
| Senin, 9 Februari 2004 | Tajuk Rencana |
Memahami Sebuah Gagasan ''Usil''-- Akhir pekan lalu muncul pemikiran sangat menarik untuk kita simak. Cendekiawan yang sering berkata cukup keras dan lugas, Prof Dr Syafii Ma'arif, melontarkan gagasan yang dikatakan sendiri sebagai ''usil''. Tokoh pendidik yang sekarang menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah itu melontarkan pemikiran, jika pemilu mendatang tidak menghasilkan pemimpin nasional yang baik, kita meminjam orang lain untuk memimpin bangsa ini. Pemikiran yang disampaikan kepada wartawan di Jakarta sambil tersenyum lebar itu, pasti membuat banyak orang juga tertawa lebar. Mungkin pula ada yang tersenyum kecut. Atau sebaliknya ada yang menanggapi serius?
-- Orang bisa menganggap enteng, tertawa lebar atau serius menanggapi gagasan ''usil'' cendekiawan yang meraih gelar doktor pada sebuah perguruan tinggi AS itu. Yang pasti, tentu ada yang berpendapat gagasan itu tak masuk akal. Rasanya tidak ada bangsa di dunia ini yang rela dipimpin orang ''pinjaman''. Apalagi bangsa kita. Perjuangan kemerdekaan yang mengorbankan ribuan jiwa pemuda sudah menunjukkan hal itu. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi pemikiran itu? Tidak lebih tepatkah usul ''usil'' itu diterima sebagai sindiran, sebuah sodokan sangat keras terhadap para pemimpin bangsa ini?
-- Sejak era Kebangkitan Bangsa, bangsa ini sudah mempunyai pemimpin-pemimpin dengan visi, pemikiran dan kemampuan luar biasa. Kalau tidak ada, tak mungkin lahir peristiwa 20 Mei 1908 yang menjadi salah satu tonggak dalam sejarah kehidupan bangsa. Lalu disusul dengan peristiwa-peristiwa bersejarah lainnya yang dimotori oleh kader-kader bangsa yang juga luar biasa keberanian dan gagasannya tentang masa depan bangsa. Kita semua mengagumi peran Bung Karno, Bung Hatta dan banyak tokoh senior ataupun pemuda yang bahu-membahu melahirkan negara dan bangsa ini lewat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. -- Lalu apa kekurangan para pemimpin sekarang sehingga muncul gagasan ''usil'' itu? Megawati Soekarnoputri sudah terbukti kemampuannya mempersatukan kader-kader PDI-P dan menang dalam Pemilu 1999. Rasanya kita tak perlu meragukan kemampuan Prof Dr Amien Rais, Ketua Umum PAN, yang kini memimpin MPR. Juga tak perlu ragu terhadap kemampuan Ir Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar yang kini Ketua DPR. Keyakinan sama rasanya layak ditujukan kepada sejumlah pemimpin partai dan tokoh masyarakat yang kini sedang siap-siap memperebutkan kursi presiden lewat Pemilu 2004.
-- Pada waktu reformasi bergulir dan Pak Harto lengser, semua orang menyadari betapa berat dan sulit untuk mengatasi persoalan bangsa. Siapa pun yang memimpin, BJ Habibie, Gus Dur dan kini Megawati, menghadapi persoalan sama. Pemilu 1999 yang diharapkan menjadi tonggak pembaruan, melahirkan yang sebaliknya. Elite politik, yang tokoh-tokoh sangat terpelajar itu, malah tak berhenti cekcok dan eker-ekeran. Kalau toh Presiden Megawati sekarang dinilai kurang berhasil, sebaiknya kita runut ke belakang. Pada waktu itu elite politik lain menyatakan akan membiarkannya dalam ketidakberhasilan. Hal logis meskipun mengingkari demokrasi. Membiarkan berhasil berarti menutup peluang dirinya tampil.
-- Tidak bersedia berkorban dan tidak mendahulukan kepentingan bangsa. Itulah kritik yang paling banyak ditujukan kepada para pemimpin sekarang. Elite politik tidak lagi memiliki sense of crisis. Amien Rais pernah mengutip resep keberhasilan pemimpin Cina dalam membangun negaranya: stop cekcok, bersatu dan bekerja keras. Korsel cepat lepas dari krisis ekonomi, karena para pemimpinnya mendahulukan rekonsiliasi dan kerja keras. Kita semua mendambakan elite politik bangsa menyimak resep itu. Kita berharap Pemilu 2004 menjadi ajang kompetisi politik yang sehat dan jujur untuk melahirkan pemimpin pilihan. Bukan pemimpin ''pinjaman''. |