
| Selasa, 10 Februari 2004 | Budaya |
Mengenang Sesuatu bersama TotoUNTUK kali ketiga Toto, grup band beraliran soft-rock asal Amerika Serikat kembali manggung di Tanah Air. Pada 1992 dan 1996 lalu, kelompok ini pernah menghangatkan pencintanya dengan tembang-tembang yang sangat dikenal di Indonesia. Dan semalam, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Toto menggelar konser ''25th Anniversary World Tour Concert 2004''. Kelompok itu, dengan segala kemampuan dan taji yang dimilikinya, ternyata masih digdaya. Mengandalkan tembang-tembang yang telah menjadi legenda seperti, ''Africa'', ''Rosanna'', ''Pamela'', ''I Won't Hold You Back'', ''Two Heart'', ''I'll Remember'', dan ''Stop Loving You'', grup band yang sangat bersahaja di luar panggung itu memuaskan pengemarnya. Lagu-lagu hits yang mereka bawakan semalam agaknya lagu yang paling ditunggu-tunggu oleh sekitar 5000 penonton yang sebagin besar berusia paruh baya. Konser yang mengusung tema ''Love, Peace & Friendship'' yang digelar Original Production dan Star Mild selaku penyelenggara itu tampaknya meraup sukses. Dengan harga tiket Rp300 ribu (VIP), Rp 225 ribu (kelas I), dan Rp 175 ribu (festival), konser tersebut tetap dipadati penonton. ''Meski promosi kami tidak segencar sewaktu hendak menghadirkan Limp Bizkit (akhirnya gagal), ternyata tiket ludes,'' kata Tommy Pratama dari Original Production. Dan memang, hampir tidak ada tempat yang tersisa di stadiun tertutup yang biasanya digunakan untuk perhelatan olah raga itu. Kesuksesan ini semakin terlihat dengan antusiasme pencintanya ketika mendendangkan tembang-tembang yang telah familiar. Pada tembang ''Africa'' yang dicomot dari album Toto IV (1984) misalnya. penonton serempak ber-medley begitu memasuki bagian chorus: It's gonna take a lot to drag me away from you/There's nothing that a hundred men or more could ever do/I bless the rains down in Africa... Ya, grup yang dibentuk Jeff Porcaro dan David Paich tahun 1976 -saat mereka masih duduk di bangku SMA- ini tampaknya masih melanggengkan sebuah legenda. Toto, sebuah nama yang terispirasi dari sebuah nama suku Indian pedalaman, itu memang tidak diragukan lagi kedahsyatannya. ''Kebetulan nama Toto dalam bahasa latin berarti 'meliputi semua'. Jadi secara kebetulan sesuai dengan misi kami dalam bermusik. Yaitu memainkan semua jenis musik,'' terang Steve Lukather saat jumpa pers, sehari sebelum konser, di Hotel Hilton, Jakarta. Dan lihatlah. Di atas panggung, Steve Lukather (gitar dan vokal), David Paich (Kibor dan vokal), Mike Porcaro (bas), Simon Phillips (drum), dan Bobby Kimball (vokal), begitu fasih memainkan berbagai aliran musik, dari pop, jazz, blues, dan fushion yang dikemas dalam soft rock. Maka, menjadi tak aneh pula jika konser sepanjang dua jam itu, penonton terus bertepuk tangan dan bersorak, juga berdendang, mengikuti para personel Toto melantunkan tembang-tembang mereka. Terlebih penampilan Steve yang sering membanyol lewat guyonan-guyonannya. Ah, malam kemarin memang layak menjadi malam romantis, penuh nostalgia, juga untuk mengenang sesuatu, entah apa, entah siapa.(Benny Benke-79). |