logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Ekonomi  
Line

Pabrik Kayu Lapis Siap Beroperasi

MAJENANG-PT Waroeng Batok Industri, industri kayu lapis ekspor siap beroperasi. Pabriknya terletak di jalan raya Majenang-Bajarpatroman, tepatnya di Desa Panulisan Barat, Kecamatan Dayeuhluhur, yakni di perbatasan Jateng-Jabar atau sekitar 15 km dari Kota Majenang.

Kehadiran industri itu akan membantu peningkatan ekonomi masyarakat di sekitarnya karena menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja yang mayoritas diambil dari kecamatan paling ujung barat Cilacap tersebut. Belum lagi peluang kegiatan ekonomi lain berupa kemunculan warung-warung makan.

''Selain itu, pasokan bahan baku berupa kayu albasia dari daerah tersebut yang selama ini memang dikenal sebagai sentra penghasil kayu potensial untuk produksi mebel dan perumahan,'' kata Sutar, direktur utama perusahaan tersebut, kemarin.

Dia menyebutkan, pabrik tersebut akan mulai beroperasi sekitar pada awal Maret. Pengoperasian pertama sekaligus untuk menjajaki seberapa besar kemampuan produksi. Pembukaan secara resmi dilakukan bersamaan dengan ekpor perdana sekitar April.

Saat pencanangan ekspor perdana dan peresmian itu, pihaknya akan mengundang Bupati Cilacap Probo Yulastoro dan Ketua DPRD Frans Lukman.

Kedua pejabat tersebut selama ini memberi andil cukup besar, terutama memberi kesempatan bagi investor luar daerah untuk menanamkan modal di Cilacap.

''Namun, kalau ditanya berapa kapasitas produksinya, kami belum bisa menjawab. Pada produksi pertama nanti baru bisa diukur. Pesanan memang sudah berdatangan karena kami punya pasar tetap dan sudah lama bekerja sama,'' ujarnya.

Dia menjelaskan, produksi kayu lapis tersebut nanti akan diekspor ke Cina, Jepang, Korea, Taiwan, dan sejumlah negara di Eropa. Berapa pun yang diproduksi rekanan di negara-negara tersebut siap menampung.

Proses pendirian pabrik itu, kata dia, tidak dilalui secara mudah, tetapi dengan perjuangan cukup panjang dan rumit. Pasalnya, sekitar 10 ha lahan yang menjadi lokasi pabrik dulu berupa tanah tandus dan gembur karena berupa gambut.

''Untuk mendirikan bangunan di atasnya harus diuruk belasan meter tingginya,'' kata Boy Deni Wijaya, presiden komisaris perusahaan itu.

Boy menyebutkan, dulu dirinya pernah berniat mundur setelah melihat lokasinya. Namun, karena permintaan warga dan pejabat di Cilacap begitu kuat, akhirnya diputuskan pihaknya meneruskan pembangunan pabrik tersebut.

Untuk menjaga agar kebutuhan bahan baku lokal tetap tercukupi, pihaknya akan menerapkan pola kemitraan dengan warga di daerah tersebut yang menanam kayu albasia. Bahkan, jika perlu akan dibentuk daerah-daerah binaan untuk budi daya kayu itu.

''Untuk memenuhi sekitar 2.000 karyawan yang mayoritas ditempatkan di bagian produksi, kami akan melakukan perekrutan dalam tiga gelombang. Gelombang pertama pada bulan ini sekitar 750 karyawan. Sisanya pada pertengahan dan akhir 2004.'' (G22-53e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA