
| Selasa, 10 Februari 2004 | Budaya |
Pameran Kartun Kokkang
Pemilu Itu Ha..Ha..Ha...PEMILU memang tak harus dihadapi dengan kening berkerut. Maka, belajar berdemokrasi lewat kartun pun jadilah. Barangkali itulah yang ada dalam benak 35 kartunis yang mengikuti "Pameran Kartun Pemilu Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu)" di Habibie Center, Jakarta, 4-19 Februari. Sebanyak 150 karya kartun dipajang pada event yang diselenggarakan atas kerja sama kelompok itu dan Habibie Center. Semua bercerita tentang pemilu. Tentu saja, cerita itu merentang dari tingkah polah wakil rakyat, ribut-ribut kotak suara, politik uang, politikus busuk, dan ijazah palsu para caleg. Pendek kata, segala sesuatu tentang pemilu menjadi bulan-bulanan para kartunis dalam karya rupa. Kasus flu burung dan "kolor ijo" pun tak luput dari bidikan mereka. Bedanya, jika dalam berita berbagai peristiwa itu berkesan seram, maka "perubahan bentuk" menjadi karikatur itu membuat tertawa siapa saja yang menyaksikan. Berita-berita seputar persiapan Pemilu 2004 pun menjadi sesuatu yang lucu. Lihat saja kartun karya Asbahar. Dia menggambarkan sebuah tangan yang mencoblos kartu suara. Beda dari kelaziman, kartu itu bukan berisi tanda gambar partai, melainkan gambar uang. Rupanya Asbahar hendak berkata, politik uang telah meracuni demokrasi kita. "Dalam menghadapi pemilu, kita selalu ribut-ribut soal kotak suara. Terus, kotak pemilu yang dulu ke mana? Padahal, masih bisa dipakai kan?" kata Pramono, karikaturis harian Sinar Harapan dalam seminar "Peran Karikatur sebagai Media Kritik Pemilu". Pramono juga mengatakan, karikatur adalah suara rakyat. "Karikatur adalah ungkapan keluh kesah rakyat yang tak tersampaikan, yang dulu dianggap membahayakan, kata pejabat tidak mendidik. Karena itu, seorang kartunis harus independen, tidak berpihak. Ia hanya berpihak pada kebenaran," katanya. Pembicara lain, Itos Boedy Santoso mengungkapkan, keberadaan kartun/karikatur sebagai media kritik masih dianggap momok bagi sebagian pejabat. "Dulu pada masa Orde Baru, izin untuk pameran kartun begitu susah. Harus melalui sensor polisi. Anehnya, yang menyensor justru seorang sersan. Tapi sekarang mungkin nggak kok. Nggak beda maksud saya," seloroh salah satu Ketua Umum Kokkang itu tentang pengalamannya. Pameran dibuka oleh Prof Dr Muladi SH dari Habibie Center. Sebagai penanda pembukaan, mantan menteri kehakiman itu menggoreskan spidol pada sebuah kanvas kosong. Goresan tersebut kemudian diteruskan oleh Djoko Susilo, anggota Kokkang yang juga kartunis Harian Suara Merdeka. Dan, jadilah sebuah gambar utuh tentang pemilu yang terbuka. Dalam sambutannya, Muladi juga menyitir tentang kemerebakan ijazah palsu para caleg. "Justru kasus ini paling banyak terjadi di Jawa Tengah. Kalau ijazahnya saja palsu, calegnya juga palsu dong!," kata dia yang disambut aplaus peserta.
Rencananya setelah pameran, karya kartun tersebut akan dibawa keliling Bandung agar lebih banyak dinikmati masyarakat. (Djoko Susilo-79) |