logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Internasional  
Line

Pertemuan Tim PBB-Dewan Pemerintahan Irak

Mayoritas Dewan Ingin Pemilu Ditunda

BAGDAD - Mayoritas dalam Dewan Pemerintah sementara Irak ingin menunda pemilihan sampai penyerahan kekuasaan oleh koalisi pimpinan AS kepada otoritas Irak, kata Partai Komunis negeri itu, Senin kemarin.

Ketua partai tersebut dan anggota Dewan, Hamid Mussa, memberikan komentar tentang pertemuan hari Minggu antara badan sementara yang ditunjuk AS dan misi PBB yang ditugasi menilai kelayakan pemilihan awal yang dituntut ulama utama Syiah Irak.

"Mayoritas (di dewan tersebut) menginginkan kesabaran, sehingga pemilihan dapat dipersiapkan dengan baik pada tingkat teknik, politik, dan keamanan," kata Mussa, yang berasal dari komunitas Syiah.

Namun dia menambahkan masalah semacam itu tidak dapat diselesaikan oleh mayoritas dan minoritas. Sebaiknya harus ada kompromi dan itulah target misi PBB dan usaha lain yang ditempatkan oleh pihak-pihak Irak yang berbeda.

Menurut Mussa, mereka yang menginginkan pemilihan awal dan mereka yang menginginkan pemilihan ditunda "saling berbicara untuk mencapai konsensus. Dengan demikian, tak perlu dipikirkan istilah mayoritas dan minoritas".

Mussa mengatakan Partai Komunis menginginkan pemilihan ditunda. Organisasinya mempunyai keberadaan historis di Irak namun mengalami tekanan berat di bawah kekuasaan 24 tahun Saddam Hussein.

Pengaruh partainya terhadap warga miskin kota terbatas dibanding dengan pengaruh kelompok "fundamentalis" Syiah.

Tim pemilihan PBB yang terdiri atas sembilan anggota tiba Sabtu lalu untuk menilai apakah pemungutan suara dapat diselenggarakan sebelum penyerahan kekuasaan 30 Juni oleh koalisi pimpinan AS kepada otoritas sementara Irak.

Tentara AS Tewas

Para pejabat koalisi menyatakan bahwa tidak mungkin mengatur pemilihan yang demokratis dan adil di Irak jika suatu negara menghadapi kediktatoran dan kekurangan prasarana pemilihan utama selama beberapa puluh tahun.

Namun pemimpin spiritual Syiah, Ayatollah Ali al-Sistani, telah merusak rencana mereka bagi pemerintahan transisi yang terpilih dalam pertemuan regional, dan menyerukan pemilihan langsung. Tim PBB dipimpin Lakhdar Brahimi, penasihat senior Sekjen PBB Kofi Annan.

Sebelum misinya datang ke Irak, Brahimi memperingatkan bahwa pemilihan sebaiknya ditunda jika situasi di Irak belum stabil dan mendesak PBB tidak membiarkan badan dunia itu berpihak pada kelompok pendudukan pimpinan AS.

Sementara itu, seorang prajurit AS tewas, Minggu lalu, ketika satu bom rakitan meledak di sebelah selatan ibu kota Irak, Bagdad, kata juru bicara militer AS.

"Seorang prajurit AS tewas pukul 16.30 (20.30 WIB) Minggu di dekat Mahmudiyah oleh ledakan IED (bahan peledak rakitan)," katanya.

"IED ditemukan di tengah jalan, sekitar 30 kilometer dari Bagdad," jelas juru bicara tersebut.

Korban jiwa itu membuat jumlah prajurit Amerika yang tewas dalam perang di Irak menjadi 254, sejak Presiden AS George W Bush mengumumkan perang utama berakhir 1 Mei tahun lalu.

Dalam kejadian lain, seorang kontraktor menderita luka parah akibat serangan roket di bandar udara internasional Bagdad, kata juru bicara itu tanpa menyebutkan kewarganegaraan korban.

Dia menyatakan enam roket ditembakkan pukul 19.45 waktu setempat (23.45 WIB) ke bandar udara tersebut, yang dijadikan pangkalan militer AS.

Kunjungan Mendadak

Sementara itu Pangeran Charles dari Inggris, Minggu lalu, melakukan kunjungan mendadak ke Irak. Dia melihat-lihat istana lama Saddam Hussein untuk memeriksa tentara Inggris dan menikmati kopi Arab bersama pejabat setempat.

Pangeran Charles naik pesawat ke kota pelabuhan di Irak selatan, Basrah -pusat komando bagi 10.000 prajurit Inggris yang ditempatkan di Irak sebagai bagian dari koalisi pimpinan AS yang mendepak Saddam Hussein tahun lalu.

Untuk mengurangi risiko keamanan, perincian kunjungan Pangeran Charles hanya diperkenankan disiarkan setelah dia meninggalkan negeri itu, setelah kunjungan lima setengah jam.

Kendati Basrah relatif bebas dari aksi perlawanan yang terus mengganggu banyak wilayah Irak, rahasia keamanan bagi Pangeran Charles nyaris sama dengan operasi bagi Presiden AS George W Bush saat kunjungan mendadaknya ke negeri tersebut November lalu.

"Kami tak biasa membawa Pangeran ke tempat sebahaya ini," kata juru bicara Pangeran Charles.

Pangeran Charles mendarat di Bandar Udara Internasional Basrah dari Kuwait naik pesawat Hercules C130 pukul 13.05 waktu setempat (17.05 WIB) Minggu lalu, kemudian naik helikopter Chinook yang membawanya ke Istana Al-Faw - yang sekarang dijadikan markas Brigade Lapis Baja ke-20.

Tak lama sebelum dia mendarat, suara tembakan terdengar di kota itu. Di antara prajurit yang ditemui Pangeran Charles ialah anggota Resimen Wales Kerajaan Inggris, Batalion ke-2 Resimen Parasut dan Korps Udara Angkatan Darat. (rtr-ant-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA