logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Animator Kota Tegal Membuat Iklan Kampanye Politikus Busuk

"KRITIK itu tidak harus dengan bahasa yang kasar atau sarkasme. Karena itu, melalui animasi semua bisa disampaikan dengan gerak dan bahasa yang halus. Contohnya, kampanye politikus busuk digambarkan dengan orang yang berpakaian rapi, berdasi namun mulutnya berbau dan seterusnya," kata Agus Wijanarko, pimpinan rumah produksi animasi Tetoon, kemarin.

Ungkapan Agus itu disampaikan ketika sedang membikin karya animasi atas pesanan dari sebuah LSM Jakarta yang diketuai Teten Masduki. Karya itu dibuat untuk kepentingan kampanye antipolitikus busuk.

Berbicara tentang model penyampaian kritik, ujar Agus, selama ini orang hanya menggunakan cara-cara demonstratif atau karikatur. Padahal, lanjut dia, dengan mediasi animasi, pesan dan kritik itu bisa terlihat lucu namun sebenarnya menohok orang yang dikritik.

Sabar dan Tekun

Lantas, seperti apa sih proses kreativitas para animator itu dalam menangkap peluang bisnis? Awalnya, rumah produksi yang dirintis 2002 itu hanya untuk menampung bakat dan minat para remaja putus sekolah melalui kerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Tenaga Kerja (Disduknaker) Pemkot Tegal.

Peserta didik kemudian digembleng dengan mendatangkan instruktur animasi dari Jakarta. Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan untuk tingkatan inbetween, kay frame, background, colouring, rendering, hingga editing. "Sekarang kami telah memiliki tenaga ahli dalam bidang animasi dua dimensi (2D). Upaya mendatang beralih ke teknologi 3D sebagai pelengkap rumah animasi yang kami dirikan. Kuncinya adalah sabar dan tekun," ungkapnya.

Dia menegaskan, pembuatan animasi itu berbeda jauh dari orang membuat kartun ataupun karikatur. Sebab, pembuatan animasi itu butuh kesabaran untuk membuat bagaimana antara gambar satu dirangkaikan dengan gambar lain bisa seperti bergerak. Pada umumnya, lanjut dia, kartunis itu mengutamakan emosi untuk menyampaikan kritik. Sementara itu dalam bahasa animasi, rasa egoisme itu harus dihilangkan.

Hasilnya? Lihat saja, setelah satu tahun berjalan, kiprah para animator Tegal itu kini mulai menuai hasil. Agus yang juga ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) eks Karesidenan Pekalongan mengemukakan, pihaknya kini berupaya menangkap peluang bisnis. Bahasa animasi mulai disukai berbagai pihak, khususnya pemasang iklan.

Dia mengakui, setelah menyelesaikan animasi klip lagu anak-anak, kini sedang membuat iklan layanan kampanye antipolitikus busuk. Bahkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga sudah memesan untuk sosialisasi pemilu. "Harganya memang relatif murah dibandingkan dengan rumah produksi animasi Jakarta ataupun Yogyakarta. Untuk kampanye antipolitikus busuk dengan durasi 30 menit, kami masang tarif Rp 85 juta."(Dwi Ariadi-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA