
| Selasa, 10 Februari 2004 | Budaya |
PernikKuratorOleh: Tubagus P Svarajati OTORITAS seorang kurator sebenarnya mendasarkan diri pada gagasan dan pengetahuan tentang bagaimana ''membuat'' sebuah pameran. Memilih seniman dan karya yang hendak dipamerkan adalah sebagian kecil dari gagasan pameran itu sendiri. Begitulah kata Allison Carroll dari Asosiasi Museum Seni Australia. Namun, tak sesederhana itu sebuah pameran seni rupa bisa diselenggarakan. Ada banyak pertimbangan dan wacana yang harus diperhitungkan. Apalagi ketika proses kuratorial telah melangkah jauh, dari sekadar sebuah sistem menjadi strategi. Maka, kita layak bercermin pada seorang pelukis muda yang hari-hari ini sedang berpameran tunggal di sebuah galeri di Semarang. Ada tanda tanya besar di situ: strategi apakah yang diaplikasikan untuk mengkonstruksi pamerannya menjadi sebuah diskursus yang meneror publik atau art-world? Di sana tidak ada kurator, sebuah keniscayaan dalam wacana seni rupa mutakhir, yang mampu memintal gagasan sang seniman dalam suatu benang merah yang transparan dan memediasi karya seniman dengan publik secara luas. Dan ketika melongok ke ruang pamer, alamak, serta-merta kita terjerumus ke suatu ruang antah-berantah. Betapa sebuah ruang pamer, yang disebut sebagai galeri, terjerembab pada skala terminologi art-shop saja. Sebuah ruang yang tidak mencitrakan konstruksi dan aura kesenirupaan yang serius. Jelas sekali, terlalu banyak pernik yang berebutan mencuri perhatian ketimbang lukisan yang terpajang pada dinding. Belum lagi persoalan teknis memasang lukisan, labelling/caption, sampai membangun suasana ruang dengan alunan musik yang tepat. Bukan itu yang menjadi pokok tulisan ini. Tapi, inilah titik lemah yang harus dicermati: curatorialship. Ketiadaan proses kuratorial adalah biang keladinya, sehingga karya sebaik apa pun, apalagi jika hanya berkesan pas-pasan, tak mampu diperbincangkan serius oleh pelaku dan pemerhati medan sosial seni rupa. Lowongnya kurator juga menyebabkan pemiskinan pada sisi ini: hilangnya kesempatan melejitkan seorang seniman berbakat ke permukaan. Karena seorang kurator yang baik mampu mengkonstruksi dan mewacanakan sang seniman nerikut karyanya untuk dipahami publik seni. Pihak galeri pun mendulang kerugian yang sama: sirnanya sebuah popularitas dan integritas. Begitulah ketika kehadiran seorang kurator dianggap bukan faktor determinan, apalagi dominan. Adalah sebuah sikap yang lugu ketika sang seniman mendaulat seseorang, siapa pun dia, untuk menjadi kurator dadakan. Tentu saja, dengan bersikap sebagai gentleman, seorang Ganug Nugroho Adi akhirnya menampik: ''Sungguh, saya tidak berani!'' Mengharukan. Tidak sekejap seseorang layak ditasbihkan sebagai kurator seni rupa. Ada tuntutan sebuah pemahaman tentang kesenirupaan secara integral. Diperlukan pula keahlian merancang, mempersiapkan, dan menyelenggarakan sebuah pameran yang memadai. Keluasan jejaring diniscayakan untuk memasarkan wacana yang terkonstruksi secara benar. Ada cerita menarik tentang ''kuasa'' seorang kurator. Seorang perupa kontemporer Cina, Song Yonghong, dalam suatu masa terserang rasa frustrasi: gamang hendak melangkah ke mana lagi. Lalu datanglah kurator Li Xianting memberikan nasehat dan ''resep''. Beberapa bulan kemudian, Song menghadap Li sambil membawa karyanya yang baru, yakni sejumlah lukisan yang kini dikenal luas sebagai seri Bath yang spiritualis itu. Kisah di atas patut dicatat begini: seorang kurator yang sekaligus sebagai kritikus seni tidak sekadar piawai menghakimi, namun ia juga sebagai penjaja inspirasi yang andal. Seniman sebagai kreator bukanlah pusat segalanya, Author-God sudah lenyap. Lantas, kita mesti menunggu dengan harap-harap cemas, kurator seperti apa yang akan lahir dan Anda percayai di Semarang?(79) Tubagus P Svarajati, alumnus Workshop Kuratorial Seni Rupa The Japan Foundation Jakarta |