logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Kegiatan Belajar Lumpuh Total

  • Pemerintah Lambat Respons Gempa Nabire
DI ANTARA RERUNTUHAN: Beberapa anak kecil bermain-main di antara reruntuhan rumah-rumah mereka yang hancur akibat gempa di Nabire. Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter yang menghancurkan Nabire itu hingga kemarin masih disertai gempa susulan. Jumlah korban yang meninggal akibat gempa itu juga terus bertambah. (43)

NABIRE - Proses pembelajaran di 14 sekolah mulai tingkat SD hingga SMA di Nabire, Papua, terpaksa diliburkan. Kegiatan pembelajaran lumpuh total karena bangunan sekolah retak dan runtuh akibat guncangan gempa tektonik yang melanda daerah itu, Selasa (6/2).

Ke-14 sekolah yang kondisinya memprihatinkan itu kini terpaksa meliburkan murid-muridnya. Sebab, hingga kini belum ada tempat atau gedung lain yang bisa dimanfaatkan untuk proses pembelajaran para siswa.

Kondisi itu benar-benar sangat memprihatinkan. Sebab, para siswa terpaksa menanggung risiko dan diliburkan untuk sementara sambil menunggu kebijakan pemerintah daerah setempat untuk mencari gedung bagi mereka.

Salah satu orang tua murid di Nabire, Orgenes Atabu mengatakan, dirinya merasa rugi karena anaknya terpaksa diliburkan akibat bencana alam itu.

Dia sangat berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah mengatasi masalah itu.

Gempa tektonik yang berkekuatan 6,8 SR yang melanda kota Nabire itu merupakan musibah alam terbesar dan kali pertama dialami masyarakat di kota yang dijuluki kota singkong itu.

Selain merusak gedung sekolah, gempa tersebut meluluhlantakkan sejumlah sarana ibadah, baik gereja maupun masjid. Akibatnya, sejumlah umat terpaksa melaksanakan ibadah di tenda-tenda di pinggir jalan.

Gempa Susulan

Pada Minggu (8/2) terjadi dua kali gempa susulan melanda Nabire. Gempa itu terjadi pukul 04:27:38,6 WIB atau pukul 06:27:38,6 WIT dan pukul 15:58:47,4 WIB atau 17:58:47,4 WIT.

Demikian informasi yang diperoleh dari Pusat Gempa Nasional (PGN), Minggu (8/2).

Menurut petugas PGN Muzli, kekuatan gempa susulan kedua lebih besar dibandingkan gempa pertama. Kekuatan gempa pertama 5,3 Skala Richter (SR). Pusat gempa di laut, 187 km arah barat daya Nabire dengan kedalaman 33 km dan berada di koordinat 4,13 LS dan 133,91 BT. Gempa itu dirasakan di Nabire dalam skala 4-5 Modified Mercalli Intensity (MMI) atau skala intensitas gempa.

Sedangkan gempa susulan kedua berkekuatan lebih besar yakni 5,9 SR. Pusat gempa di darat, 71 km arah barat daya Nabire dengan kedalaman 45 km dan berada di koordinat 4,0 LS dan 135,4 BT. Gempa itu dirasakan di Nabire dalam skala 5-6 MMI.

Sementara, petugas PGN Regional Jayapura Margiono mengatakan gempa tersebut merobohkan sejumlah rumah warga. "Menurut informasi, rumah warga yang sebelumnya mau roboh jadi roboh akibat gempa susulan. Selain itu, pagar-pagar rumah juga roboh," katanya.

Tenda Darurat

Menyusul gempa dahsyat yang menimpa Nabire, warga di sana kini membangun tenda-tenda darurat di depan rumah dan lapangan. Mereka khawatir terjadi gempa susulan.

''Warga sekarang membangun tenda-tenda darurat di depan rumahnya atau di lapangan. Mereka takut tinggal di rumah karena khawatir terjadi gempa susulan. Apalagi kemarin juga terjadi gempa cukup kuat,'' kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol Daud Sihombing, Minggu (8/2).

Guna membantu korban gempa, kata Daud, jajaran polsek setempat menerjunkan personelnya untuk menolong korban, mengamankan situasi, dan mencari warga yang hilang. ''Selain itu, kami juga mengirimkan dua dokter dari Jayapura untuk bergabung dengan tim kesehatan pemerintah,'' jelasnya.

Mengenai jumlah korban, ungkap Daud, berdasarkan laporan yang diterimanya, korban tewas 27 orang. Namun, dia mengaku kesulitan memantau perkembangan terakhir di lokasi akibat jalur komunikasi terputus. ''Pak Kapolda kemarin bersama Gubernur berangkat ke sana untuk mendampingi rombongan Menko Kesra meninjau lokasi gempa.î

Sampai sekarang, jumlah korban tewas akibat gempa Nabire sebenarnya masih simpang siur. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Papua, korban tewas 29 orang. Informasi itu disampaikan Kepala Dinas Kesejahteraan Departemen Sosial Papua Melanius Albertus saat dihubungi, kemarin.

''Data terakhir 29 orang meninggal dunia dan sekitar 100 orang mengalami luka berat dan ringan. Namun, data ini belum kami mintakan konfirmasi ulang karena komunikasi masih terputus,'' kata Melanius.

Data yang disampaikan Melanius itu belum klop dengan data yang dikeluarkan berbagai pihak. Versi Kodam Trikora, korban tewas 31 orang, sedangkan korban tewas yang ditulis media-media asing 34 orang.

Pada kesempatan itu, Melanius juga menjelaskan, pihaknya telah memberangkatkan tim ke Nabire. Tim itu membawa sejumlah peralatan untuk menangani para korban, seperti tenda dan lain-lain. Selain itu, pihaknya juga telah mengirimkan 5 ton beras untuk para korban gempa. ''Kemarin telah kami kirimkan dari Jayapura. Namun, saya belum dapat informasi apakah bantuan beras itu sudah sampai lokasi atau belum,î ungkapnya.

Bencana Nasional

Gempa Nabire telah dijadikan sebagai bencana nasional. Kini para korban gempa Nabire sangat memerlukan uluran tangan.

Menko Kesra Jusuf Kalla telah menetapkan gempa di Nabire sebagai bencana nasional. Pemerintah akan segera berupaya memberikan bantuan dan memulihkan situasi di Nabire, termasuk infrastruktur seperti pasokan listrik.

Gempa berkekuatan 6,9 SR pada Jumat (6/2) lalu, selain menewaskan puluhan orang (versi media asing menyebutkan 34 orang) juga mengakibatkan banyak rumah warga roboh. Sejumlah fasilitas umum, termasuk RS Nabire juga rusak.

Puluhan gempa susulan kembali terjadi sampai kemarin. Masyarakat di Nabire menjadi trauma dan waswas. Sebagian besar masyarakat di sana takut tidur di dalam rumah dan memilih mendirikan tenda.

Sementara itu, korban gempa yang kini dirawat di RS Nabire ditangani di bawah tenda-tenda darurat. Sejumlah fasilitas umum, seperti jembatan dan jalan juga rusak. Diperkirakan kerugian akibat gempa itu Rp 360 miliar.

Jaringan listrik PLN pun rusak berat. Begitu juga dengan jaringan telepon. Terhadap bencana yang memilukan itu, PBB telah membuat seruan agar dunia membantu korban gempa Nabire.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Dinas Sosial Papua, Minggu (8/2), bantuan terhadap para korban gempa Nabire belum mencukupi. Mereka sampai sekarang masih perlu uluran tangan dari berbagai pihak.

Kecewa

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi termasuk pihak yang kecewa atas langkah pemerintah dalam menangani berbagai bencana. Seharusnya Presiden Megawati Soekarnoputri berani melakukan terobosan-terobosan.

Hasyim menilai, tindakan dan perhatian pemerintah terhadap bencana-bencana itu masih jauh dari cukup. Seharusnya Depsos bertindak atas nama pemerintah meskipun anggarannya masih terbatas.

"Namun, kalau bencana skala nasional, presiden atas nama pemerintah harus bisa melakukan terobosan-terobosan. Inilah yang mengecewakan masyarakat karena tidak ada tanggapan yang memadai dan konkret dari pemerintah,'' kata Hasyim kepada wartawan di sela-sela acara serah terima bantuan kepada delapan Pimpinan Cabang NU di kantor PWNU Jatim, Jl Raya Darmo, Surabaya, kemarin.

Dia juga meminta agar pemerintah tanggap terhadap urusan-urusan rakyat kecil seperti ini. ìSaya imbau pemerintah agar lebih intensif turun tangan karena ini menyangkut rakyat kecil," pintanya.

Ketua Umum DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid juga mengkritik Presiden Megawati yang selalu terlambat merespons bencana di Tanah Air.

''Presiden kita memang selalu telat merespons tragedi di Tanah Air,'' kata Hidayat di sela-sela acara perkenalan Dewan Pakar DPP PKS di RM Pulau Dua Senayan, Jakarta, kemarin.

Bukan hanya kasus gempa Nabire dan banjir di Jawa Timur yang kurang direspons. Presiden Megawati juga tidak cepat merespons kasus pemulangan TKI dari Malaysia dan bencana alam tanah longsor di Bahorok beberapa waktu lalu.

"Sebagai presiden, memang sah-sah saja untuk tidak menyatakan keprihatinanya secara langsung, tapi cukup mengirim menterinya. Namun, rakyat butuh kepedulian konkret dari pemimpin tertinggi negara. Bentuk yang paling sederhana adalah melalui pernyataan keprihatinan dan simpati yang dialami masyarakat," kata dia.

Untuk melakukan hal itu, kata Hidayat, tidaklah sulit. "Apa susahnya dia sebagai presiden yang memiliki akses luas terhadap media massa membuat pernyataan demikian. Sayang sekali, Mega lagi-lagi kehilangan momentum," ungkapnya.

Hidayat menilai, lambatnya Megawati dalam menyampaikan respons keprihatinan itu karena sejak kecil Mega berada dalam lingkungan istana. ''Dia tidak pernah langsung berhadapan dengan problem-problem rakyat. Masalahnya sekarang, apa rakyat masih ingin dipimpin oleh presiden yang selalu terlambat?'' ujar Hidayat menyindir. (ant,dtc-58,78e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA