
| Selasa, 10 Februari 2004 | Ekonomi |
Lebih Untung Jualan di Pinggir JalanBERBEKAL uang pinjaman bank Rp 20 juta Untung mengembangkan pemasaran mebel di pasar lokal. Itu dilakukan setelah melihat usaha ekspor mebel rotan milik saudaranya di Cirebon mandek. Beberapa bulan lalu pria asal Cirebon itu membeli mebel rotan di tempat saudaranya untuk dijual di Semarang. Tak malu-malu ia menawarkan barang di pinggir jalan, tepatnya di Jalan DI Panjaitan. Sebenarnya dia telah memiliki showroom sekaligus tempat tinggal di Jalan Soekarno-Hatta, tetapi tidak dimanfaatkan karena berjualan di pinggir jalan lebih menguntungkan. Setiap pekan ia mampu mendatangkan dan menjual sekitar satu kontainer berisi berbagai jenis mebel rotan dari Cirebon dengan ongkos angkut Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Dia berani melakukan itu semua karena prospek pemasaran mebel rotan di Semarang masih sangat menjanjikan. Pembeli umumnya pengendara mobil atau motor yang melewati Jalan DI Panjaitan. Setiap hari paling tidak mampu menjual lebih dari satu jenis mebel dengan harga bervariasi bergantung pada model dan kualitas. Untung mengungkapkan mebel rotan yang diproduksi di Cirebon tersebut sebenarnya sudah terkenal di mancanegara. Namun ekspor yang dilakukan pengusaha di sana terhenti. ''Mereka rata-rata karena tertipu oleh makelar ekspor yang tidak menepati waktu pembayaran. Akhirnya, banyak yang terbentur masalah modal sehingga tidak lagi mampu memproduksi sesuai dengan kualitas ekspor,'' jelasnya. Dia menilai mebel rotan masih diminati oleh konsumen lokal. Target pasarnya adalah rumah tangga. Apalagi harganya 50% lebih murah dibandingkan dengan harga di toko-toko mebel. Bervariasi Setelah penjualannya bagus, Untung tidak hanya mengambil barang dari saudaranya, tetapi juga dari perajin lain sehingga produk yang ditawarkan lebih bervariasi. Bahkan, dia berani mengambil mebel rotan sisa ekspor yang dikembalikan oleh eksportir kepada perajin karena tidak memenuhi ketentuan. ''Kalau beruntung maka pembeli bisa mendapatkan barang berkualitas ekspor tetapi harga murah,'' ujarnya. Produk yang tidak lolos ekspor itu antara lain karena terdapat cacat tetapi tidak kelihatan, misalnya pewarnaan kurang, pengamplasan tidak sempurna, dan lecet selama perjalanan menuju tempat pengiriman. ''Omzet saya setiap bulan lumayan, antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Bahkan kadang-kadang lebih dari itu karena ada yang membeli dalam jumlah banyak,'' tambahnya. Pembelian dalam jumlah banyak biasa dilakukan oleh warga luar kota yang melewati Jalan DI Panjaitan. Mereka memperlambat kendaraannya, kemudian berhenti untuk melihat-lihat. Jika tertarik lalu membeli. Dua kursi rotan dan satu meja dia jual Rp 250 ribu, sketsel atau sekat tiga bidang Rp 350 ribu, dan sebuah kursi santai klasik berbentuk bundar dengan tambahan busa Rp 225 ribu. Kemudian boks bayi berbusa ditawarkan Rp 325 ribu, tempat tidur goyang bayi berbusa Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu, dan sofa berbusa Rp 800 ribu. Harga tersebut masih bisa turun jika pembelian dilakukan dalam jumlah banyak atau bergantung pada kemampuan menawar pembeli. Namun, ia memastikan pembeli tidak akan kecewa atas produk yang ditawarkan karena selain murah mutunya tidak kalah dari mebel yang dijual di toko-toko. (Surya Yuli P-53) |