logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 10 Februari 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Warga Demo Tuntut Penambangan Pasir Ditutup

BOROBUDUR-Ratusan warga kemarin memblokade arus di jalan depan Balai Desa Kemiren. Mereka menguasai jalan sepanjang 50 m untuk berunjuk rasa menuntut penambangan Kali Gesik ditutup.

Mereka tak mengizinkan kendaraan lewat. Akibatnya, belasan colt diesel bermuatan penuh pasir dari arah Gunung Merapi antre di sebelah timur lokasi unjuk rasa. Adapun dari arah Salam ada beberapa truk sejenis yang hendak ke kawasan penambangan pasir terhenti di sebelah kanan area.

Warga desa di kaki Gunung Merapi itu juga membuat puluhan poster berisi. Poster itu bertuliskan antara lain "BP3M Jangan Tidur", "Jangan Korbankan Rakyat demi PAD", "Jangan Rusak Alamku", "Tolak Tambang Liar", dan "Di Mana Air Kami Pak Tambang?"

Pengunjuk rasa membakar ban bekas dan sabut kelapa, sambil menunggu Kepala Kantor Satpol PP Bambang Tumidjo SH dan Ketua BP3M Badan Pengendali Penambangan Pasir Merapi (BP3M) Drs Joko Sudibyo MT.

Rapat di aula balai desa dipimpin Kepala Desa Kemiren, Abdullah. Hadir Camat Surumbung Agus Subroto SSos, Kapolsek AKP Purwanto, dan Danramil Kapten Inf Nurudin.

Dia menyatakan keputusannya dalam masalah Kemiren tidak perlu menunggu petunjuk Bupati. Namun dia akan melaporkan keputusan yang muncul akibat unjuk rasa itu ke atasannya.

Abdullah mengakui tak semua pengunjuk rasa adalah warganya. Ada pula warga Desa Sudimoro, Jerukagung, Kamongan, dan desa lain, terutama di arah hilir.

Warga meminta aparat keamanan melindungi warga setelah unjuk rasa. ''Jika ada yang mengancam keselamatan warga, laporkan kepada kami. Polisi akan menindak,'' kata AKP Purwanto, Kapolsek Srumbung. Dia didukung Danramil Kapten Inf Nurudin.

Dalam dialog disepakati truk dari arah Gunung Merapi diberi jalan untuk turun menuju ke arah Salam. Adapun dari arah bawah tetap tidak dibolehkan naik ke penambangan.

Juga disepakati beberapa wakil pengunjuk rasa menyertai aparat keamanan dalam mengambil tindakan di lapangan. Tiba di lokasi ternyata tak ada aktivitas di penambangan Kali Gesik.

Bahkan tak ada satu orang pun di bedeng yang difungsikan sebagai kantor. Begu untuk mengeruk pasir hanya satu unit dan yang tampaknya rusak. Begu lain disembunyikan di tempat yang dianggap aman.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan ratusan warga yang sebelumnya unjuk rasa di depan Balai Desa Kemiren. Mereka berjalan kaki menyusul ke lokasi penambangan Kali Gesik.

Aksi berubah liar. Beberapa pemuda membakar sebuah bedeng yang didirikan sekitar tiga minggu lalu. Mereka juga merusak bedeng lain dan mengobrak-abrik isinya.

Setelah itu massa mencari begu yang disembunyikan. Mereka berhasil menemukan alat berat itu. Disaksikan aparat kepolisian dan Pemerintah Kabupaten Magelang, mereka memaksa seorang operator begu ke penambangan Kali Gesik.

Mereka memerintah operator itu menarik dua unit alat penyaring pasir ke luar kawasan. Mereka kemudian merusak jalan masuk ke penambangan agar tak ada truk satu pun masuk ke lokasi itu. (pr-85g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA