
| Selasa, 10 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Jembatan Tinjomoyo Gunakan Konstruksi BergerakSEMARANG- Jembatan Tinjomoyo yang ambrol beberapa hari lalu, bisa dibangun lagi, namun tidak menggunakan konstruksi yang kaku. Jembatan yang cocok di tempat itu harus menggunakan konstruksi yang mudah bergerak. Pendapat itu disampaikan Ir Sudjarwanto dari Dinas Pertambangan dan Energi Jateng, Jumat (6/2) pada diskusi terbatas tentang runtuhnya Jembatan Tinjomoyo. Jembatan semacam itu lebih bisa menyesuaikan dengan kelabilan tanah di daerah itu. Upaya awal sebelum membangun jembatan itu, adalah mengupas sebagian lapisan lempung pada lokasi yang nantinya digunakan untuk ujung jembatan. Kupasan itu tidak perlu terlalu dalam, cukup 0,5 meter - 1 meter saja. Tempat itu kemudian diberi lapisan khusus untuk geotekstil, dan di atasnya ditimbun oleh pasir setebal 25 cm - 50 cm. Di atas tumpukan pasir itulah jembatan diletakkan. ''Bahan untuk jembatan juga harus cukup ringan, misalnya dari kayu,'' kata dia. Menurutnya, walaupun berada pada lereng yang tidak terlalu terjal, Tinjomoyo dan sekitarnya merupakan daerah labil. Tanah di tempat itu terdapat lapisan lempung yang bersifat mudah mengalami kembang susut hingga 10 kali volume semula. Lapisan tanah semacam itu membentang mulai dari Gombel ke arah timur sampai ke Tugu Suharto. Batuan serupa mucul lagi di Manyaran sampai Bambankerep Ngaliyan. Kondisi semacam itu, menurutnya perlu dijadikan pertimbangan jika Pemkot akan membangun lagi Jembatan Tinjomoyo. ''Bagungan-bangunan di Tinjomoyo, sebaiknya ringan dan mudah menyesuaikan diri dengan pergerakan tanah,'' kata dia. Air Bah Sementara itu, pakar hidrologi Robert Johanes Kodoatie mengemukakan kesaksiannya saat melihat jembatan itu diterjang air bah hingga ambrol. Dia mengemukakan, Senin (27/1) sore itu dia dalam perjalanan pulang dari Ungaran menuju ke Tinjomoyo. Namun sesampai di Pudakpayung, ternyata hujan turun cukup deras. Dia langsung memacu kendaraannya ke Tinjomoyo, dan sampai di jembatan sekitar 45 menit kemudian. Sekitar 15 menit setelah sampai di tempat itu, dia mendengar suara bergemuruh. Dia melihat air bergulung-gulung dari arah timur menerjang dan menghantam jembatan Tinjomoyo, yang sudah sejak pagi dini hari ambrol. Akibat hantaman air bah itu, riwayat jembatan Tinjomoyo pun berakhir. Berdasarkan pengalaman itu, dia yakin bahwa salah satu penyebab hancurnya jembatan itu, adalah karena tingginya debit Kali Garang pada saat banjir. Menurutnya, gejala alam semacam itu menunjukkan bahwa daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu sudah mengalami kerusakan. Hal itu kemudian juga menyebabkan aliran sungai makin berkelak-kelok. Kondisi semacam ini masih ditambah kondisi lahan di Tinjomoyo yang rentan pergerakan tanah. ''Untuk mengurangi dampak, mestinya pemerintah benar-benar mengendalikan tata lahan di daerah hulu,''' kata dia. (G6-73) |