
| Selasa, 10 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
"Adhine Sing Disayang Terus, Kula Pateni"WAJAHNYA menyemburatkan kepolosan, bicaranya lancar seperti tak punya beban. Padahal wanita itu telah membunuh adik iparnya yang baru duduk di kelas satu SD, Slamet Parnoto (7). Kendati demikian, Casmuni alias Cauni (23), warga Desa Kendaldoyong, Kecamatan Petarukan, Pemalang sebagai tersangka pembunuhan mengaku menyesal. "Setelah adik suami saya meninggal, ada perasaan menyesal. Waktu itu saya terus mengucap istighfar," ujar tersangka di sela-sela pemeriksaan aparat Reskrim Polres Pemalang, kemarin. Seperti diberitakan (SM, 9/2), Casmuni nekat membunuh adik iparnya karena jengkel pada suaminya, Warto (23), dan keluarganya. Korban dijemput di sekolahnya, kemudian diajak ke pinggir Sungai Comal, lalu didorong masuk ke dalam sungai yang airnya saat itu sangat deras. Kenapa wanita desa yang lugu itu tega membunuh? Berdasarkan pengakuannya, dia cemburu pada korban. Sebab, sejak pernikahannya dengan Warto empat tahun lalu, suaminya hanya dekat dengan keluarganya, terutama korban. Kendati sudah dikarunia seorang anak, suaminya tak pernah memberi nafkah. Uang hasil kerjanya hanya diberikan ke adik dan keluarganya. "Adhine sing disayang terus nggih kulo pateni. Menawi mateni bojo kulo nggih mboten kiat (Adiknya yang disayang terus ya saya bunuh. Kalau membunuh suami saya, ya saya tidak kuat)," tuturnya polos. Diumpat Mertua Puncak rasa cemburu tersangka terjadi pada Lebaran Haji lalu, ketika suaminya baru pulang dari Jakarta. Pada saat itu, suaminya tidak pulang ke rumah tersangka, tetapi ke rumah orang tuanya. Tersangka hanya diberi susu bayi tiga bungkus dan tiga kilogram beras. Ketika tersangka menyusul Warto ke rumah mertuanya, dia tidak ditemui. Malah dia menerima umpatan dari sang mertua. Intinya dia tidak dianggap sebagai menantu lagi. Karena mendapat perlakuan seperti itu, Casmuni punya niat buruk untuk membunuh Slamet yang sangat disayangi suaminya. Niat itu muncul pada Rabu (4/2), kemudian dia melaksanakan Kamis (5/2). Korban keluar dari sekolahnya setelah dipanggil oleh temannya bahwa tersangka menunggu di belakang sekolah. Setelah keluar, tersangka langsung memboncengkan korban dengan sepeda jengki. Korban tidak curiga apa-apa ketika dibawa ke pinggir sungai. Setelah dilucuti semua pakaian seragam sekolahnya, lalu didorong oleh tersangka ke dalam sungai. Pada saat itu korban tak langsung tenggelam. Akan tetapi, tersangka berusaha menekan kepala korban ke dalam sungai. Setelah tenggelam dan terbawa arus sungai, Casmuni meninggalkan tempat kejadian. Pada saat itu kebetulan ada dua orang yang memergokinya, sehingga kasus itu terbongkar. (Saiful Bachri-17j) |