfaat dam parit bagi usaha tani, waktu tanam dapat maju 1-2 bulan. Serta memberi peluang diversifikasi usaha tani, meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman, karena pasokan air lebih terjamin.

Yang lebih penting lagi, keberadaan teknologi ini, memberi arti bagi peningkatan produksi dan kesejahteraan petani. Di mana air menjadi kunci utama keberhasilan usaha tani yang pada akhirnya akan meningkatkan ketahanan pangan.

Teknologi dengan dana Rp 207 juta (APBD TA 2993) itu, diarahkan pada DAS hulu bercurah hujan tinggi, sarana irigasi belum terjangkau, dan merupakan sumber pertumbuhan peningkatan ketahanan pangan.

Di Tiga Kabupaten

Kegiatan proyek percontohan dari kerja sama BBMKP dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng itu, diadakan di sembilan tempat di tiga kabupaten. Yaitu, Kabupaten Kendal, Temanggung, dan Purworejo.

Di Kendal, ada tiga dam parit dibangun di tuk Cendono yang airnya mengalir ke Sungai Blorong hingga di DAS Bodri. Ketiga bangunan itu lokasinya berada di Desa Limbangan, Kecamatan Limbangan.

Bangunan itu, terdiri atas dam parit Sepunden, Pomahan, dan Gintungan. Dari tiga tempat itu, berhasil mengairi 8,9 ha lahan pertanian yang digarap 20 orang petani. Sebelumnya hanya 3,81 ha lahan yang diairi, dengan tujuh petani penggarap.

Di lahan yang diairi, para petani dapat melakukan diversifikasi tanaman. Bahkan, selain bisa memotong waktu masa tanam, juga dapat menanam di luar musim.

''Hasil tanam di luar musim panen ini, banyak memberi hasil. Karena hasil panenannya bisa dijual dengan harga tinggi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani,'' ujar Ir Bowo Susetyadi.

Di Temanggung, empat dam parit diletakan di Desa Kalimadu, Kecamatan Kaloran. Bangunan yang memanfaatkan air Kali Madu menuju ke Sungai Kalipanas, dan di DAS Progo, bernama Semadu, Semudal, Selegok, dan Segedegan.

Dari empat bangunan tersebut, mampu mengairi di areal pertanian seluas 30,1 ha, dengan jumlah pemakai air 54 petani. Sebelumnya, hanya 9 ha areal sawah yang dialiri air, dengan 15 petani pemakai air.

Untuk Kabupaten Purworejo, dua dam parit dibangun di Desa Cacaban Lor, Kecamatan Bener, dengan nama Lingseng I dan Lingseng II. Keberadaannya mengguanakan air Sungai Bogowonto yang mengalir menuju ke DAS Juweh.

Dari kedua tempat itu, ada 5 ha luas areal pertanian yang dialiri, dengan jumlah pemakai air 51 petani. Sebelumnya, hanya ada 0,15 ha lahan pertanian yang dialiri, dengan jumlah pemakai air lima petani.

Seperti di Kendal, petani di Desa Kalimadu, Kecamatan Kaloran, Temanggung, dan Desa Cacaban Lor, Kecamatan Bener, Purworejo, diharapkan dapat memetik hasil panen yang dapat meningkatkan pendapatannya. (Priyonggo-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA